Karya yang Membawa Malapetaka

Tidak ada komentar 72 views

Sebelum gonjang-ganjing bin kisruh Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho beberapa hari belakangan ini, film ini pernah jadi bagian dalam liputan khusus Majalah TEMPO edisi 6 Desember 2018 silam. Saat membaca TEMPO edisi itu, saat itu masih berlangganan secara online, saya berpikir bahwa begitulah jika karya tak diberi ‘ruh Islam’, akan bebas sesukanya dan berpotensi membahayakan pola pikir, baik pembuatnya maupun penontonnya. Bahkan akan mendatangkan azab-Nya.

Kucumbu Tubuh Indahku, yang diterjemahkan menjadi Memories of My Body, pertama kali ditayangkan dalam Venice Biennale pada awal September lalu dan mendapat Bisato d’Oro Award 2018 dari Venice Independent Film Critic. Di Indonesia, film ini diputar untuk publik dalam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival pekan lalu. “Terjadi diskusi yang menarik dan akrab,” ujar Garin. (TEMPO, 6 Desember 2018).

Sebenarnya beberapa film Garin Nugroho sebelumnya lumayan menarik, seperti Daun di Atas Bantal atau Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Entah kenapa, kok tergoda juga membuat film bernuansa LGBT yang kini sedang tajam disorot masyarakat. Mungkinkah sesuai order belaka sebagai bagian dari profesionalitasnya, ataukah memang ada semangat berpikir liberal dalam dirinya? Mungkin juga sih, seperti ketika dia membuat film Soegija, dengan mengangkat aspek kemanusiaan yang universal ketimbang menekankan aspek agama.

Film adalah salah satu karya, bisa menginspirasi, bisa memberikan opini. Itu artinya, bisa saja menjadi alat dakwah. Tapi jika isinya negatif, berarti menyebarkan keburukan. Film bernuansa LGBT karyanya ini, menuai protes. Mungkin ada juga yang suka–bahkan memberikan penghargaan, ya tentu dari yang pemikirannya sama dengannya. Tetapi dari kaum muslimin yang membenci liberalisme dan budaya maksiat, tentu saja yang disuarakan adalah protes, kritik, dan kecaman.

Menyebarkan karya seperti ini, sama saja dengan menumbuh-suburkan keburukan dan kemaksiatan. Jika itu yang dipilih atau dibiarkan, maka tunggulah malapetaka berikutnya. Bukan menakut-nakuti, tapi jika maksiat sudah merajalela dan dibiarkan bahkan diberikan tempat istimewa, konsekuensinya memang mendatangkan azab Allah Ta’ala.

Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَتَقْرَؤُوْنَ هَذِهِ الآيَةَ :ياأيها الذين آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ وَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ (رَوَاهُ أبو داود والترمذي وَغَيْرُهُمَا)

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukuman-Nya pada mereka semua’ “ (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lainnya)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

“Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus.” (HR Ahmad)

Semoga kita terhindar dari malapetaka akibat membiarkan kemaksiatan tumbuh subur di tengah-tengah kehidupan kita. Negara yang semestinya wajib bertanggung jawab untuk menghentikan peredaran film ini. Tapi jika negara abai, maka kita kaum muslimin sebagai bagian dari warga masyarakat, harus peduli. Minimal dengan menyampaikan pendapat bahwa film tersebut menebar keburukan, harus dihentikan. Itu sebabnya, dakwah harus disampaikan, walau sekadar dengan menuliskan seperti ini, dan menyebarkannya.

Salam,

O. Solihin

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Karya yang Membawa Malapetaka"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.