Jangan Kagumi Orang Kafir

Ada sebagian di antara kita yang merasa kagum dengan keberhasilan orang kafir di berbagai bidang kehidupan. Mengagumi pencapaian teknologinya, silau dengan kemajuan ilmu pengetahuannya, merasa takjub dengan megahnya infrastruktur di negara-negara mereka. Sehingga, seringkali hal itu melupakan posisinya sebagai umat terbaik, hanya karena saat ini umat Islam tak sehebat orang-orang kafir. Ada pula yang malah minder, lalu mengutuki kondisinya sebagai bagian dari umat Islam. Ini jelas bahaya.

Kita tidak iri, dan tak perlu iri dengan berbagai prestasi yang mereka raih. Sebab, bukan di situ sejatinya kemenangan mereka. Bisa jadi memang benar kaum muslimin saat ini kalah atau dikalahkan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Mungkin benar adanya bahwa infrastruktur di negeri-negeri muslim kalah jauh ketimbang negeri-negeri yang mayoritas orang-orang kafir. Namun demikian, bukan berarti kita menjatuhkan pilihan untuk mengagumi keberhasilan orang kafir dalam segala bidang kehidupan sembari mengejek diri sendiri dan sesama muslim sebagai pecundang. Tidak demikian tentunya.

Mengapa musti mengejek diri sendiri dan sesama muslim hanya karena kita belum bisa bersaing dengan orang kafir? Bukankah ada perilaku yang lebih bagus semisal mengajak untuk menunjukkan kemuliaan sebagai muslim dibanding orang kafir, atau memotivasi agar kaum muslimin memiliki semangat untuk belajar dan meraih ilmu pengetahuan dan teknologi agar setidaknya bisa bersaing dengan oran kafir dalam beberapa aspek kehidupan. Itu masih mending ketimbang menganggap diri sebagai pecundang.

Ada baiknya kita merujuk pada firman Allah Ta’ala:

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ (196) مَتاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْواهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهادُ (197) لكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها نُزُلاً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرارِ (198)

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (QS Ali Imran [3]: 196-198]

Kemenangan orang-orang kafir hanyalah sementara dan semu pula. Boleh jadi di dunia mereka mendapatkan banyak kesenangan dan bisa jadi sebagian dari kita menganggapnya sebagai sesuatu yang patut dikagumi. Namun, ingatlah bahwa semua yang mereka miliki itu akan lenyap tak berbekas dan mereka akan dilemparkan ke dalam neraka jahannam.

Hal yang perlu mendapat perhatian bagi kita adalah, tak perlu minder sehingga tanpa sadar menjadikan mereka sebagai rujukan karena kita anggap lebih baik. Pemahaman seperti ini berbahaya dan membahayakan. Ibnu Khaldun dalam sebuah karya beliau, Muqaddimah, mengingatkan kita bahwa bangsa yang terjajah cenderung mengikuti budaya penjajahnya. Kita bisa saksikan saat ini, bahwa di negeri kita saja banyak anak muda (termasuk yang muslim), merasa bangga jika berperilaku seperti orang kafir dari negara yang dianggap maju.

Jelas kerugian bagi kita. Itu sebabnya, kita sadar diri dan menyadarkan kaum muslimin lainnya agar jangan terpedaya dan tertipu dengan keberhasilan orang kafir dalam urusan dunia. Jangan pula mengaguminya, karena hal itu bisa menyebabkan jatuh kepada kehinaan dan kebinasaan. Padahal, kita adalah umat terbaik dan mulia di hadapan Allah Ta’ala.

Salam,

O. Solihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.