Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

KonsultasiSeputar Penulisan

Batasan Plagiat dengan Mengutip

By osolihin
Minggu, 6 November 2011 2 Min Read
2
Post Views: 1,596
beritamaya.wordpress.com

Halo mas,

saya baru mau belajar menulis…
Kalau menulis artikel non-fiksi kitakan sering mengutip dari berbagai sumber…

Nah, apa sih batasannya bahwa kutipan dalam artikel kita itu plagiat atau bukan..? Apakah kalau suatu artikel berbahasa Inggris dari majalah Internasional saya olah kembali…dalam arti 50% isinya saya ubah dan saya beri pendapat saya tenteng masalah di artikelo tersebut, saya disebut Plagiat atau bukan?

Mohon pencerahannya…!

Rendro Tris

Salam kenal dan terima kasih atas kiriman pertanyaannya.

Bung Rendra, mengutip tentu berbeda dengan plagiat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengutip adalah mengambil perkataan atau kalimat dari buku dsb. Sementara plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri.

Nah, batasannya tentu ada. Dalam mengutip pastikan harus dicantumkan sumber kutipannya. Jika itu satu kalimat, tulis satu kalimat. Bila itu satu paragraf, ya tulis juga satu paragraf dan serta sumbernya. Biasanya sih kutipan itu kita cantumkan untuk memperkuat argumentasi kita dalam sebuah tulisan. Bahwa pendapat yang kita sampaikan itu memang pernah juga disampaikan oleh penulis lain atau sama dengan penulis lain. Sehingga nilai argumentasi kita bisa dipertanggungjawabkan. Jika pun misalnya pendapat kita adalah sedikit berbeda dengan pendapat yang kita kutip, maka kutipan tersebut kita jadikan sebagai pijakan dan merupakan inspirasi dari pendapat yang kita kemukakan setelah melalui modifikasi tentunya.

Baca juga:  Hidup Santuy Tanpa Banding-Bandingan

Maka, plagiator adalah orang yang mencontek (copy-paste) karya orang lain, mungkin dia mengutip satu pendapat dari orang lain sampai satu kalimat persis bahkan satu paragraf dan satu artikel sekalipun dan menuliskannya serta mempublikasikannya kepada orang lain bahwa karya tersebut adalah hasil karyanya. Tentu saja ini perbuatan tidak menyenangkan dan bisa merugikan orang lain (dan juga merugikan dirinya jika suatu saat ternyata ada orang yang mengetahui perbuatannya).

Mengolah artikel terjemahan, bisa disebut plagiat jika karya terjemahan tersebut kita akui sebagai penulisnya, padahal faktanya kita adalah penerjemahnya. Mengubah suatu artikel terjemahan sampai 50% dari total artikel tersebut, tidak termasuk aktivitas plagiat jika kita bermaksud memberikan penilaian atau interpretasi atas artikel tersebut dan tentu mencantumkan sumber asli terjemahan dari artikelnya. Misalnya, sebuah tulisan berbahasa Inggris dari sebuah kantor berita asing, kita terjemahkan dan kita permak lagi menurut pendapat kita, tidak disebut sebagai plagiat jika kita mencantumkan di bagian belakang tulisan dengan kalimat seperti ini: “Diolah dari AFP dsb” Jadi ada kata “Diolah” yang menunjukkan bahwa sumber tulisan kita dari kantor berita tersebut hanya diolah sedemikian rupa dengan tambahan dari kita sebagai penulisnya. Menurut saya itu bukan plagiat. Allahu’alam.

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Baca juga:  Rahasia Hidup Tanpa Ribet

Tags:

mengutipmenulisplagiat
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Kita yang belum juga mau mengerti

Next

“NikmatKu yang mana yang kamu dustakan?”

2 Comments
  1. virna berkata:
    Kamis, 16 Maret 2017 pukul 21:10

    Malam min, mau tanya kan kalau kita menulis ttg biografi org pasti mengambil dr berbagai sumber,nah kalau kita menggabung gabungkan dari satu sumber dg yang lainnya tetapi tetap diberi sumbernya. Apakah seperti itu masuk plagiat?? Mohon jawabannya, baru belajar nulis

    Reply
    1. osolihin berkata:
      Jumat, 28 April 2017 pukul 11:21

      Selama masih ada rujukan yang akurat, bisa menjadi pertimbangan sumber datanya. Boleh saja. Silakan.

      Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,020 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,967 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,529 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,198 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme
Memuat Komentar...