Takut Miskin, Lalu Salah Jalan?

Percikan74 Dilihat

Coba jujur. Berapa banyak orang yang terjerumus karena terlalu takut miskin? Takut nggak punya uang, akhirnya tergoda pinjaman online berbunga mencekik. Awalnya cuma “buat nutup kebutuhan”. Lama-lama gali lubang tutup lubang, stres sendiri, ibadah berantakan.

Takut ketinggalan tren, akhirnya nekat masuk trading atau investasi nggak jelas. Katanya “cepat kaya”, tapi ilmunya nol. Modalnya cuma FOMO dan testimoni yang belum tentu nyata. Ujung-ujungnya bukan untung, tapi buntung.

Takut hidup sederhana, akhirnya memaksakan gaya hidup di luar kemampuan. Paylater numpuk, cicilan panjang, tidur nggak tenang. Semua demi terlihat “baik-baik saja”. Padahal, kefakiran itu ujian. Tapi dosa karena panik terhadap kefakiran bisa jadi bencana.

Ada satu nasihat yang kalo dibaca pelan-pelan, rasanya seperti ditarik keluar dari zona panik kita. Imam Hatim al-Asham rahimahullah berkata, “Janganlah engkau sekali kali merasa takut terhadap kefakiran. Sesungguhnya Allah tidaklah menakutimu dengan kefakiran namun Allah menakutimu (mengancammu) dengan api neraka.” (dalam al-Fawaid wal Akhbar, hlm. 152)

Kalimat ini seperti tamparan lembut buat generasi yang hidup di era “takut ketinggalan”—takut nggak punya uang, takut nggak punya tabungan, takut nggak kelihatan sukses sebelum umur 25. Kita ini kadang bukan cuma takut miskin. Kita takut kelihatan miskin. Takut kalah gaya. Takut nggak update. Takut nggak punya “cuan cepat”.

Baca juga:  "Hidup untuk Makan"

Oya, yang Allah Ta’ala ingatkan berulang kali justru tentang neraka—tentang dosa, tentang kelalaian, tentang hidup yang jauh dari ketaatan. Bukan harus lari dari zona kemiskinan. Artinya apa? Jadi, yang lebih bahaya dari dompet kosong adalah hati yang kosong dari iman.

Kalo kita buka al-Quran, ancaman yang sering muncul itu tentang api neraka, tentang hisab, tentang azab bagi yang zalim, curang, memakan riba, memakan harta orang lain dengan cara batil. Bukan tentang, “Celakalah kamu karena nggak punya iPhone terbaru”. Bukan tentang, “Masuk neraka karena gajimu UMR”. nJustru yang sering jadi sebab kebinasaan adalah ketika orang menghalalkan segala cara karena takut miskin. Padahal, miskin bukan aib.

Banyak orang sederhana yang hidupnya tenang. Penghasilannya biasa saja, tapi hatinya lapang. Bisa makan seadanya, tapi salatnya terjaga. Bisa pakai yang sederhana, tapi wajahnya berseri. Sebaliknya, ada yang hartanya banyak, tapi gelisah. Uangnya muter, tapi hatinya nggak pernah tenang. Karena setiap rupiah yang masuk, ada cara yang nggak Allah Ta’ala ridhai.

Kita sering lupa, yang bikin hidup bahaya bukan sedikitnya harta, tapi hilangnya berkah. Coba deh bayangkan kalo kita lebih takut dosa daripada takut miskin. Takut mengambil yang bukan hak kita. Takut transaksi yang haram. Takut menipu demi untung cepat. Takut menggadaikan prinsip demi gengsi.

Nah, kalo rasa takut kita benar arahnya, keputusan hidup kita juga akan benar. Sebab sejatinya, kemiskinan nggak otomatis menjauhkan seseorang dari surga. Tapi harta yang didapat dengan cara haram bisa menjauhkan langkah menuju surga.

Baca juga:  Bukan Cinta Biasa

Jadi, hidup ini bukan lomba siapa paling cepat kaya. Ini perjalanan siapa paling selamat sampai akhir. Bekerjalah. Berusahalah. Belajarlah cari rezeki yang halal. Islam nggak melarang kita kaya. Tapi jangan sampai ketakutan terhadap miskin membuat kita nekat melanggar batas syariat. Mengapa? Karena yang seharusnya membuat kita gemetar bukanlah saldo rekening yang menipis, tapi catatan amal yang menghitam atau malah lenyap.

Semoga Allah Ta’ala menenangkan hati kita dari ketakutan yang salah, dan menumbuhkan rasa takut yang benar—takut akan dosa, takut akan murka-Nya, dan takut pulang dalam keadaan belum bertobat. So, kalo harus memilih, lebih baik dompet yang tipis tapi hati bersih, daripada dompet tebal tapi hisabnya panjang. Itu sebabnya, jangan sampai takut miskin, lalu memilih jalan salah. [OS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses