Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Percikan

Hati yang Hidup, Bukan yang Lowbat!

By osolihin
Jumat, 14 Maret 2025 2 Min Read
0
Post Views: 625

Baik, ini bagian kedua dari tulisan saya sebelumnya (Mantapkan Iman, Kuatkan Hati). Jadi, ini sekadar melanjutkan pembahasan tentang renungan dalam Surah Qaf.

Nah, mungkin ada yang nanya, “Kalau buat bisa dapet manfaat dari al-Quran harus memenuhi semua syarat tadi (yang udah disebutkan di tulisan bagian pertama), terus kenapa di ayat ini Allah pake kata ‘atau’ (أو), bukan ‘dan’ (و)? Kan harusnya digabung aja, biar jelas kalau semuanya penting?”

Nah, ini pertanyaan yang berat, tapi santai aja, kita bahas dengan bahasa yang lebih ringan dan relate sama kehidupan kita.

Jadi begini, Bro en Sis. Nggak semua orang itu punya hati yang auto alias langsung connect kepada kebenaran. Ada yang dari sananya emang udah gampang nyambung, ada juga yang perlu usaha ekstra buat bisa paham.

Misalnya gini, ada orang yang sekali denger ceramah, langsung ngeklik! Hatinya tersentuh, air matanya meleleh, trus langsung berubah jadi lebih baik. Ini tipe hati yang fitrahnya masih bersih, gampang nerima cahaya kebenaran.

Tapi ada juga yang nggak bisa langsung ngerti kalau cuma denger doang. Dia butuh mikir dulu, direnungin, dipahami pelan-pelan baru bisa connect. Nah, tipe ini butuh usaha lebih buat “nyalain” hatinya yang mungkin agak redup.

Itu sebabnya, menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Allah Ta’ala menggunakan kata “atau”, karena kondisi tiap orang beda. Ada yang cukup dengan hatinya aja, ada yang perlu fokus dengerin dulu baru bisa paham.

Baca juga:  "Liberalisme", Kultwit saya pagi ini di Twitter

Perlu kamu tahu bahwa buat orang yang hatinya udah nyala, ayat-ayat al-Quran tuh ibarat (kalo boleh mengibaratkan) lampu LED super terang yang nambahin cahaya di jalan yang udah jelas. Itu sebabnya, dalam QS Saba’ [34]: ayat 6, Allah berfirman, “Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa (wahyu) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu itulah yang benar.”

Artinya, orang yang punya ilmu dan hatinya udah on fire bakal langsung sadar bahwa al-Quran itu beneran petunjuk dari Allah. Nggak pake debat, nggak pake ragu.

Coba deh liat sahabat Nabi, kayak Abu Bakar Ash-Shiddiq. Begitu Nabi Muhammad SAW cerita tentang Isra’ Mi’raj, beliau langsung percaya 100%, tanpa ragu, tanpa banyak nanya. Kenapa? Karena hatinya udah hidup dan penuh cahaya iman!

Oya, tapi gimana kalau hati kita masih sering lowbat? Ya jangan diem aja! Harus sering-sering ngecas dengan al-Quraan. Entah itu lewat baca, dengerin, atau merenungi maknanya.

Nah, kalo hatimu masih kurang peka, cobain dengerin murottal tiap hari, biar nggak cuma dengerin playlist galau doang. Boleh banget kalo kamu ikut kajian, biar ada yang bantu jelasin ayat-ayat Allah dengan lebih mantap. Sangat dianjurkan juga baca tafsir, biar makin paham isi al-Quran, bukan cuma sekadar baca doang. Semoga dengan begitu, lama-lama hatimu bakal lebih sensitif sama kebenaran, kayak HP yang tadinya lowbat akhirnya fully charged!

Baca juga:  Kepemimpinan ‘Kritis’

Jadi intinya, kalo hati kita masih belum connect, setidaknya kita bisa mulai dengan mendengar dan merenungkan ayat-ayat-Nya. Karena seiring waktu, hati yang dulunya redup bisa makin terang. Tentu, asal kita mau usaha buat merengkuh cahaya al-Quran! Bisa ya. Semangat!

Salam,
O. Solihin


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

al-Quranberpikirdakwahhatiimanislammuslimosolihinperbaikan diriqalburemaja
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Mantapkan Iman, Yakinkan Hati

Next

Cahaya Berlapis Cahaya

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,053 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,029 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,969 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,533 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,200 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme