Ukhuwah kita, masalah kita

Tidak ada komentar 2145 views


Suatu hari teman saya bercerita, gara-gara ada sedikit konflik dengan pembina pengajiannya, kakaknya yang perempuan tidak mau ikut ngaji lagi. Nggak mau ngaji lagi? Yang bener saja? Memangnya punya masalah ya? Kok, sampe nggak mau ngaji lagi?

Teman saya lalu bilang, “Kakak saya kecewa dengan tindakan yang dilakukan pembina pengajiannya. Masa’ ia diminta memilih; dakwah atau kuliah. Ya, kakak saya jawabnya ingin melakukan kedua kegiatan itu. Tapi, pembina pengajiannya seperti menekan agar kakak saya memilih satu saja. Akhirnya, kakak saya nggak puas dan memilih tidak ikut pembinaan dengan kelompok dakwah tersebut,” paparnya dengan nada penuh kecewa juga dengan sikap pembina pengajian kakaknya yang seperti itu.

Buntutnya setelah kejadian itu, sang kakak benar-benar seperti terputus dari jalur komunikasi dengan kawan-kawan sepengajiannya dulu. Bila dulu, di rumahnya sering rame dengan aktivitas pengajian para akhwat, kini benar-benar sepi. Tragisnya, tak satu pun teman-teman ngajinya, bukan cuma nggak dateng ke rumahnya, tapi juga banyak yang putus kontak. Nggak ada SMS, apalagi telepon. Pernah katanya sekali pembina pengajiannya kirim SMS ngasih kabar akan main ke rumahnya, ditunggu-tunggu ternyata alis matanya pun nggak tampak. Menyedihkan.

Mendengar cerita teman saya ini, pikiran saya melayang jauh sampe inget kejadian yang udah lama banget. Masih sekolah waktu itu. Saya hadir dalam sebuah acara yang diadakan teman-teman dari sebuah kelompok dakwah. Saya sengaja ikut hadir karena pembicaranya yang datang adalah seorang tokoh. Bahkan kini menjadi tokoh nasional. Tapi lucunya, ada beberapa teman dari kelompok dakwah itu yang saya kenal dan mereka tahu siapa saya, saya nggak disalami pas acara ‘salam-salaman’. Wah, ini kelewat, lupa, atau sengaja? Tapi saya tetap berbaik sangka, bahwa mungkin kelewat. Saya meyakin-yakinkan diri saja dengan pikiran seperti itu, karena ternyata faktanya saya nggak disalami meski sudah siap menyodorkan tangan. Halah!

Saya jadi berpikir, di mana letak ukhuwah yang digembar-gemborkan di forum-forum pengajian? Kok dengan begitu mudahnya diucapkan tapi sulit dibuktikan dalam praktek. Hanya manis di bibir dan terdengar indah di telinga, tapi pahit dalam praktik. Saya jadi bertanya sendiri dalam hati: apakah ukhuwah alias persaudaraan itu hanya dalam sebuah kelompok saja? Bukankah kita saudara seakidah? Bukankah kita sama-sama muslim? Nggak habis pikir deh! Perlu diketahui bahwa saat itu memang sedang ‘musim’ kurang kompak antar kelompok dakwah (entah, sekarang masih begitu atau nggak. Ka
lo masih, berarti kian terjadi kemunduran!).

Memang sih, nggak semuanya punya perilaku begitu rupa. Saya yakin masih banyak yang baik dan masih mengandalkan akal sehatnya. Itu dibuktikan ketika saya bertemu dengan seorang teman sesama penulis di sebuah kota ketika saya ngisi acara bedah buku. Lucunya, ia melontarkan pernyataan yang ‘menggelikan’, saya tulis intisarinya ya, “Kang Oleh ikut ngaji dari kelompok dakwah tertentu ya? Tapi kok Kang Oleh masih mau bergaul dengan orang dari kalangan mana pun? Ini sekadar kroscek karena ada beberapa teman saya punya pendapat miring tentang kelompok dakwah lain,” ungkapnya rada ‘polos’.

Saya hanya tertawa kecil dan menyampaikan, “Asal dia muslim, kenapa harus dibedakan? Kenapa harus menolak bergaul dengannya?” Lalu ia pun menyampaikan pendapat pribadinya bahwa dirinya juga risih dengan pernyataan beberapa temannya yang begitu rupa.

Ukhuwah ternyata tak seindah kedengarannya. Kita masih suka dan bangga untuk membedakan diri. Saya memang mengakui bahwa kita dalam banyak hal bisa berbeda, tapi bukan berarti harus membedakan diri dengan memilah-milah gaul dalam ukhuwah. Menyedihkan dan benar-benar tragedi.

Kembali ke kasus kakaknya teman saya itu, saya malah berpikir ini lebih kejam. Kenapa? Karena dalam satu kelompok saja sudah begitu rupa, bagaimana kepada kelompok lain? Ah, saya sebenarnya nggak mau terus terjebak dalam kondisi seperti ini. Ngabisin energi saja. Tapi akhirnya saya harus menuliskan juga dalam catatan harian ini, bahwa ini jelas masalah kita. Ukhuwah di antara kita ini sedang mengalami masalah berat. Jika tak diselesaikan dengan baik, tentunya akan tambah runyam dan bikin repot. Itu sebabnya saya menuliskannya di sini agar kaum muslimin yang lain tahu bahwa ukhuwah itu harusnya tak mengenal batas. Asal dia muslim, itulah saudara kita. Bukan niat saya untuk membuka ‘aib’ pula, tapi ini sekadar memberikan contoh bahwa kita memang ada masalah dengan ukhuwah ini.

Ah, entah karena saya terlalu perasa atau sensitif, tapi selalu saja ada cerita tentang noda dalam ukhuwah yang bikin nyesek dada ini dan nggak abis pikir. Suatu saat teman saya cerita tentang seorang pengurus pengajian, bahkan cukup senior di kelompok dakwah itu yang bikin pernyataan ‘memalukan’. Ceritanya begini, ketika teman saya menyampaikan tentang kondisi sakitnya seorang aktivis dakwah, bahkan yang sama-sama dari kelompok dakwah itu, si aktivis senior ini malah bilang, “Wah, itu bukan tanggung jawab daerah saya!” jelasnya ketika ditanya akan menjenguk atau nggak. Duarrr! Rasanya bagaikan mendengar petir di siang bolong.

Kontan saja teman saya menasihati beliau. Tragis sekali memang. Padahal, kalo saja dia memberikan jawaban manis, misalnya “Innalillahi, semoga Allah menyembuhkannya. Afwan, saat ini saya belum bisa menjenguknya, titip salam saja dulu.” Bijak sekali bukan? Dan tentunya tidak merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang lain, termasuk tetunya di hadapan Allah yang telah memuliakan diri kita sebagai seorang muslim.

Sobat muda muslim, saya gemes banget dengan kondisi seperti ini. Beginikah model ukhuwah kita? Padahal Rasulullah saw. bersabda: “Jangan kamu sa­ling dengki dan iri, dan jangan pula meng­ungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya” (HR Muslim)

Bahkan Allah Swt. sudah mewanti-wanti dalam frimanNya: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS al-Hujurât [49]: 10)

Manusia memang bukan malaikat yang selalu baik. Tapi bukan berarti nggak bisa dikondisikan untuk baik, iya kan? Malu dong ah sama orang awam, masa’ aktivis dakwah ‘musuhan’ dan nggak pandai merajut ukhuwah. So, mulai sekarang, rajut benang ukhu­wah di antara kita, dan kita jaga bersama agar orang-orang yang membenci Islam gentar menghadapi keutuhan persaudaraan kita. Mere­ka takut lho kalo kita bersatu. Siap kan? Semoga tak ada lagi noda dalam ukhuwah kita.

Oya, saya nulis di catatan harian ini bukan berarti saya sudah baik, saya juga masih butuh bimbingan dan nasihat dari teman-teman semuanya. Karena adakalanya, teori tak selalu match dengan praktiknya. Terima kasih.

Salam,

O. Solihin

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Ukhuwah kita, masalah kita"