Kita sering bangga kalo dibilang “cerdas”. Nilai rapor aman. IPK stabil. Bisa debat panjang soal ini-itu. Tapi ada satu tamparan halus dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah yang bikin kita mikir ulang definisi “berakal”.
Beliau mengatakan, “Orang yang berakal bukanlah orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan. Tiada lain orang yang berakal adalah seseorang yang apabila melihat kebaikan, ia pun mengikutinya. Dan apabila melihat keburukan, ia pun menjauhinya.” [dalam Hilyatul Auliya karya Abu Nuaim, jilid 8, hlm. 339; dan Syuabul Iman karya al-Baihaqi, no. 4664]
Jadi ternyata, tahu doang belum cukup. Google juga tahu banyak hal. Chatbot juga bisa jelasin panjang lebar. Tapi yang bikin manusia “berakal” bukan database di kepala—melainkan keputusan di hati dan pikiran: mau ngapain, mau melangkah ke mana?
Coba jujur pada diri sendiri. Kita semua tahu kalo salat tepat waktu itu baik. Kita tahu menunda-nunda itu buruk. Kita udah tahu ghibah itu dosa. Kita tahu scroll berjam-jam itu bikin waktu kebakar tanpa sadar. Masalahnya bukan di “nggak tahu”. Masalahnya di “nggak mau”.
Alarm subuh bunyi. Akal bilang, “Bangun, ini kesempatan pahala.” Nafsu bilang, “Lima menit lagi nggak apa-apa.” Dan seringnya kita lebih patuh pada nafsu. Padahal, jika mengikuti pendapat Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, dalam konteks ini, orang berakal itu bukan yang bisa menjelaskan keutamaan tahajud panjang lebar, tapi yang benar-benar bangun meski berat. Bukan yang bisa ceramah soal bahaya zina, tapi yang menundukkan pandangan ketika lewat konten nggak beres. Bukan yang tahu pentingnya jujur, tapi yang tetap jujur meski nilainya jadi turun.
Di era sekarang, informasi bertebaran. Video motivasi, kajian singkat, quotes Islami, podcast self-improvement—semua ada. Timeline kita penuh “kebaikan”. Tapi apakah semua itu mengubah arah hidup kita?
Misalnya, kita tahu pentingnya menjaga lisan. Tapi masih ikut-ikutan komentar pedas di kolom medsos. Kita tahu riba itu haram, tapi tetap santai dengan sistem yang jelas-jelas bermasalah tanpa ada usaha mencari solusi. Kita tahu aurat wajib ditutup, tapi lebih takut dibilang “nggak gaul” daripada takut pada Allah Ta’ala. Di sini terlihat bedanya: orang pintar bisa menjelaskan, orang berakal memilih dan bertindak.
Jadi, mengikuti kebaikan kadang bikin kita terlihat aneh. Ketika teman-teman nongkrong sampai larut dan kita pamit duluan karena mau subuh berjamaah, kita mungkin dibilang sok alim. Ketika kita menolak ajakan curang, kita bisa dibilang nggak solid. Tapi justru di situlah akal diuji. Sebab, akal dalam Islam bukan cuma fungsi logika. Ia terhubung dengan iman. Ia sadar bahwa hidup bukan cuma tentang hari ini, tapi juga tentang akhirat. Ia paham bahwa senang sesaat bisa jadi rugi selamanya.
Orang berakal tahu bahwa kebaikan kadang terasa berat di awal, tapi manis di akhir. Dan keburukan sering terasa manis di awal, tapi pahit di belakang.
Jadi, kita termasuk yang mana? Setiap hari kita melihat dua jalan. Antara konten baik atau konten sampah. Antara obrolan bermanfaat atau gosip. Antara waktu produktif atau rebahan tanpa batas. Antara shalat tepat waktu atau “nanti dulu”. Setiap pilihan itu adalah cermin: seberapa berakal kita sebenarnya?
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita bukan cuma generasi yang melek informasi, tapi generasi yang berani mengikuti kebaikan dan menjauhi keburukan. Sebab, ukuran akal bukan seberapa banyak yang kita tahu—tapi seberapa konsisten kita melangkah menuju yang diridhai-Nya. [OS]