Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Percikan

Mantapkan Iman, Yakinkan Hati

By osolihin
Kamis, 13 Maret 2025 3 Min Read
0
Post Views: 700

Seperti biasanya, saya mengisi taklim untuk santri Pesantren Media selama Ramadhan, dua kali dalam seminggu. Hari Senin dan hari Kamis. Kali ini, saya ingin berbagi sedikit tentang pembahasan di kitab Fawaidul Fawaid, temanya, “Beberapa Perenungan dalam Surah Qaf”. Nah, karena cukup panjang, saya akan bagi ke beberapa tulisan pendek. Semoga ada manfaatnya. Tulisan saya sekadar ‘meramu’ apa yang sudah dituliskan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya tersebut, dengan bahasa yang saya harap bisa mudah diterima anak muda.

Allah Ta’la berfirman, “Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS Qaf [50]:37)

Oya, al-Quran itu ibarat pesan suara dari Allah langsung ke kita, cuma bedanya bukan lewat WhatsApp, tapi lewat lisan Rasulullah. Jadi, kalo mau dapet manfaatnya, ya harus fokus dong! Gini aja sih, ibarat kalo kamu lagi denger curhat sahabat, tapi sambil scroll TikTok. Bisa-bisa salah paham, kan? Nah, begitu juga dengan al-Quran. Khawatir kamu bisa salah paham nantinya, kalo baca al-Quran tapi nggak fokus.

Menurut ayat di atas, ada tiga hal penting biar kita bisa bener-bener nyambung sama pesan Allah, sehingga ada manfaat yang bisa diambil dari al-Quran. Pertama, sumbernya jelas, yani al-Quran, kalam Allah langsung, nggak ada yang lebih valid dari ini. Kedua, penerimanya harus siap. Hati kita kudu hidup, jangan sampai udah keras kayak batu kali. Ketiga, jangan ada penghalang. Yah, kudu fokus! Jangan sambil mantengin story IG orang yang jadi inceran atau overthinking tugas yang belum kelar.

Baca juga:  Belajar, Mengajar, dan Menuliskannya

Oya, perlu kita ketahui bahwa untuk menerima pengaruh dari al-Quran, kondisi hati kudu hidup, bukan hati yang dead inside. Allah Ta’ala menyampakan, bahwa yang bisa dapetin manfaat dari al-Quran adalah mereka yang punya hati. Maksudnya? Hati yang masih bisa connect sama kebenaran. Gampang nyambungnya. Disentuh dikit, bergetar. Didekatkan dengan al-Quran sinyalnya langsung nyangkut kuat.

Sebagaimana firman-Nya, “Agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (QS Yasin [36]: 69-70)

Nah, “orang yang hidup” di sini bukan sekadar yang napasnya masih jalan, tapi yang hatinya masih bisa ngerasain kebenaran. Kamu pasti pernah kan ketemu orang yang dikasih nasihat malah ketawa-tawa atau sibuk main HP? Nah, itu contoh hati yang udah low battery bahkan mungkin udah shutdown. Rugi dan bahaya.

Jadi, emang kudu didengerin, jangan cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan, atau lebih parah malah memantul sempurna semua nasihat yang diberikan. Di ayat ini, Allah Ta’ala juga menyampaikan soal “menggunakan pendengarannya”. Maksudnya? Ya dengerin beneran, bukan sekadar numpang lewat. Paham, ya.

Jadi, membaca atau mendengarkan bacaan al-Quran harus fokus. Jangan malah dengerin murottal sambil nge-game. Selain nggak ada adabnya, juga pasti nggak fokus deger, karena fokusnya ngejar skor. Contoh lain, shalat tapi pas imam baca ayat panjang, pikiran udah kemana-mana, mikirin “Abis ini makan apa, ya?”

Baca juga:  Sadar Politik

So, kudu bener-bener diperhatiin bahwa ketika kita dengerin ayat al-Quran kudu dengan hati yang siap, sambil direnungi, “Ini Allah lagi ngajak ngobrol sama aku, nih.”

Oya, di bagian akhir ayat surah Qaf di awal, Allah Ta’ala menyampaikan “sedang dia menyaksikannya.” Ini penting banget! Maksudnya, kita harus hadir dengan hati yang sadar. Jangan pas denger ayat al-Quran malah mode AFK (Away From Keyboard), alias badan ada, tapi pikiran nge-lag entah ke mana.

Menurut Ibnu Qutaibah, kalo kita dengerin al-Quran tapi nggak serius, nggak nyimak, dan nggak paham, ya udah, efeknya nihil. Sama kayak denger nasihat ortu tanpa ngerti isinya karena pikiranmu ke mana-mana, hasilnya ya nol potol alias zonk!

Kesimpulannya? Kalo kamu mau bener-bener connect sama al-Quran dan dapet manfaatnya, pastikan tiga hal ini: Pertama, hatinya hidup. Itu artinya jangan tumpul, tetap terbuka buat kebenaran. Auto respon terhadap kebenaran. Kedua, pendengarannya fokus. Itu artinya, dengerin baik-baik, jangan asal lalu. Ketiga, hadir sepenuhnya. Betul. Jangan setengah hati, apalagi setengah sadar. Rugi.

Jadi, jangan sampe kita jadi orang yang “ada, tapi tiada” pas berhadapan sama ayat-ayat Allah. Yuk, mulai biasain fokus tiap kali baca atau dengerin al-Quran. Sebab kalo nggak, kita bisa aja jadi generasi yang cuek sama pesan Allah Ta’ala, dan itu, Bro en Sis, bahaya banget!

Baca juga:  "Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?"

Salam,
O. Solihin


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

dakwahhatiimanislammuslimosolihinpercikanquranremaja
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Life Hack dari Surah al-Fatihah

Next

Hati yang Hidup, Bukan yang Lowbat!

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,018 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,964 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,526 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,194 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme