Diam, Bicara, dan Setan

Percikan75 Dilihat


Kalo kamu sering membaca kisah ulama, atau mengoleksi kata-kata para ulama, insya Allah akan banyak ilmu didapat. Inspirasi menarik yang bisa diambil hikmahnya. Nah, ada satu kalimat yang rasanya makin relevan di zaman notifikasi, kolom komentar, dan story 24 jam. Abu ‘Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi rahimahullah berkata, “Orang yang diam dari menyampaikan kebenaran (adalah) setan yang bisu, dan orang yang berbicara (menyeru) kepada kebathilan (adalah) setan yang berbicara.” (Sumber: Dinukil oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim; Ibnu Taimiyyah juga menyebutnya dalam Majmu’ al-Fatawa; Ibnu Qoyyim al-Jauziah juga menukilnya)

Kalimatnya singkat. Tapi efeknya nyelekit. Seperti ditegur tanpa diajak duduk dulu. Ya, di zaman sekarang, masalah kita sering bukan cuma soal benar atau salah, tapi soal diam atau ngomong, dan ngomongnya ke mana. Kadang kita tahu yang benar, tapi memilih diam demi aman. Kadang kita rajin bicara, tapi yang disuarakan justru salah—bahkan dibungkus seolah-olah paling benar.

Eh, apa yang disebut “setan bisu”? Seram juga ya. Bukan karena dia jahat aktif, tapi karena dia pasif saat kebenaran butuh pembela. Contohnya dekat banget: lihat teman dibully di grup, tapi kita cuma baca, senyum kecut, lalu mute. Atau tahu info yang beredar itu hoaks, tapi mikir, “Ah, nanti juga reda sendiri”. Padahal satu klarifikasi kecil bisa menyelamatkan banyak pikiran.

Diam memang nggak selalu salah. Ada diam yang bijak, ada diam yang emas. Tapi ada juga diam yang pengecut. Diam yang lahir bukan dari hikmah, tapi dari takut dicap ribet, takut nggak disukai, takut kehilangan posisi. Jadi, diam bukan lagi netral—ia ikut berkontribusi pada kebatilan. Bahaya banget.

Bagaimana dengan istilah “setan yang berbicara”? Ini tipe yang jari-jarinya lincah, mulutnya aktif, tapi arah bicaranya salah. Nyebar fitnah dengan dalih “katanya”. Mengolok-olok orang dengan label “bercanda”. Membela yang salah karena satu geng, satu kepentingan, atau satu komunitas.

Contohnya? Menormalisasi maksiat di konten: “Santai aja, semua orang juga gitu”. Atau membenarkan yang jelas keliru dengan kalimat pamungkas, “Ah, yang penting bahagia.” Artinya, bicara bukan lagi ibadah, tapi senjata yang melukai.

Islam nggak menyuruh kita jadi manusia yang cerewet, tapi juga nggak merestui kita jadi penonton pasif. Lisan (dan jempol) itu amanah. Kalo dipakai untuk membela yang haq, ia bisa jadi jalan pahala. Kalo dipakai untuk membela yang batil, ia bisa jadi pintu dosa. Kalo nggak dipakai sama sekali saat kebenaran butuh suara, ia tetap akan dimintai pertanggungjawaban.

Menjadi muslim di zaman kiwari berarti belajar berani dan bijak sekaligus. Berani mengatakan yang benar, walau pelan dan sopan. Bijak menahan bicara, saat emosi ingin menguasai. Kita belajar bicara karena Allah Ta’ala, bukan karena ego. Kita memilih diam karena hikmah, bukan karena takut.

Maka sebelum diam, tanyakan pada diri: “Apakah diamku ini menyelamatkan, atau justru membiarkan kebatilan merajalela?” Sebelum bicara, tanyakan lagi: “Apakah ucapanku ini mendekatkan pada kebenaran, atau cuma menambah keributan?”

Mengapa harus demikian? Sebab di dunia yang sesak dengan kebatilan dan sepi dari kebenaran, Allah Ta’ala nggak mencari siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling jujur dan bertanggung jawab dengan lisannya. Itu sebabnya, jangan salah pilih mode sesuai yang dijelaskan dalam perkataan Abu ‘Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi rahimahullah. [OS]

Baca juga:  Secuil Surat untuk Aktivis Dakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses