Skip to content
-
Langganan Channel WhatsApp dan dapatkan ragam tulisan. Subscribe Now!
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
  • Bagian Menu
O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

O. Solihin

berbagi inspirasi, belajar menata diri

  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
  • Beranda
  • Profilku
  • Buku Karyaku
  • Tulisan di gaulislam
  • Kumpulan File
Subscribe
Close

Search

KonsultasiSeputar Penulisan

Seputar Terjemahan

By osolihin
Selasa, 27 September 2011 1 Min Read
0
Post Views: 667

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum. Maaf! saya ingin menanyakan: 1) Terjemahan berita atau buku itu masuk kategori mana? 2) Bagaimana terjemahan yang baik dan bagus sesuai dengan karakter berita atau buku yang diterjemahkan? Sekian terima kasih. Wassalam.

Abu Abdullah

Jawaban:

‘alaikumussalam wr wb.

Terima kasih sudah berkirim e-mail. Berikut jawaban saya:

  1. Terjemahan berita termasuk kategori nonfiksi. Karena berita bukan fiksi. Mengenai buku terjemahan, menurut saya harus dilihat terlebih dahulu isi bukunya. Jika isinya adalah terjemahan cerpen atau novel berarti masuk kategori fiksi. Tapi jika isi bukunya adalah berupa berita, feature atau esai, berarti masuk kategori tulisan nonfiksi.
  2. Menurut saya terjemahan yang bagus adalah sesuai dengan apa yang ditulis dari naskah/tulisan aslinya. Bukan interpretasi dari penerjemahnya. Karena besar kemungkinan akan mengaburkan maksud si penulis aslinya. Jadi, terjemahannya adalah sesuai isi dalam bahasa aslinya. Namun, agar rasa bahasanya terasa kuat, maka pilihan kata dan istilah yang digunakan harus pas. Itu sebabnya, penting sekali bagi penerjemah naskah menguasai bahasa (dan budaya) dari bahasa yang akan diterjemahkan. Misalnya, menerjemahkan dari bahasa Inggris, alangkah bagusnya jika si penerjemah menguasai bahasa Inggris dengan baik dan mengerti istilah-istilah yang digunakan (dan itu berarti harus menguasai budaya setempat). Sebab, jika tidak mengetahui istilah atau kebiasaan masyarakat setempat, maka ketika menerjemahkan akan terasa rancu atau malah tidak enak dibaca. Sehingga rasa bahasa atau nilai dari naskah itu menjadi kurang bagus.
Baca juga:  Lupain mantan pacar

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin


Eksplorasi konten lain dari O. Solihin

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tags:

konsultasipenulisanterjemahan
Author

osolihin

Follow Me
Other Articles
Previous

Nggak Akur Sama Ortu

Next

Bingung Lomba Nonfiksi

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Terpopuler

  • 9 Langkah untuk Menulis Buku - 32,051 views
  • Hati-hati dengan Sum’ah - 28,019 views
  • Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah - 27,967 views
  • Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama? - 26,528 views
  • “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?” - 26,195 views

Komentar Terbaru

  • osolihin pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • robbil pada “Sosmed Addict”, Buku Terbaruku
  • osolihin pada Buku Karyaku
  • osolihin pada “Hidup untuk Makan”
  • Arif pada Buku Karyaku
Copyright 2026 — O. Solihin. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme