Dalam Islam, jadi muslim itu bukan cuma soal salat tepat waktu dan puasa full sebulan. Begitu sudah akil baligh, paket kewajibannya ikut naik level. Salah satunya: amar makruf nahi munkar. Alias, peduli dan menyeru pada kebaikan dan berani menolak keburukan atau kemungkaran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan mencegah yang munkar. Jika tidak, hampir-hampir Allah menurunkan azab-Nya, lalu kalian berdoa, tapi doa itu tidak dikabulkan.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Artinya apa? Kalo umat Islam apatis, cuek, dan pura-pura nggak tahu soal urusan publik, itu bukan sikap santai. Itu bahaya. Seorang pemikir muslim, Muhammad Muhammad Ismail, dalam kitab al-Fikru al-Islamiy, menjelaskan bahwa kesadaran politik (wa’yu siyasi) itu minimal punya dua bahan utama.
Pertama, wawasannya mendunia. Bukan cuma sibuk mikirin lingkungan sendiri, apalagi cuma timeline sendiri. Kedua, punya sudut pandang khas—cara pandang Islam, bukan ikut-ikutan narasi mentah dari mana saja.
Dengan kata lain, sadar politik itu bukan sok tahu, tapi ngeh. Ngeh apa yang terjadi di sekitar kita, bahkan di belahan dunia lain. Karena umat Islam itu satu tubuh, bukan komunitas lokal yang hidup di dalam gelembung.
Menariknya, ini bukan teori baru. Sejak awal sejarah Islam, kesadaran politik sudah hidup. Contohnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Saat kaum muslimin masih tertindas di Mekkah—belum punya kekuasaan, belum punya negara—beliau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru memperhatikan konflik besar antara Romawi dan Persia. Dua kekuatan super yang lokasinya jauh banget dari Mekkah.
Pertanyaannya: Emang ngaruh? Secara langsung? Nggak. Siapa pun yang menang, posisi muslim Mekkah tetap susah. Tapi justru di situlah poinnya. Islam mengajarkan untuk melek realitas global, bukan cuma mikir untung-rugi instan.
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu paham bahwa politik bukan sekadar kekuasaan, tapi ‘membaca arah zaman’. Dan itu bukti bahwa Islam bukan agama yang bikin umatnya sempit pikirannya. Justru sebaliknya—Islam mendorong umatnya kritis, sadar, dan peduli.
Jadi, kalo hari ini kita muslim, lalu bangga dengan identitas itu, jangan berhenti di status dan slogan. Bangga itu dibuktikan dengan kepedulian. Dengan melek isu, paham posisi, dan tetap berdiri di atas nilai Islam.
Mengapa? Karena jadi muslim itu bukan cuma soal ibadah personal, tapi juga soal tanggung jawab sosial dan politik. Dan, ini alasan kenapa kita pantas bangga jadi muslim. [OS]