Simfoni Cuan Pendukung Zionis
Saya belakangan ini sering merenung sambil memperhatikan jagat maya kita yang makin mirip panggung sirkus. Tanggal 31 Oktober 2026 kemarin, dagelan absurditas baru saja dipentaskan di pelataran Candi Borobudur melalui konser Andrea Bocelli.
Faktanya begini: MUI lewat Ketua Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, sudah teriak lantang menolak keras konser tersebut. Alasannya sangat berdasar, yakni rekam jejak Bocelli yang pada tahun 2010 bernyanyi dalam acara Friends of IDF untuk menggalang dana bagi tentara Israel (Israel Defense Forces). Di sisi lain, hal yang bikin saya mengelus dada adalah munculnya sekelompok orang yang melabeli diri sebagai “ulama” dan “cendekiawan” yang justru pasang badan mendukung konser ini.
Tokoh seperti Muhammad Rofik Muallimin dan Hery Haryanto Azumi dengan fasihnya mengobral narasi “love, peace, and humanity”. Katanya, ini momentum keberagaman, jadi masyarakat jangan mau diadu domba. Di sinilah dark joke-nya bermain, Bro en Sis. Ya, kita disuruh merawat persatuan oleh mereka yang justru memecah belah solidaritas umat demi membela penyokong dana Zionis. Lebih kocak lagi, ada janji donasi 100 ribu pasang sepatu untuk Palestina dari yayasan yang menunggangi konser ini. Logikanya, mau ngasih sepatu untuk korban genosida, tapi acaranya merayakan figur pendukung tentara pelaku genosida tersebut? Sungguh sebuah komedi gelap yang bikin muak.
Melihat kenyataan ini, saya amat menyayangkan kaum muslimin yang masih saja terbelah dalam merespons kezaliman. Sebagian dari kita seolah lupa sedang membela siapa. Sungguh memalukan, sebagai bangsa dengan mayoritas muslim terbesar, kita masih bisa dikibuli oleh retorika keberagaman yang kehilangan akal sehat. Minimal sekali, kita menolak konser tersebut karena nurani kemanusiaan. Kondisi ini membuktikan bahwa umat Islam saat ini sangat rapuh karena tidak bersatu dalam kerangka ideologi yang sama saat memandang persoalan besar.
Dalam kacamata Islam, pembelaan terhadap agama dan nyawa kaum muslimin adalah harga mati, bukan komoditas komersial demi cuan. Kita punya prinsip fundamental: membela Islam dan orang yang dizalimi, bukan malah memberi karpet merah pada pendukung kezaliman. Allah Ta’ala berfirman dengan sangat tajam, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Hud [11]: 113)
Mendukung dan menjustifikasi kehadiran pendukung tentara penjajah dengan jubah seni, jelas merupakan bentuk kecondongan kepada kezaliman yang diharamkan secara mutlak.
Lalu, apa solusinya? Secara teknis, umat muslim harus memboikot penuh promotor dan acara yang terafiliasi dengan pendukung Zionis. Matikan keran cuan mereka di sini. Buat gerakan edukasi literasi sejarah agar umat tidak gampang silau oleh nama besar musisi. Secara sistemik, negara harus membenahi kebijakan luar negeri dan regulasi imigrasi. Harus ada sistem screening atau filter perizinan nasional yang ketat; negara tidak boleh menerbitkan izin bagi figur asing mana pun yang rekam jejaknya menyokong penjajahan, karena itu melanggar konstitusi dan melukai prinsip keadaban.
Jika kita bedah dari kacamata psikologi komunikasi massa, fenomena ini adalah praktik Art-Washing sistematis yang memanfaatkan disonansi kognitif publik. Merujuk pada teori Leon Festinger, ketika seseorang mengalami konflik batin antara prinsip moral (solidaritas untuk Palestina) dan ego pragmatis (keinginan menonton konser), pikiran mereka akan otomatis menciptakan pembenaran. Akibatnya, narasi ‘perdamaian dunia’ dan ‘donasi sepatu’ diadopsi sebagai tameng manipulatif; tidak hanya untuk menenangkan nurani mereka yang terganggu, tetapi juga untuk mencuci otak publik agar kezaliman tersebut tampak lumrah dan beretika. Parah banget, kan?
Saya jadi merenung dan ingin melemparkan ini ke pikiran kalian. Dari sudut pandang psikologi komunikasi, ketika narasi suci ‘cinta dan damai’ justru dipakai untuk membentengi eksistensi pendukung militer pembantai anak-anak Palestina di negeri ini, sebenarnya siapa aktor besar yang sedang bermain di balik layar, dan target cuci otak jangka panjang seperti apa yang ingin mereka capai terhadap mentalitas umat Islam Indonesia? [O. Solihin]
Eksplorasi konten lain dari O. Solihin
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.