Pintu Masuknya Ilmu

Percikan112 Dilihat

Kata Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah, “Ilmu (agama) masuk kepada seorang hamba melalui tiga pintu: Pendengarannya, penglihatannya, hatinya. Jika Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki hidayah bagi seorang hamba maka Allah akan membukakan hati hamba tersebut, pendengarannya, juga penglihatannya. Jika Allah menghendaki kesesatan baginya maka Allah akan mentulikannya, membutakannya, serta membisukannya.” (dalam Syifaul Alil, jilid 1, hlm. 96)

Problemnya di zaman sekarang, banyak dari kita rajin membuka telinga, rajin membuka mata, tapi lupa membuka hati. Kajian diputar sambil rebahan, ayat-ayat al-Quran dibaca sambil mikir notifikasi, nasihat didengar sambil nunggu iklan bisa di-skip. Ilmu pun datang, ngetuk pelan, lalu pergi lagi karena tak ada yang menyambut.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan sesuatu yang dalam tapi sederhana, yakni kalo Allah ta’ala menghendaki hidayah, Dia bukakan ketiga pintu itu sekaligus. Hati jadi peka, telinga jadi sensitif, mata jadi jernih. Bukan cuma dengar, tapi paham. Bukan cuma lihat, tapi tersentuh. Bukan cuma tahu, tapi mau berubah. Ilmu yang tadinya cuma lewat, tiba-tiba terekam dan terpatri di dalam diri.

Sebaliknya, ketika Allah menghendaki kesesatan—na’udzubillah—yang ditutup bukan cuma hati, tapi juga telinga dan mata. Orangnya tetap hidup, tetap online, tetap update tren. Tapi nasihat lewat seperti angin, ayat-ayat al-Quran terasa asing, kebaikan tampak membosankan. Hatinya mute, matanya blur, telinganya auto-skip. Semua ada, tapi nggak berfungsi.

Baca juga:  Mikirin Cowok?

Kadang kita heran, “Kok dia makin rajin kajian tapi kelakuannya begitu?” Atau, “Kok aku sudah baca banyak, dengar banyak, tapi nggak berubah-ubah?” Mungkin bukan kurang konten, tapi bisa jadi terhalang hidayah dari Allah Ta’ala. Karena hidayah bukan soal kuota, tapi soal kehendak-Nya. Dan kehendak Allah sering kali datang kepada hati yang lembut, bukan yang merasa paling tahu.

Maka doa kita seharusnya bukan cuma, “Ya Allah, tambahkan ilmuku,” tapi juga, “Ya Allah, bukakan hatiku.” Karena ilmu tanpa hati itu seperti hujan di atas jas hujan: deras, tapi tak membasahi. Dan hidayah, bukan soal seberapa sering kita mendengar dan melihat—melainkan seberapa jujur kita mau membuka diri.

Jadi, sebelum menyalahkan kondisi kehidupan yang berisik atau zaman yang rusak, coba cek dulu: pintu hatimu masih kebuka, atau sudah dikunci dari dalam? [OS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses