Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Meramal Nasib

Meramal Nasib

(893 Views) Selasa, 22 November 2011 14:17 | Published by | No comment

Dari Abu Musa, sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak masuk surga; pecandu arak, pemutus silaturahmi, dan orang yang percaya pada sihir.” (HR Ahmad)

Era reformasi ternyata begitu banyak memberikan kebebasan. Setelah pemerintah melonggarkan kebijakan di bidang pers, akhirnya banyak muncul budaya yang dulu malu-malu untuk membuka diri, seperti pornografi, misalnya. Dan era reformasi juga semakin menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dunia supranatural. Tentu saja seiring dengan berkibarnya dunia klenik, keimanan masyarakat terhadap Allah justeru melorot, bahkan bisa dikatakan sampai pada derajat titik nadir. Ini membahayakan. Berbagai iklan di media massa seolah menjadikan legalitas praktek perdukunan. Meski dalam iklan tersebut mereka memakai bahasa yang sedikit ‘sopan’, dunia supranatural dengan berkedok pengobatan dan lain sebagainya.

Sebagai seorang muslim yang beriman, ketika menghadapi gejala tak sehat seperti ini dalam sebuah masyarakat, maka yang harus dan bahkan wajib dilakukan adalah bagaimana kita berupaya untuk tidak larut bersama budaya sesat seperti itu. Globalisasi kebodohan seperti ini pernah juga terjadi ketika Islam belum turun untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat di Jazirah Arab. Namun, ketika Rasulullah dengan membawa ajaran Islam hadir dan memberi warna pada kehidupan mereka, tradisi sesat itu mulai hilang sedikit demi sedikit sampai akhirnya Rasul membersihkan segala bentuk praktek sihir. Sabdanya: “Hukuman terhadap tukang sihir itu dipenggal lehernya dengan pedang.” (HR Tirmidzi dan Daruqutni)

Bila kita berkaca kepada ajaran Islam, rasanya kita akan berpikir beribu kali sebelum melibatkan emosi kita dalam dunia klenik (perdukunan alias sihir) tersebut. Kehidupan yang serba tak menentu bagi sebagian masyarakat kita, tidak lantas kemudian jatuh ke dalam pelukan para pembual alias para tukang sihir yang mencoba menggoda dengan berkedok pengobatan ‘alternatif ‘. Ritme kehidupan yang tengah kita jalani ini tidak perlu dirusak dengan praktek perdukunan. Allah akan menjamin kehidupan setiap hambanya selama hamba tersebut percaya bahwa hanya Allah Ta’ala lah yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Kita tak perlu mencoba meramal nasib, atau dengan alasan menjaga diri kemudian kita terjebak dalam dunia klenik tersebut.

Kehidupan sekarang boleh berubah, meski dengan perubahan yang menyebabkan sebagian dari kita bangkrut dalam kehidupan ini. Namun tidak berarti bahwa kemudian merasa sah-sah saja ketika harus melibatkan diri dalam dunia klenik alias perdukunan yang sembunyi di balik alasan pengobatan ‘alternatif’ supranatural seperti banyak diiklankan media massa.

Kita tidak boleh percaya kepada apa yang dikatakan para tukang sihir yang menggoda kita bahwa mereka bisa meramal nasib, atau paling tidak mereka mengatakan bisa memberikan semacam penjagaan kepada kita. Seharusnya tak boleh terpedaya begitu saja, karena mereka itu meski kadang-kadang benar dan terbukti apa yang diucapkannya tersebut, namun itu tak lebih dari bualan saja. “Dan dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw pernah ditanya oleh sekelompok manusia tentang masalah tukang tenung (sihir), maka jawabnya: ‘Mereka bukan apa-apa,’ mereka pun bertanya lagi: ‘Ya Rasulullah sesungguhnya mereka itu kadang-kadang menceritakan sesuatu yang ternyata benar.’ Maka jawab Rasulullah saw: ‘Kalimat itu dari Allah yang dicuri oleh Jin lalu diulang-ulanginya ke telinga kekasihnya dengan dicampur 100 kedustaan.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim dalam kitab Terjemah Nailul Authar Juz VI, halaman 2686)

Salam,

O. Solihin

Tags: , , ,
Categorised in: ,

No comment for Meramal Nasib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *