Al-Imam Abu Hatim Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Semua teman duduk yang seseorang tidak dapat mengambil manfaat berupa kebaikan darinya, maka duduk berdekatan dengan anjing lebih baik dibandingkan bergaul dengannya, dan siapa yang suka berteman dengan orang yang buruk perbuatannya maka dia tidak akan selamat, sebagaimana siapa yang suka masuk ke tempat-tempat perbuatan yang buruk maka dia akan dicurigai atau dituduh ikut melakukannya.” (dalam Raudhatul Uqala’, hlm. 103)
Kalimatnya pedas, tapi bener. Dan, sangat relevan. Kalo duduk dekat anjing saja—yang jelas-jelas najis—masih dianggap lebih aman daripada duduk bareng manusia yang hobinya menyeret ke arah dosa. Kenapa? Karena anjing nggak ngajak kamu ninggalin shalat. Nggak ngajak ghibah. Nggak bakalan ngajak ngeremehin dosa. Teman yang buruk? Dia mungkin dan bisa melakukan semua itu.
Oya, teman yang buruk itu nggak selalu ajakannya yang frontal. Jarang ada yang langsung bilang, “Ayo kita jadi rusak.” Biasanya halus. Dimulai dari candaan. Dari obrolan receh. Dari kalimat, “Santai aja, nggak usah lebay.” Dari kalimat pamungkas yang mematikan iman: “Semua orang juga gini.” Waspada!
Lalu, tanpa sadar, standar dosa kita bergeser. Dari yang dulu kita takuti, sekarang kita anggap biasa. Dari yang dulu kita hindari, sekarang kita bela. Dari yang dulu bikin hati bergetar, sekarang cuma lewat.
Lebih parah lagi, teman buruk itu bukan cuma merusak dari dalam, tapi juga dari luar. Kata Imam Ibnu Hibban, orang yang sering masuk ke tempat maksiat akan dicurigai. Mau sebersih apa niatmu, kalo kamu sering terlihat di lingkaran yang kotor, nama baikmu ikut kotor. Islam itu bukan cuma soal “aku merasa nggak melakukan”, tapi juga soal zhahir—apa yang tampak dan ke mana kakimu melangkah.
Oya, dalam Islam teman itu diibaratkan seperti parfum. Kalo wanginya bagus, kamu ikut harum. Kalo baunya busuk, kamu ikut kena. Nggak ada istilah netral. Duduk bareng orang shalih, iman ketularan naik. Duduk bareng orang yang lalai, iman ikut ketularan turun.
Kalo punya teman yang buruk, mungkin sudah waktunya mundur pelan-pelan. Bukan sok suci. Bukan merasa paling benar. Tapi karena iman itu mahal, dan hati itu rapuh. Nggak semua lingkungan cocok untuk jiwa yang ingin selamat. Gimana kalo niatnya mau nasihatin? Itu bagus, tapi kamu kudu siap dan waspada. Jangan kebawa jadi rusak.
Itu sebabnya, pilih teman yang kalo kamu lupa, dia mengingatkan. Kalo kamu jatuh, dia mengangkat. Kalo kamu futur, dia mengajak bangkit. Bukan yang tertawa saat kamu salah, lalu menghilang saat kamu menyesal. Catet, ya!
Perlu diingat bahwa teman bukan cuma menemani di dunia. Tapi bisa jadi penentu: kamu berjalan ke surga, atau terseret ke arah sebaliknya. Ya, berteman itu pilihan. Tapi menanggung akibatnya, itu kepastian. Jadi, waspadalah! [OS]