Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

stunning milky way night sky landscape
Percikan

Sains Punya Batas, Iman Punya Kelas

By osolihin
Senin, 17 Agustus 2026 3 Min Read
0
Post Views: 2

Akhir-akhir ini medsos jadi rame perdebatan tentang sains dan agama. Ada tuh yang ngomongin alam semesta pakai istilah-istilah keren kayak quantum mechanics atau multiverse. Seketika, aura mereka kelihatan keren banget sampai bikin sebagian dari kamu mikir, “Wah, sains emang bisa menjawab semua teka-teki kehidupan!” Tapi tunggu dulu, coba tanyakan ini ke diri sendiri: apakah sains benar-benar tahu segalanya? Nggak juga kok. Beneran.

Sains itu keren, serius. Islam bahkan mendorong banget umatnya buat jadi manusia pembelajar dan berpikir kritis. Tapi belakangan ini, ada tren yang agak kelewatan: menuhankan sains. Seolah-olah, kalo sesuatu nggak bisa dibuktikan di bawah mikroskop atau diukur pakai rumus matematika atau bukti empiris secara sains, berarti hal itu otomatis dianggap dongeng, mitos, atau halusinasi masa lalu. Padahal logika sederhananya begini: sains itu cuma alat bantu manusia buat membaca mahakarya Allah Ta’ala, bukan Tuhan itu sendiri.

Coba kita ambil contoh peristiwa megah Isra Mi’raj. Bagi sebagian ilmuwan yang minim iman—bahkan ada yang mengaku muslim tapi logikanya keburu dikunci oleh paham serba materi–perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu melesat ke Sidratul Muntaha dalam semalam (bahkan lebih singkat lagi)–itu dianggap nggak masuk akal. “Mana mungkin melampaui kecepatan cahaya tanpa hancur?” cetus mereka dengan nada skeptis.

Baca juga:  Demi Sebuah Ilmu

Padahal nih, mereka lupa satu hukum paling mendasar: yang memperjalankan Rasulullah adalah Allah Ta’ala, Zat yang menciptakan hukum fisika itu sendiri. Kalo Sang Pembuat Aturan mau melipat ruang dan waktu untuk menunjukkan mukjizat, ya segampang itu bagi-Nya! Sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Isra ayat 1, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ini bukan lagi ranah pengujian laboratorium, melainkan ranah keimanan. Sains bertugas membedah materi yang terlihat, sedangkan iman menembus batas hingga ke Sang Pencipta Materi.

Sama halnya dengan perdebatan panas soal penciptaan manusia. Para penganut teori evolusi materialistis keukeuh banget kalo manusia itu cuma hasil kebetulan biologis tanpa campur tangan Ilahi. Bagi pemahaman mereka, kita ini cuma produk kebetulan dari sel purba yang bermutasi selama jutaan tahun, sehingga konsep penciptaan manusia pertama itu dianggap mustahil.

Tapi tunggu dulu! Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna (ahsani taqwim), sebagaimana dijelaskan dalam surah at-Tin ayat 4, “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Diawali dari Nabi Adam alaihi sallam yang ‘dirancang’ khusus oleh Sang Maha Pencipta. Menolak adanya Pencipta hanya karena kita nggak bisa merekam prosesnya pakai kamera time-lapse itu ibarat bilang smartphone canggih di tanganmu terbentuk sendiri secara nggak sengaja gara-gara ada ledakan di pabrik komponen! (eh, pas nggak analoginya?)

Baca juga:  Sadar Akan Potensi Diri

Di sinilah anak muda cerdas kayak kamu harus jeli. Sains dan Islam itu sejatinya nggak pernah bermusuhan. Sains membantu kita kagum pada cara kerja alam semesta, sedangkan agama membimbing kita untuk paham mengapa kita diciptakan dan ke mana kita akan kembali. Sains bisa menjelaskan bagaimana proses terjadinya hujan, tapi cuma iman yang bisa menyadarkan kita mengapa tetesan air itu adalah rahmat yang patut disyukuri.

Lagipula, sains itu sifatnya dinamis dan terus berubah. Dulu para ahli bilang bumi itu pusat alam semesta, eh ternyata bukan. Dulu Pluto adalah planet, sekarang ‘dimutasi’ jadi bukan planet. Kalo kamu menggantungkan seluruh keyakinan hidupmu pada teori manusia yang revisinya lebih sering daripada draf skripsi, siap-siap saja krisis identitas sepanjang masa!

Jadi, mulai sekarang jangan gampang minder atau langsung terpesona sama narasi ilmuwan ateis (termasuk agnostik) yang coba menggeser peran Allah Ta’ala. Kagum boleh, silau jangan. Gunakan otak dan akalmu untuk mempelajari sains sampai setinggi bintang-bintang, tapi tetap simpan hatimu rapat-rapat dalam genggaman Sang Pencipta Bintang. Karena sains tanpa iman itu buta, dan iman tanpa ilmu itu lumpuh. Jadilah generasi muda yang kepalanya penuh ilmu pengetahuan, tapi dadanya tetap bergetar syahdu saat mendengar nama Allah Ta’ala. [O. Solihin]


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Baca juga:  Nazar, tapi tidak kuat melaksanakannya

Tags:

agamaislamosolihinremajasainstulisan
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Challenge Penistaan

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,017 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,964 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,525 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,192 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme