Allah Ta’ala berfirman:
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS az-Zumar [39]: 22)
Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata, “Seorang hamba tidaklah dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras. Tidaklah Allâh Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka.” (dalam Ma’âlimut-Tanzîl, juz VII, hlm. 115)
Tanda-tanda hati yang keras: termasuk malas melakukan kebaikan/ketaatan, meremehkan peringatan, kurang peka terhadap al-Quran, dan sulit terenyuh saat diajak bertaubat. Hati keras juga mirip batu yang lebih keras, meskipun batu bisa retak oleh air hujan.
Lalu, apa penyebab hati bisa menjadi keras? Bisa disebabkan oleh dosa-dosa berulang, pergaulan buruk, kesombongan, dan terlalu banyak bicara tanpa zikir kepada Allah.
Dari Abdullah bin Dinar menuturkan bahwa sahabat Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian banyak bicara tanpa ada berdzikir kepada Allah (menyebut nama Allah), karena banyak bicara tanpa ada berdzikir kepada Allah (menyebut nama Allah) akan membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi nomor: 2335 dan al-Mundziri, dengan sanad yang hasan)
Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita dengan ketaatan dan semangat dalam beribadah kepada-Nya. [OS]