Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Percikan

Saling Memahami

By osolihin
Minggu, 30 Oktober 2011 2 Min Read
4
Post Views: 1,514

Tak seorang pun manusia yang sudi menjadi budak orang lain. Seorang pemimpin, meski ia memiliki bawahan, tetapi tetaplah ia tak bisa memiliki dan mengendalikan secara penuh bawahannya. Kumpulan manusia yang menjadi tanggung jawabnya itu sejatinya adalah mitra yang bisa diajak kerjasama untuk mewujudkan berbagai keinginan dan harapan yang telah disepakati bersama. Itu sebabnya pula, seorang bawahan sejatinya jangan merasa dikerdilkan perannya, tapi menjadi pendukung gerak dalam meraih keinginan dan harapan yang disepakati bersama atas keputusan yang ditetapkan atasan. Alangkah indah hubungan seperti ini, karena kita bukan saja bisa bersama tapi sekaligus bersatu.

Kebersamaan dan kesatuan yang terjalin erat di antara kita tentunya dibangun oleh sebuah komitmen. Komitmen untuk salah memahami. Sebab, tanpa saling memahami, kita akan senantiasa salah paham dan bahkan salah persepsi. Tidak seiring sejalan, tidak kompak dan malah bertolak belakang. Masing-masing merasa benar sendiri, masing-masing merasa paling tahu. Jika ini yang terjadi, berarti komunikasi di antara kita telah gagal dan tentu saja tak akan pernah terwujud itikad untuk saling memahami.

Pasangan suami-istri yang tak saling memahami karakter masing-masing, dipastikan rumah tangga mereka hambar dan rawan konflik. Bukan cinta yang kian tumbuh tapi ketidakcocokkan yang makin sering terjadi. Padahal, cinta akan bersemi dan mekar di antara pasangan suami-istri tersebut ketika mereka berusaha untuk mengidentifikasi pribadi masing-masing. Waktu yang dilalui bersama akan mempertemukan mereka lebih sering dan semakin memberi peluang untuk mengungkap dan mengetahui karakter masing-masing.

Baca juga:  Misteri Puisi Cinta Itu…

Cinta akan tumbuh ketika kondisi personalitas dari pasangan suami-istri ini semakin dipahami oleh kedua belah pihak. Sehingga, kekurangan dan kelebihan yang ada di antara mereka akan diketahui dan keduanya akan saling memaklumi kondisi masing-masing. Pada saat itulah, hubungan mereka akan kian hangat, romantis, dan penuh kasih sayang. Mereka akan sama-sama berusaha untuk saling melengkapi dan menguatkan. Saling percaya dan saling peduli.

Begitu pun dengan dua orang sahabat yang saling mencintai tak mungkin bisa terus langgeng ikatan persahabatannya, tanpa itikad baik untuk saling memahami pribadi masing-masing. Memahami pribadi masing-masing berarti harus rela untuk menerima kenyataan bahwa hakikatnya kita bukanlah manusia yang sempurna. Itu sebabnya, jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.

Saling memahami, juga akan menghindarkan kita dari prasangka buruk terhadap sahabat kita. Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta.” (HR Bukhari dan Muslim)

Begitu pula jika kita ingin saling memahami dengan saudara kita, maka tunjukkan bahwa diri kita mencintainya. Agar ia paham, bahwa dirinya kita cintai. Sabda Rasulullah saw., “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia menyatakannya kepadanya.” (HR at-Tirmidzy, Abu Daud dan Bukhari)

Salam,

O. Solihin


Baca juga:  Hidup Santuy Tanpa Banding-Bandingan

Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

cintaistrisuami
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Peluang Penulisan Nonfiksi

Next

Memilih Topik untuk Tulisan

4 Comments
  1. asepsaiba berkata:
    Selasa, 1 November 2011 pukul 06:09

    Ketika seseorang ada ‘di atas’, terkadang ia lupa. pd saat itulah diperlukan saling memahami.

    Pagi2 sdh dpt pencerahan nih….

    salam saya kang,

    Reply
    1. osolihin berkata:
      Selasa, 1 November 2011 pukul 10:41

      Begitulah Kang Asep.
      Nuhun ah atas kunjungannya. 🙂
      Salam,
      OS

      Reply
  2. M.Fauzi Rizal berkata:
    Rabu, 15 Agustus 2012 pukul 21:34

    sayangnya orang itu pengennya dipahami, dan bisa galau kalo nganggep orang lain ngga mau ngerti maunya kita apa. padahal kan harusnya bisa saling memahami satu sama lain dan tidak mengedepankan egoisme

    Reply
    1. osolihin berkata:
      Jumat, 21 September 2012 pukul 10:56

      Ya, umumnya memang begitu Pak 🙂
      Tetapi mudah2an tulisan ini bisa memberikan inspirasi utk menjadi lebih baik. Insya Allah.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,016 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,962 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,522 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,191 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme

Memuat Komentar...