Podium Curhat, Rakyat Melarat
Tiap kali membuka linimasa media sosial atau menyimak siaran berita belakangan ini, saya sering menarik napas panjang. Rekaman pidato Presiden Prabowo berseliweran, dan jujur saja, polanya makin kebaca. Mulai dari celetukan khas, “Saya mendapatkan laporan…”, intonasi yang tiba-tiba meninggi, sampai sindiran bernada nyinyir kepada pihak yang dianggap lawan politik atau tukang kritik. Waduh, alih-alih menampilkan ketenangan seorang nakhoda kapal besar bernama Indonesia, podium resmi kenegaraan kerap bergeser fungsi menjadi ruang ventilasi emosi pribadi.
Bro en Sis, mari kita bicara jujur dari kacamata orang biasa. Pagi-pagi kita bangun tidur, kepala sudah pening memikirkan harga beras yang anteng di angka tinggi, biaya sekolah anak yang mencekik, atau ancaman PHK yang mengintai di tempat kerja. Kalo rakyat menyempatkan diri menonton pemimpin tertingginya berpidato, yang dicari adalah kepastian: apa langkah pemerintah menurunkan beban hidup? Bagaimana lapangan kerja diciptakan? Tapi kalo yang tersaji di layar kaca justru curhatan personal, kejengkelan pada narasi pengkritik, dan klaim sepihak tanpa rincian data, ya gitu deh, rasanya campur aduk antara kecewa dan lelah. Nggak gitu juga kali cara mengelola panggung kehormatan negara.
Kalo dipikir-pikir, jabatan presiden itu bukan arena stand-up comedy, bukan pula ring tinju verbal untuk menyudutkan rival politik masa lalu. Beneran, rakyat nggak butuh drama retorika. Kita butuh aksi nyata dan keseriusan mengurus hajat hidup orang banyak.
Teman muslim dan sahabat sampai surga, Islam memandang kekuasaan bukan sebagai trofi kenikmatan, melainkan amanah agung yang menuntut kesungguhan penuh. Dalam pandangan Islam sebagai sebuah ideologi, konsep kepemimpinan bertumpu pada ri’ayah su’un al-ummah—mengurus seluruh urusan umat dengan landasan syariat, bukan berdasar suasana hati sang penguasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini dalam sabdanya, “Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahkan menangis tersedu-sedu hanya karena mencemaskan seekor keledai yang mungkin terperosok di jalanan terpencil Irak karena infrastruktur yang buruk. Beliau juga tidak sibuk melempar dalih “saya cuma dapat laporan” atau mencibir orang yang mengingatkannya. Beliau terjun langsung ke lapangan saat malam sunyi, lalu memikul karung gandum, dan memastikan perut warganya kenyang.
Maka, yuk mikir, bagaimana jalan keluarnya?
Secara teknis, komunikasi kepresidenan harus segera dibenahi total. Presiden wajib meninggalkan kebiasaan bicara berbasis informasi mentah yang belum teruji, lalu menggantinya dengan komunikasi berbasis data valid, transparan, dan terukur. Podium negara harus dikembalikan sebagai sarana pertanggungjawaban publik dan penyampaian kebijakan solutif, bukan panggung unjuk ego. Tim komunikasi istana harus berani membatasi improvisasi verbal yang kontraproduktif dan memicu kegaduhan publik.
Namun, pembenahan teknis saja jelas nggak akan pernah cukup. Secara sistemik, kita harus menyadari bahwa gaya kepemimpinan yang rapuh dan gemar bersilat lidah ini adalah buah kandung dari sistem sekuler-kapitalisme. Sistem ini mendudukkan kekuasaan semata sebagai transaksi politik oligarki, sehingga pemimpinnya kerap terjebak pada rivalitas politik tanpa akhir demi mempertahankan posisi.
Solusi mendasarnya adalah mengembalikan paradigma kepemimpinan kepada ideologi Islam: kekuasaan diikat ketat oleh hukum syariat, akuntabilitas ditegakkan di hadapan umat dan Allah, serta seluruh kekayaan alam dikelola murni untuk kesejahteraan rakyat, bukan demi kepentingan segelintir elite.
Rakyat sudah terlalu kenyang dengan curhatan maupun sindiran pedas di podium. Seperti petikan lirik tajam dari Guns N’ Roses dalam lagu legendaris Civil War:
“I don’t need your civil war / It feeds the rich while it buries the poor.”
Demikian. [O. Solihin]
Eksplorasi konten lain dari O. Solihin
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.