Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Opini

Bumi Hangus, Akal Putus

By osolihin
Jumat, 16 Oktober 2026 3 Min Read
0
Views: 2

​Bro en Sis, coba bayangkan rutinitas pagi hari yang biasanya sejuk, tiba-tiba harus kita lalui dengan napas yang tersengal. Udara yang harusnya menyegarkan paru-paru dan bikin semangat, malah berubah jadi kabut asap pekat kekuningan yang bikin mata perih tiada ampun. Baju jemuran di luar rumah bau sangit terbakar, dan anak-anak kita terpaksa memakai masker berlapis-lapis cuma buat sekadar bernapas di ruang tamu rumah sendiri.

Realita menyesakkan ini bukanlah adegan film thriller tentang kiamat, tapi nasib pilu saudara-saudara kita di Kalimantan dan Sumatera yang sampai hari ini harus menghisap udara beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung usai.

​Waduh, kalo melihat beritanya di televisi atau linimasa media sosial, hati ini rasanya ikut perih. Jutaan hektar hutan—paru-paru dunia kita—ludes jadi abu dalam sekejap. Akibatnya, satwa liar kebingungan, mati terpanggang atau berlarian kehilangan tempat tinggal mereka. Pertanyaannya yang selalu mengganjal di kepala: kok bisa musibah mengerikan ini terjadi terus-menerus setiap tahun, seolah-olah sudah jadi agenda rutin yang diwajarkan?

​Kalo dipikir-pikir, akar masalahnya sebenarnya sangat terang benderang. Ini bukan semata-mata soal cuaca panas ekstrem atau kemarau panjang. Ini murni soal kerakusan! Korporasi-korporasi besar butuh lahan baru untuk ekspansi perkebunan atau industri kayu. Cara paling gampang, murah, dan cepat buat membuka lahan? Ya dibakar! Mereka nggak peduli asapnya bakal mencekik jutaan balita dan lansia, yang penting ongkos operasional bisa ditekan dan untung berlipat ganda. Nggak gitu juga kali cara cari duit! Apa iya demi menggemukkan dompet segelintir konglomerat, jutaan rakyat tak berdosa yang harus dikorbankan?

Baca juga:  Takut Miskin, Lalu Salah Jalan?

​Tapi ya gitu deh, potret buram penegakan hukum di sistem kapitalis kita ini. Hukum sering kali garang ke rakyat kecil pencuri kayu bakar, tapi mendadak tumpul dan pura-pura buta ke korporasi raksasa pembakar hutan. Dendanya nggak seberapa dibanding triliunan keuntungan yang mereka keruk. Beneran bikin emosi!

​Yuk mikir, Bro en Sis. Sebagai seorang mukmin, saya yakin Islam punya pandangan yang jauh lebih dalam dan komprehensif soal ini. Dalam kacamata ideologi Islam, alam semesta dan isinya ini adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Merusak lingkungan demi ketamakan pribadi atau golongan adalah kejahatan besar. Allah Ta’ala sudah memperingatkan kita dengan sangat jelas dalam al-Quran Surah ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

​Sobat muslim, Islam nggak sekadar ngasih peringatan moral, tapi juga menawarkan solusi teknis dan sistemik yang sangat tegas. Secara teknis, negara wajib memfasilitasi teknologi pencegahan dini, pemantauan satelit real-time, dan armada pemadam yang mutakhir. Negara tidak boleh abai atau telat merespons saat titik api mulai muncul.

​Namun yang paling esensial adalah solusi sistemiknya. Dalam sistem bernegara Islam (Khilafah), sumber daya alam seperti hutan raya adalah kepemilikan umum (milkiyah ‘ammah) yang wajib dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan malah diserahkan hak gunanya untuk dikuasai oligarki. Kalo sampai ada individu atau perusahaan yang terbukti sengaja membakar lahan, peradilan Islam akan menjatuhkan hukuman ta’zir yang memberi efek jera maksimal. Nah, bentuk sanksinya bisa berupa penyitaan seluruh aset perusahaan, pencabutan izin secara permanen, hingga hukuman mati jika kebakaran itu mengakibatkan hilangnya nyawa banyak manusia. ​

Baca juga:  Pintu Masuknya Ilmu

Oya, kalo sistem yang diterapkan sekarang masih saja menjadikan modal dan investasi di atas segalanya, jangan harap masalah karhutla ini bisa benar-benar tuntas. Alam akan terus dieksploitasi sampai hancur.

​Merenungi nasib hutan kita yang terus hangus terbakar dan hukum yang tak berdaya, saya jadi teringat lirik tajam dari sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, dalam lagunya yang berjudul Malapetaka:

“Bila ada kezaliman atas suatu bangsa/ Murka Tuhan pasti datang sebagai pembalasan/ Banyak sudah bangsa-bangsa yang dihancurkan Tuhan/ Sebaiknya itu semua dijadikan pedoman”

​Semoga kita segera tersadar dan kembali pada aturan Sang Pencipta, sebelum seisi bumi ini benar-benar hanya tersisa debu dan abu. [O. Solihin]


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

cuanislamkarhutlalahanmuslimosolihinremaja
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Podium Curhat, Rakyat Melarat

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,054 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,032 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,970 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,534 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,201 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme