Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Opini

Ketika Pejabat Ejek Warga

By osolihin
Sabtu, 1 Agustus 2026 3 Min Read
0
Post Views: 80

Pernah nggak sih kalian nemu postingan di FYP yang bikin geleng-geleng kepala sekaligus ngelus dada? Nah, ada berita yang lagi ramai nih dari Medan tentang oknum pejabat publik yang responsnya offside banget dari kata empati. Lurah Paya Pasir bernama Syerly resmi dijatuhi sanksi disiplin ringan oleh Inspektorat Kota Medan gara-gara aksinya yang viral.

Gimana nggak viral, saat ada warga yang lagi serius nyampaiin aspirasi soal keselamatan jalanan yang rawan begal, ia malah nyeletuk santuy “Cie curhat”, bak lagi nge-roast temen di grup WhatsApp. Inti beritanya simpel tapi nampol: seorang pejabat yang harusnya melayani, malah kedapatan minim adab dan krisis etika komunikasi publik saat berhadapan langsung sama rakyatnya.

Kalo dilihat dari kacamata analisis kebijakan dan komunikasi publik, respons Bu Lurah ini jelas blunder parah yang nggak pantes banget ditiru. Coba kamu pikir, warga itu udah rela rogoh kocek sendiri demi keselamatan lingkungan sambil bilang, “Pak, nanti izin pasang lampu ya, Pak. Gelap kali soalnya, Pak. Banyak kali di sini begal. Ini empat tiang (lampu) saya pasang sendiri pakai duit pribadi.” Eh, bukannya diapresiasi, Bu Lurah yang berdiri di samping Wali Kota Medan malah nyeletuk, “Cie, curhat dia.” Celetukan yang niatnya mungkin becandaan ini justru jadi bumerang fatal.

Baca juga:  #7 Dakwah di Medsos

Inspektur Kota Medan, Erfin Fahrurrazi, tegas menyatakan, “Ya (Syerly sudah terbukti melanggar kode etik),” sesuai aturan yang berlaku (cnnindonesia.com, 01/08). Dalam analisis kebijakan, perilaku (mungkin ada yang menganggap sepele) ini merusak kepercayaan publik (public trust) dan membuktikan betapa krusialnya emotional intelligence buat siapa pun yang memegang kewenangan.

Secara sosial, fenomena ini memperlihatkan kontras yang menarik: kepekaan warga versus ketidakpekaan pejabat. Warga Medan dalam berita ini adalah contoh nyata “pahlawan lingkungan” yang nggak cuma bisa sambat alias mengeluh, tapi langsung aksi nyata pakai uang pribadi demi kepentingan umum.

Nah, ketika masyarakat udah menjalankan peran sosialnya dengan luar biasa, peran negara lewat aparatnya selayaknya hadir mengayomi dan memfasilitasi, bukan malah pasang mode judgmental. Sikap meremehkan keluhan warga—apalagi terkait ancaman begal dan keselamatan nyawa—menunjukkan adanya gap empati yang lebar. Kalo laporan dan aksi swadaya warga cuma dianggap sekadar curhatan ala selebmedsos, gimana masalah sosial di masyarakat bisa selesai dengan tuntas?

Oya, kalo kita teropong dari sudut pandang Islam, peristiwa ini jadi cermin kontemplatif yang dalam banget soal adab dan kepemimpinan. Dalam Islam, jabatan itu bukan panggung buat gaya-gayaan atau merasa lebih tinggi, melainkan amanah berat yang bakal dipertanggungjawabkan sampai akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa sayyidul qawmi khadimuhum—pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka. Selain itu, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan (hifzhul lisan) dan saling menghargai. Menertawakan atau meremehkan kesusahan orang lain jelas jauh dari akhlakul karimah. Bayangkan kalo keluhan warga dibalas dengan rasa empati khas Rasulullah yang menentramkan, pasti suasana sosial kita bakal adem, penuh berkah, dan harmonis.

Baca juga:  BNPT Getol Lakukan Pemburukan Citra Islam

So, buat kalian para generasi muda calon pemimpin masa depan, kasus ini bukan cuma drama berita biasa, tapi pelajaran mahal buat self-improvement. Sanksi disiplin yang diterima Bu Lurah (meski kayaknya terlalu ringan, ya) harus jadi pengingat bahwa setiap ucapan dan sikap kita ada konsekuensinya, baik di mata hukum–apalagi di hadapan Allah Ta’ala.

Yuk, kita belajar jadi anak muda yang peka, punya high empathy, dan nggak gampang menyepelekan perjuangan orang lain. Biar nanti kalo kalian jadi bos, pejabat, atau sekadar ketua OSIS, kalian nggak cuma pintar secara akademis, tapi juga punya adab jempolan dan hati yang siap melayani dengan tulus. No cap (serius, deh), adab dan empati itu tetep nomor satu, Bro en Sis! [O. Solihin]


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

curhatosolihinpejabatremajatanggung jawabtulisan
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Perkara “Londo Ireng”

Next

Jangan Menggadaikan Akidah

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,020 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,967 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,529 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,198 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme