Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Sekilas Rumah Sakit di Masa Khilafah

Sekilas Rumah Sakit di Masa Khilafah

(1541 Views) Jumat, 17 Mei 2013 05:15 | Published by | No comment
Ilustrasi sebuah rumah sakit pada masa kejayaan Islam di Cordoba, Andalusia (Spanyol).

Ilustrasi sebuah rumah sakit pada masa kejayaan Islam di Cordoba, Andalusia (Spanyol).

Seiring perkembangan jaman, kepemimpinan Islam silih berganti. Semuanya memberikan warna tersendiri bagi perkembangan Islam. Islam menjadi peradaban yang maju (terutama pada masa kepemimpinan para khalifah dari Bani Umayyah dan Bani Abasiyyah).

Kemampuan untuk mengelola administrasi negara demi kesejahteraan masyarakat sebenarnya sudah dirintis sejak jaman Rasulullah saw. Misalnya tentang perlunya sensus, Beliau saw. bersabda: “Catatlah orang-orang yang mengaku Islam” (dikutip dalam Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 164)

Selain sensus, juga tentang pos. Pertama kali di masa Abu Bakar, dilanjutkan mekanisme yang lebih rapi di jaman Umar bin Khaththab dan seterusnya. Selain itu, administrasi pengukuran tanah, cek uang tunai, dewan baitul mal, direktorat luar negeri dan kepolisian. (Ibidem, hlm. 164-165)

Dalam buku yang sama, di halaman 175 dipaparkan dengan detil bahwa untuk kesejahteraan rakyat, pemerintah mendirikan rumah sakit. Kaum Muslimin telah membangun banyak rumah sakit pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang disediakan bagi orang-orang yang terkena penyakit lepra dan tunanetra. Ini tahap permulaan. Perkembangannya adalah di masa pemerintahan Bani Abasiyyah. Di masa ini, banyak dibangun rumah sakit di kota Baghdad, Kairo, Damaskus, dll. Oya, di masa ini pertama kali dipopulerkannya rumah sakit keliling. Perlu diketahui bahwa rumah sakit yang dibangun di masa pemerintahan Islam dibedakan antara bagian laki-laki dan wanita. Nggak dicampur. Di dalamnya juga disediakan kamar-kamar khusus bagi setiap pasien (catet: setiap pasien). Hebat kan?

Dr. Mustafa as-Siba’i mencatat beberapa rumah sakit yang termasuk keren (silakan dibaca lengkap dalam bukunya yang berjudul: Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 168-176). Rumah sakit yang termasuk keren di jamannya di antaranya adalah RS adh-Dhudi di Baghdad. RS ini dibangun oleh Daulah bin Buwaihi pada tahun 371 H setelah ar-Razi, dokter yang amat terkenal waktu itu memilih tempatnya dengan cara meletakkan empat potong daging di empat penjuru Baghdad dalam semalam. Tatkala pagi tiba, ia mendapatkan daging yang terbaik baunya di tempat yang menjadi letak rumah sakit itu di kemudian hari.

Di rumah sakit ini ditempatkan 24 orang dokter dan dibangun semua yang dibutuhkan rumah sakit, seperti perpustakaan ilmiah, apotek, dapur umum dan gudang-gudang. Udah modern banget kan?

Pada tahun 449 H, Khalifah al-Qaim Biamrillah memperbaruinya. Selain menambah jumlah dokter dan tenaga medis lainnya, fasilitas juga diperbagus. Di rumah sakit itu juga terdapat kolam besar yang berada di samping kebun yang penuh dengan aneka macam pohon buah-buahan dan sayur-mayur. Sehingga kesan rumah sakit itu nggak burem dan angker. Perahu-perahu berlayar mengangkut para pasien yang lemah dan miskin. Para dokter melayani mereka secara bergiliran pagi dan petang, juga malam hari.

Selain RS adh-Dhudi, ada juga RS an-Nuri yang didirikan oleh Malik Adil Nuruddin asy-Syahid pada 549 H (1154 M). RS ini termasuk yang terbaik di seluruh negeri dan khusus diperuntukan bagi pasien yang kurang mampu (kalangan miskin). Di RS ini para dokter dan tenaga medis lainnya sangat baik hati dan memperhatikan pasien.

Nah, ada lagi nih, Rumah Sakit Besar al-Manshuri (Bymaristan Qalawun). Dibangun oleh Khalifah Malik Manshur Saifuddin Qalawun pada tahun 683 H (1284 M). Bro, setiap tahun beliau mewakafkan untuk rumah sakit tersebut 1.000 dirham. Di rumah sakit ini, sebagian dokter mata yang bekerja di rumah sakit tersebut mengatakan, setiap hari pasien yang masuk dan yang keluar berjumlah 4.000 orang. Yang keren nih, setiap pasien yang sembuh dan yang ke luar dari rumah sakit tersebut selalu diberikan pakaian dan sejumlah uang untuk nafkahnya sehingga ia tidak perlu segera bekerja berat untuk mencari penghidupan. Subhanallah. Udahlah gratis berobatnya, masih dikasih akomodasi lagi. Keren banget!

Rumah Sakit Marrakesh yang didirikan oleh Amirul Mukminin Manshur Abu Yusuf. Sobat, di rumah sakit ini, jika si pasien sembuh, sedangkan ia miskin, maka ia diberi uang untuk biaya hidupnya selama belum kerja. Jika pasien itu dari kalangan kaya, maka uangnya dikembalikan kepadanya (alias gratis). Setiap hari Jumat, Amirul Mukminin mengunjunginya, menjenguk para pasien dan menanyakan keadaan mereka serta menanyakan perlakuan dokter dan perawat terhadap mereka. Wuih, perhatian banget ya khalifahnya?

Sobat muda muslim, kalo ditelusuri terus tak cukup dalam satu tulisan singkat ini. Jadi saya hanya menuliskan beberapa fakta saja. Selain rumah sakit, banyak juga fasilitas untuk mensejahterakan masyarakat; seperti transportasi, pasar, dan lain sebagainya.

Nah, pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi saat ini ketika Islam tak diterapkan dalam kehidupan bernegara? Hmm… kamu juga tahu kan jawaban yang sebenarnya? Yup, biaya sekolah mahal, berobat ke rumah sakit mahal pula, penghasilan pas-pasan, gaya hidup makin hedonis, yang merusak akidah juga marak dan seabrek problem lainnya. Inilah risiko hidup saat ini, kita memang merana di bawah naungan kapitalisme, kawan. Sengsara hingga akhir hayat!

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

No comment for Sekilas Rumah Sakit di Masa Khilafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *