Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Opini

Merayakan Kemerdekaan Tapi Tak Merdeka

By osolihin
Kamis, 15 Agustus 2024 2 Min Read
0
Post Views: 489

Gencarnya pemberitaan dan riuhnya jagat medsos sejak kemarin, perihal 18 orang muslimah yang menjadi anggota Pakibraka tak mengenakan kerudung saat pengukuhan oleh presiden. Beredar kabar bahwa mereka diminta melepas kerudungnya. Tentu hal ini menjadi perhatian banyak orang. Ada yang pro dan ada yang kontra. Netizen umumnya mengecam. Mereka yang pro beralasan karena itu tugas negara, peserta sudah menandatangani kesediaan sesuai aturan, bahkan ada netizen yang merasa bangga dengan beranda-andai jika anaknya menjadi anggota Paskibraka meski harus melepas kerudungnya saat tampil acara tersebut.

Saya lebih fokus pada yang membuat aturan. BPIP (Badan Pembinaan Ideoloogi Pancasila), dalam hal ini ketuanya. Dia membantah telah memaksa Paskibraka lepas kerudung dengan alasan peserta sudah teken alias tandatangani surat kesediaan. Pernyataan ini jelas menghina kecerdasan. Menandatangani surat kesediaan itu artinya pemaksaan, apalagi jelas menggunakan materai pula. Kalo memang nggak ada paksaan, ya jangan bikin surat kesediaan, dong. Aneh bin ajaib. Merayakan kemerdekaan tapi anggota Paskribaka ada yang tak bisa merdeka dari menjalankan syariat agamanya.    

Kita lihat saja nanti, apakah saat pelaksanaan upacara kemerdekaan mereka tetap dilarang mengenakan kerudungnya atau akhirnya dibolehkan karena kuatnya tekanan publik. Entah apa alasannya, tetapi yang pasti rezim ini menunjukkan phobia terhadap Islam. Ini baru kerudung saja sudah diminta dilepas, apalagi jika lengkap dengan jilbabnya (baju serupa gamis yang lebar, panjang, dan tebal), sudah pasti ditolak sejak awal. Sebagaimana kenyinyiran mereka yang phobia Islam selama ini. 

Baca juga:  Tetap bertahan di Bogor

Sadarlah, bahwa kebanggaan dan kemuliaan dunia itu semu dan fana. Memaksakan kehendak syahwat kekuasaan pun semu dan fana. Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,

الْعَاقِلُ يُنَافِسُ فِي الْعُلُوِّ الدَّائِمِ الْبَاقِيِّ الَّذِي فِيهِ رِضْوَانَ اللهِ، وَيُرَغِّبُ عَنِ الْعُلُوِّ الفاني الزَّائِلَ الَّذِي يُعْقِبُهُ غَضَبُ اللهِ.

“Orang yang berakal sehat akan berlomba untuk meraih kemuliaan yang kekal dan abadi yang mengandung keridhaan Allah. Dia juga membenci kemuliaan yang fana dan semu yang akan disusul dengan kemurkaan Allah.” (dalam Syarh Hadits Maa Dzi’bani, hlm. 73)

Semoga menjadi bahan muhasabah diri.

Salam, 

O. Solihin


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

dakwahhijabinspirasiislamjilbabkemerdekaankerudungmenulismuslimosolihinpaskibrakapercikanremaja
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Menjual Akhirat

Next

Logika Lo Gila

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,018 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,964 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,526 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,194 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme