Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

Percikan

Memuji Allah Ta’ala Ketika Mendapat Musibah

By osolihin
Selasa, 13 November 2012 2 Min Read
0
Post Views: 1,050

Ketika kita mendapatkan kebahagiaan, kita mengucap syukur alhamdulillah. Memuji Allah Ta’ala. Senang rasanya hati kita. Sejurus kemudian tulisan “alhamdulillah” tertera di mana-mana: status walls facebook, di timeline twitter, ada di SMS, di blog dan beragam media yang bisa kita jangkau dan miliki. Dahsyat!

Ya, kedahsyatannya mampu memberi inspirasi kepada orang lain. Seolah semua follower kita di di twitter ikut bergembira, teman-teman kita di facebook ikut senang dengan kebahagiaan kita. Di era teknologi komunikasi dan informasi yang secanggih sekarang, rasa bahagia kita dengan cepat bisa menyebar ke seantero jagat maya.

Namun, pernahkah kita memuji Allah Ta’ala dalam kondisi yang merugikan kita atau ketika kita mendapat musibah? Sebenarnya tanpa sadar kita pun telah melakukannya, yakni minimal ketika bersin. Dalam sebuah kesempatan kajian tafsir pekanan bersama Ustadz Dr. Abdurrahman al-Baghdady, kami diajarkan untuk tetap memuji Allah Ta’ala dalam hal yang kurang menyenangkan bagi diri kita dengan mengucapkan: “alhamdulillah ‘ala kulli hal”.

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“” (HR Ibnu Majah)

Pada suatu sore, dalam kultum yang disampaikan salah seorang peserta diklat di Rumah Gemilang Indonesia, tempat saya mengajar kelas menulis kreatif, tema kultumnya adalah: “Memuji Allah karena mendapat musibah.”

Baca juga:  Memelihara Kebodohan

Rizko nama peserta diklat yang menyampaikan kultum sore itu. Peserta diklat dari Jurusan Fotografi dan Videografi. Ia membawa sebuah buku saat kultum, dan membacakan satu tema yang dipilihnya. Menarik, meski singkat tapi pesannya padat dan tepat. Setelah ia selesai menyampaikan, saya bertanya kepadanya tentang buku yang dijadikan rujukan untuk kultumnya. Ia menjawab bahwa buku itu milik temannya, namanya Ridwan, peserta diklat Teknik Komputer dan Jaringan. Maka, saya mencoba mencarinya dan setelah bertemu Ridwan, saya baca buku tersebut dan memang menarik, bukan hanya tema yang Rizko sampaikan. Banyak tema inspiratif di buku itu.

Nah, dalam tema kultum tersebut, saya sedikit ceritakan di sini, yakni pernyataan Qadhi Syuraih saat beliau mendapat musibah yang tak terduga. Bukannya mengucapkan kalimat istirja (innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun), tetapi ia justru mengucapkan kalimat pujian kepada Allah (alhamdulillah) sampai empat kali. Orang-orang di sekitarnya dibuat heran. Kemudian salah seorang di antara mereka bertanya kepada Qadhi Syuraih, “Wahai hakim agung, mengapa engkau memuji Allah sampai empat kali, padahal engkau tengah mendapatkan musibah?”

Qadhi Syuraih menjawab, “Pertama, aku memuji Allah karena musibah itu tidak lebih besar. Kedua, aku memujiNya karena Dia mengkaruniakan kesabaran pada diriku atas musibah itu. Ketiga, aku memujiNya karena dengan musibah itu aku dikaruniai kepasrahan mengembalikan segalanya kepada Allah sembari aku mengharapkan pahalaNya. Keempat, aku memujiNya karena musibah itu tidak terjadi pada agamaku.”

Baca juga:  Belajar Memahami Kenyataan Hidup

Subhanallah, pernyataan Qadhi Syuraih ini semoga menjadi pengingat kita untuk tetap beriman kepadaNya, terus mengharap rihdoNya, senantiasa memujiNya dalam segala kondisi, baik susah maupun senang.

Salam,

O. Solihin | Twitter: @osolihin

[post_view]

 


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

alhamdulillahinspirasisyuraih
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Belajar, Mengajar, dan Menuliskannya

Next

Agar Khutbah Jumat Tak Membosankan

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,053 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,029 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,969 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,533 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,200 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme