Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Percikan

Nikmati Dunia, Tetapi Akhirat Tujuan Utama

By osolihin
Sabtu, 24 Agustus 2013 3 Min Read
0
Post Views: 1,256

cinta-dunia-takut-matiKalo diresapi dalam-dalam memang faktanya saat ini sudah hadir di tengah-tengah kita. Nggak bisa dipungkiri bahwa banyak di antara manusia, termasuk kaum muslimin yang cinta dunia, lupa akhirat. Kalo orang kafir sih rasa-rasanya wajar karena mereka tidak beriman kepada Allah Swt., tetapi bagaimana dengan kaum muslimin yang beriman kepada Allah? Ini yang justru aneh kalo hadir juga dalam perilaku kaum muslimin. Nggak banget deh! Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy-Syura [42]: 20)

Berkaitan dengan kecintaan kepada dunia ini, memang banyak banget faktanya. Perhiasan dunia itu sering menipu, gemerlapnya bisa bikin kita terlena. Itu sebabnya, banyak manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Boleh sih, memiliki perhiasan dunia, tetapi seperlunya saja dan jangan melupakan akhirat.

Sobat  muda, sebagai muslim bukan berarti kita membenci dunia sepenuhnya, Nggak juga kok. Akhirat memang yang utama, tetapi dunia juga boleh kita nikmati. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS al-Qashash [28]: 77)

Baca juga:  Tak Baik Berbangga Diri

Ayat ini jelas memberikan kebolehan bagi kita untuk menikmati dunia, tetapi tentunya tidak dijadikan sebagai yang utama dan tujuan akhir. Sebab, akhirat tetap tujuan akhir kita, Bro. Maka, nggak usahlah kita merasa terhina kalo gagal dapetin juara kelas. Nggak usah merasa langit runtuh kalo kita nggak bisa kuliah di perguruan tinggi incaran. Tak perlu merasa sedih kalo kita gagal lulus ujian. Biasa aja lagi. Sebaliknya, jangan pula iri dengan prestasi dan kebanggaan semu yang diraih orang-orang yang lalai atau malah orang kafir. Bila perlu malah harusnya kita nasihati mereka agar sadar. Kita memang senang dan boleh memburu perhiasan duniawi, tetapi itu sekadarnya saja.

Kita nggak bisa menjadikan perhiasan dunia sebagai ukuran keberhasilan abadi. Sebab, percuma aja banyaknya hasil ‘buruan’ perhiasan dunia yang kita miliki, jika pada akhirnya hal itu melalaikan kita dari beriman dan beribadah kepada Allah Swt. Rasulullah saw. saja, amat sederhana dan tidak bermegah-megahan dengan harta. Dari Anas bin Malik berkata, “Saya masuk kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berada di tempat tidur yang dipintal dan ditenun, dan di bawah kepalanya ada bantal yang isinya serabut pohon kurma. Antara kulitnya (Nabi) dan ranjang terdapat kain, lalu Umar masuk dan menangis, Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuat engkau menangis wahai Umar?’ la menjawab, ‘Demi Allah wahai Rasulullah!, tidaklah Saya menangis melainkan karena Saya tahu bahwa engkau adalah hamba yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan Kisra dan Kaisar. Mereka berdua hidup bergelimang dengan gemerlapnya dunia, sedangkan engkau wahai Rasulullah di tempat seperti yang Saya lihat.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apakah engkau tidak rela wahai Umar!, bagi mereka kehidupan dunia sedangkan bagi kita adalah di akhirat?’ Saya menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah’ Nabi berkata, ‘Memang seharusnya demikian.’” (derajat hadist Hasan shahih, di dalam kitab Takhrijut-Targhiib (4/114). Muttafaqun ‘alaihi- Umar, tercantum dalam Shahih al-Adab al-Mufrad)

Baca juga:  Berbuat Adil

Oke deh sobat, kita fokus pada tujuan kita untuk akhirat. Nggak usah pusing atau merasa iri jika prestasi duniawi tak kita dapatkan. Nikmati dunia seperlunya, tetap tambatkan hati kita untuk akhirat. Maka, dalam hal apapun (pendidikan, jabatan, harta, prestasi dan sejenisnya), orientasi kita tetap akhirat. Itu artinya, semuanya harus disesuaikan dengan syariat Islam. Kalo nggak sesuai, ya ngapain diburu dan diperjuangkan perhiasan dunia tersebut. Iya nggak sih? So, banggalah jadi muslim, nikmati dunia sesuai kebutuhan saja, jadikan akhirat tujuan akhir. Beriman, berilmu, beramal shalih. Kita wujudkan itu yuk!

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

akhiratamal shalihdakwahduniaibadahkeindahanosolihinpercikanperhiasan
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Nggak Tahu? Ya Belajar, Yuk!

Next

Jangan Ragu, Cobalah Hal Baru

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,018 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,964 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,526 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,194 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme
Memuat Komentar...