Perkara “Londo Ireng”

Opini29 Dilihat

Panggung politik tanah air emang nggak pernah kehabisan lakon dan istilah unik yang bikin feed medsos kita rame, Bro en Sis! Kali ini, sorotan jatuh pada istilah “Londo Ireng” yang sempat diucapkan Presiden Prabowo Subianto dan kemudian diluruskan oleh Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi, Hasan Nasbi.

Secara analisis linguistik-historis, istilah “Londo Ireng” (Belanda Hitam) sejatinya adalah metafora sejarah untuk menyebut kaum pribumi yang malah memihak kompeni di masa penjajahan. Namun dalam wacana politik kontemporer, penggunaan idiom bernuansa historis ini dipakai oleh kekuasaan sebagai instrumen stilistika untuk menembak kelompok yang dinilai hobi bikin ‘kegaduhan’ serta bersikap pesimistis terhadap masa depan bangsa.

Mencoba meredakan riak publik, Hasan Nasbi memberikan klarifikasi resmi bahwa istilah ini punya sasaran yang sangat spesifik. Ia menegaskan, “Mengkritik Londo Ireng boleh, dong. Kan enggak ditujukan ke rakyat secara umum. Itu kan ke, eh, apa? Kelompok-kelompok kritis yang, eh, kita duga sebagai Londo Ireng kan, bukan untuk, eh, masyarakat secara umum.”

Dari sudut pandang komunikasi politik, klarifikasi ini berupaya memisahkan antara rakyat umum yang wajib dirangkul dengan kelompok kritis yang dicap destruktif. Meski niat pemerintah adalah menanamkan semangat optimisme dan kekompakan nasional, strategi komunikasi dengan melabeli pihak kritis menggunakan metafora berkonotasi negatif berisiko memicu sentimen defensif. Beneran, deh.

Baca juga:  Kenapa sih pada pengen pacaran?

Jika dibedah dari perspektif sosial, fenomena saling lempar label ini sangat krusial untuk dicermati oleh Generasi Z dan Gen Alpha agar kita nggak gampang terjebak framing. Dalam dinamika masyarakat yang sehat, perbedaan pendapat dan masukan kritis dari kelompok masyarakat sipil itu bukanlah musuh, melainkan mekanisme checks and balances—ibarat rem pada sepeda yang menjaga kita agar nggak nyungsep ke selokan (apalagi jurang).

Nah, ketika setiap suara kritis langsung diberi stempel pesimistis atau Londo Ireng, ada bahaya sosial yang mengintai: anak muda bisa jadi takut untuk bersuara dan memilih silent majority. Padahal, kemajuan suatu bangsa nggak lahir dari kepatuhan buta (yes-man culture), melainkan dari keberanian berpikir kritis yang diimbangi dengan kepedulian sosial yang nyata.

So, kalo kita tarik ke kacamata Islam, fenomena ini mengajak kita untuk muhasabah mendalam soal etika berkomunikasi (adabul kalam). Dalam al-Quran surah al-Hujurat ayat 11, Allah Ta’ala dengan sangat tegas melarang kita untuk saling memberikan julukan atau panggilan yang buruk (wala tanabazu bil-alqab).

Selain itu, Islam mengajarkan kita untuk menilai sebuah gagasan berdasarkan isi bobotnya, bukan dengan menyerang personalitas atau memberi label yang menyudutkan (fokus pada argumen, bukan ad-hominem). Optimisme memang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat bernilai tinggi, tetapi menyampaikan kebenaran dan kritik perbaikan (amar ma’ruf nahi munkar) secara santun dan objektif juga merupakan kewajiban agama yang harus dirawat demi menjaga keadilan di tengah masyarakat.

Baca juga:  Berbeda Tapi Tetap Bersatu

Itu artinya, takeaway berharga buat kamu semua sebagai generasi muda: jangan sampai kamu terombang-ambing oleh dinamika panggung politik atau larut dalam iklim yang saling menjatuhkan. Ayo, tunjukkan bahwa pemuda muslim masa kini bisa menjadi trendsetter persatuan yang hakiki—tetap optimis menatap masa depan, berani berpikir kritis secara elegan, dan konsisten menebar manfaat (khairunnas anfahuhum linnas).

Jadi, daripada pusing menyimak perdebatan tentang siapa yang Londo Ireng, lebih baik kita fokus menempa diri menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi konkret, kedamaian, dan karya nyata untuk Indonesia tercinta dalam bingkai ideologi Islam. [O. Solihin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses