Lihatlah Keinginanmu

Percikan45 Dilihat

Ada nasihat pendek dari seorang ulama salaf, Malik bin Dinar rahimahullah, yang kalo direnungkan terasa seperti cermin untuk hati kita. Beliau berkata, “Sesungguhnya, hati orang-orang baik akan dipenuhi dengan amalan kebaikan. Sementara itu, hati orang-orang yang banyak berbuat dosa akan dipenuhi dengan amalan kejelekan. Allah melihat segala keinginan kalian. Itu sebabnya, periksalah keinginan kalian–semoga Allah merahmati kalian.” (dalam Shifatu Shafwah, jilid 3, hlm. 202)

Kalimatnya sederhana. Tapi kalo dipikir dalam-dalam, ini bukan sekadar soal apa yang kita lakukan. Ini soal apa yang sebenarnya kita inginkan. Why? Karena sebelum tangan bergerak, sebelum kaki melangkah, sebelum jari mengetik status di media sosial—semuanya bermula dari keinginan di dalam hati.

Dan yang lebih serius lagi: Allah Ta’ala nggak hanya melihat perbuatan kita. Allah Ta’ala juga melihat apa yang kita inginkan. Itu sebabnya, ngeri banget kalo yang sering kita klik adalah hal-hal yang buruk, lama-lama algoritma hati juga berubah. Timeline batin kita penuh dengan hal yang sama: keinginan yang makin liar, rasa ingin tahu yang makin jauh dari kebaikan, dan dorongan untuk mencoba yang dilarang.

Coba bayangin deh, kalo hati kita seperti timeline media sosial. Jika yang sering kita cari adalah kajian, nasihat, atau hal-hal baik, lama-lama timeline kita juga penuh dengan hal yang menenangkan. Kontennya bikin kita ingat Allah, ingat akhirat, ingat untuk memperbaiki diri.

Baca juga:  Kenali, Jauhi, Selamatkan Diri

Apa yang kita inginkan hari ini, pelan-pelan akan menjadi kebiasaan besok. Dan kebiasaan itu lama-lama berubah menjadi karakter. Salah satu fenomena aneh di zaman sekarang adalah ketika dosa bukan lagi sesuatu yang disembunyikan, tapi malah dibanggakan.

Ada influencer yang bercerita dengan santai tentang masa lalu yang penuh maksiat, lalu menertawakannya seolah itu prestasi. Ada yang masih terang-terangan mempromosikan gaya hidup bebas, pacaran tanpa batas, bahkan perilaku bejat macam homoskesual, atau pergaulan yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Lebih aneh lagi, ada yang menjadikan semua itu sebagai identitas. Bahkan ada yang bangga dengan penyimpangan, lalu menyuarakannya seolah itu sesuatu yang harus dirayakan.

Padahal dosa yang dipamerkan itu bukan sekadar cerita. Ia bisa jadi pintu yang membuat orang lain ikut tergoda. Gimana nggak kalo satu orang memamerkan keburukan, lalu ribuan orang menonton dan merasa itu “normal”. Dari situlah dosa menyebar seperti virus. Malik bin Dinar seperti ingin mengingatkan kita: sebelum bicara tentang perbuatan, lihat dulu bibitnya.

Ya, kalo hati kita sering ingin melihat yang haram, lama-lama mata akan mencari-cari. Kalo hati kita suka membayangkan hubungan yang nggak halal, lama-lama langkah akan mendekat ke sana. Kalo hati kita menikmati dosa, lama-lama dosa itu terasa biasa.

Sebaliknya, kalo hati kita mulai mencintai kebaikan, semuanya juga berubah. Kita jadi ingin mendengar nasihat. Kita ingin memperbaiki salat. Kita ingin menjaga pandangan. Kita ingin hidup yang lebih bersih.

Baca juga:  Belajar, Mengajar, dan Menuliskannya

Oya, semua bermula dari apa yang kita inginkan. Itu sebabnya, periksa hati sebelum terlambat, apalagi jika berkarat. Kadang kita terlalu sibuk memperbaiki tampilan luar: foto profil rapi, feed keren, caption bijak. Tapi jarang benar-benar duduk sebentar dan bertanya ke dalam diri, “Apa sebenarnya yang aku inginkan?”

Apakah hati kita ingin dekat dengan Allah? Atau sebenarnya kita lebih ingin bebas melakukan apa saja tanpa batas? Apakah kita ingin berubah jadi lebih baik? Atau kita hanya ingin terlihat baik di depan orang?

Pertanyaan ini mungkin sederhana, tapi jawabannya bisa menentukan arah hidup kita. Orang yang hatinya dipenuhi keinginan baik akan mencari jalan menuju kebaikan. Ia mungkin nggak sempurna, mungkin masih jatuh bangun. Tapi arah hatinya jelas.

Ia malu dengan dosa. Ia ingin berubah. Ia ingin mendekat kepada Allah. Sebaliknya, ketika hati sudah penuh dengan keinginan buruk, dosa terasa ringan. Bahkan kadang dibela, dipromosikan, dan dijadikan gaya hidup.

Fix, di sinilah nasihat Malik bin Dinar rahimahullah terasa sangat penting, yakni, periksalah keinginan kalian. Mengapa? Karena yang menentukan masa depan kita bukan hanya apa yang kita lakukan hari ini, tapi apa yang diam-diam kita inginkan di dalam hati. Dan ingat: manusia mungkin hanya melihat perbuatan kita. Tapi Allah Ta’ala melihat sesuatu yang jauh lebih dalam—keinginan kita. [OS]

Baca juga:  Manusia Saling Membutuhkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses