Muslim dan Covid-19

Benar bahwa kita sebagai manusia khawatir kena penyakit. Itu sebabnya, berusaha menjaga kesehatan. Bahkan ketika akhirnya harus sakit pun, berusaha untuk sembuh. Dicari dokter dan obat mujarab. Artinya, kita semua khawatir akan rasa sakit dan kematian. Namun, tetaplah tenang. Nggak usah panik. Sakit itu kehendak Allah Ta’ala. Kematian pun pasti akan menimpa setiap makhluk yang bernyawa. Intinya, nggak usah lebay. Istighfar aja yang banyak dan jangan maksiat.

Pertanyaannya, bagaimana menjadi muslim sejati dan harus bersikap seperti apa dalam kondisi saat ini?

Baik, muslim sejati adalah seorang muslim yang akidahnya Islam dan perilakunya jelas sesuai tuntunan risalah Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajib memiliki syakhsiyah islamiyah (kepribadian Islam), dengan memiliki aqliyah dan nafsiyah yang islami. Ketika menghadapi sebuah problem kehidupan, pastikan menyandarkan patokannya kepada akidah dan syariat Islam. Jadi, intinya kita nurut aja apa kata Islam. Sebab, memang itulah konsekuensinya menjadi muslim, mau diatur dengan ajaran Islam.

Nah, termasuk dalam persoalan ini, pandemi tersebab Covid-19 ini. Harus menyandarkan kepada ajaran Islam. Bukan semata taat prokes alias protokol kesehatan yang dibuat oleh manusia, tetapi yang utama adalah taat akidah dan syariat yang dtetapkan Allah Ta’ala. Jangan sampai taat kepada prokes, tetapi mengabaikan atau bahkan melupakan taat kepada Allah Ta’ala.

Ibadah jangan melemah

Oke, praktiknya begini. Sebagai muslim, mestinya kita tahu soal jaminan atau perlindungan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Misalnya nih ya, jaminan Allah Ta’ala terhadap orang yang melakukan shalat Subuh berjamaah, tentu di masjid, ya.

Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR Muslim no. 657)

Selain shalat Subuh, juga shalat Ashar. Dari Abu Musa, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Shalat shubuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada hari kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut.”

Selain itu, bagi seorang muslim sejati sangat mengupayakan amalan dzikir pagi dan sore. Itu juga merupakan penjagaan dari Allah Ta’ala. Bacaan dzikir ini sudah sangat masyhur dan biasa diamalkan kaum muslimin sejak dulu. Silakan dicari, ya. Di antara doa dan dzikir pagi dan sore ada yang isinya seperti ini:

“Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).”

Kita juga diajarkan doa agar terhindar dari berbagai penyakit (termasuk penyakit buruk dan membahayakan) semisal Covid-19 saat ini. Doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ada dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud:

All?humma inn? a‘?dzu bika minal barashi, wal jun?ni, wal judz?mi, wa sayyi’il asq?mi.

Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.”

Jangan khawatir urusan dunia

So, nggak usah khawatir urusan dunia. Jangan pula cinta dunia dan takut mati (karena Corona). Fokus saja pada amalan utama sebagai muslim. Ibadah jangan melemah, banyak dzikir, doa, dan shalat berjamaah di masjid. Itu sebabnya, masjid mestinya tetap dibuka meski di masa pandemi. Insya Allah orang yang ke masjid itu akan selamat. Jangan takut. Tentu, melaksanakan shalatnya juga benar ya. Misalnya, jangan karena ikut-ikutan protokol kesehatan yang kudu jaga jarak, eh, shaf-nya juga dibikin jaga jarak. Nggak merapatkan shaf. Tapi, anehnya pas udah beres shalat malah saling salaman. Jadi? Begitulah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata dalam Kitab Ighaatsatul Lahfaan, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir.”

Tuh, jadi nggak usah mikirin dunia dan mencintainya secara berlebihan. Nyari obat (vaksin) untuk virus, silakan saja, boleh saja. Namun ingat, vaksin bukan satu-satunya solusi. Sebagai muslim, kita tetap bertawakal kepada Allah, dengan meyakini seyakin-yakinnya bahwa hanya Allah Ta’ala yang memberikan perlindungan bagi kita. Maka, amalkan saja apa yang sudah Allah jamin bagi kita. Shalat berjamaah, dzikir pagi dan sore, membaca al-Quran. Pola hidup bersih dan sehat tentu diamalkan juga, tetapi tawakal lebih utama.

Why? Menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah (dalam kitab Fawaidul Fawaid, hlm. 115), “Rahasia dan inti dari tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala semata. Mengupayakan suatu sebab tidak menodai tawakal selama hati tidak bergantung dan tidak condong kepada sebab tersebut. Karena, meskipun seseorang mengucapkan: “Aku bertawakal kepada Allah,” namun tawakalnya itu tidak ada artinya selama hatinya masih bergantung, condong, dan lebih percaya kepada selain Allah.

So, tetap tawakal, yakni menyandarkan hati hanya kepada Allah Ta’ala. Memang tetap mengupayakan sebab, tapi jangan sampe tuh sebab membuat noda pada tawakal kita.

Misalnya nih, agar terhindar dari Coronavirus, lalu hanya mengandalkan bersih-bersih diri, menjadikan social (termasuk physical distancing) sebagai satu-satunya cara memutus mata rantai penyebaran virus, lockdown jadi semacam keyakinan pasti untuk meyelesaikan wabah ini. Sehingga shalat di masjid shaf-nya jadi lebar-lebar banget padahal shalat jamaah. Nggak gitu. Karena, itu artinya kita masih percaya bahwa sebab tersebut sebagai keyakinan pasti, bukan tawakal kepada Allah, walau bilang: “ini tawakal kepada Allah”. Catet, ya!

Jadi gimana kesimpulannya? Jangan cintai dunia secara berlebihan, jangan cuma takut corona tapi nggak takut sama Allah. Setiap hari yang dipikirkan cuma usaha duniawi semata. Taat prokes tapi nggak taat syariat. Jangan sampe nanti di antara kamu ada yang tetap ngerayain Valentine’s Day dengan prokes ketat (masker dan jaga jarak), tetapi justru tetap campur-baur laki dan perempuan di satu tempat, gaul bebas, dan umbar syahwat. Itu sih namanya tetap maksiat, Bro en Sis! Sebab, cuma takut sama Corona, tapi nggak takut sama Allah Ta’ala yang udah menurunkan syariat Islam. Sadarlah!

Salam,

O. Solihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.