Memuji Allah Ta’ala Ketika Mendapat Musibah

Tidak ada komentar 1476 views

Ketika kita mendapatkan kebahagiaan, kita mengucap syukur alhamdulillah. Memuji Allah Ta’ala. Senang rasanya hati kita. Sejurus kemudian tulisan “alhamdulillah” tertera di mana-mana: status walls facebook, di timeline twitter, ada di SMS, di blog dan beragam media yang bisa kita jangkau dan miliki. Dahsyat!

Ya, kedahsyatannya mampu memberi inspirasi kepada orang lain. Seolah semua follower kita di di twitter ikut bergembira, teman-teman kita di facebook ikut senang dengan kebahagiaan kita. Di era teknologi komunikasi dan informasi yang secanggih sekarang, rasa bahagia kita dengan cepat bisa menyebar ke seantero jagat maya.

Namun, pernahkah kita memuji Allah Ta’ala dalam kondisi yang merugikan kita atau ketika kita mendapat musibah? Sebenarnya tanpa sadar kita pun telah melakukannya, yakni minimal ketika bersin. Dalam sebuah kesempatan kajian tafsir pekanan bersama Ustadz Dr. Abdurrahman al-Baghdady, kami diajarkan untuk tetap memuji Allah Ta’ala dalam hal yang kurang menyenangkan bagi diri kita dengan mengucapkan: “alhamdulillah ‘ala kulli hal”.

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“” (HR Ibnu Majah)

Pada suatu sore, dalam kultum yang disampaikan salah seorang peserta diklat di Rumah Gemilang Indonesia, tempat saya mengajar kelas menulis kreatif, tema kultumnya adalah: “Memuji Allah karena mendapat musibah.”

Rizko nama peserta diklat yang menyampaikan kultum sore itu. Peserta diklat dari Jurusan Fotografi dan Videografi. Ia membawa sebuah buku saat kultum, dan membacakan satu tema yang dipilihnya. Menarik, meski singkat tapi pesannya padat dan tepat. Setelah ia selesai menyampaikan, saya bertanya kepadanya tentang buku yang dijadikan rujukan untuk kultumnya. Ia menjawab bahwa buku itu milik temannya, namanya Ridwan, peserta diklat Teknik Komputer dan Jaringan. Maka, saya mencoba mencarinya dan setelah bertemu Ridwan, saya baca buku tersebut dan memang menarik, bukan hanya tema yang Rizko sampaikan. Banyak tema inspiratif di buku itu.

Nah, dalam tema kultum tersebut, saya sedikit ceritakan di sini, yakni pernyataan Qadhi Syuraih saat beliau mendapat musibah yang tak terduga. Bukannya mengucapkan kalimat istirja (innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun), tetapi ia justru mengucapkan kalimat pujian kepada Allah (alhamdulillah) sampai empat kali. Orang-orang di sekitarnya dibuat heran. Kemudian salah seorang di antara mereka bertanya kepada Qadhi Syuraih, “Wahai hakim agung, mengapa engkau memuji Allah sampai empat kali, padahal engkau tengah mendapatkan musibah?”

Qadhi Syuraih menjawab, “Pertama, aku memuji Allah karena musibah itu tidak lebih besar. Kedua, aku memujiNya karena Dia mengkaruniakan kesabaran pada diriku atas musibah itu. Ketiga, aku memujiNya karena dengan musibah itu aku dikaruniai kepasrahan mengembalikan segalanya kepada Allah sembari aku mengharapkan pahalaNya. Keempat, aku memujiNya karena musibah itu tidak terjadi pada agamaku.”

Subhanallah, pernyataan Qadhi Syuraih ini semoga menjadi pengingat kita untuk tetap beriman kepadaNya, terus mengharap rihdoNya, senantiasa memujiNya dalam segala kondisi, baik susah maupun senang.

Salam,

O. Solihin | Twitter: @osolihin

[post_view]

 

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Memuji Allah Ta’ala Ketika Mendapat Musibah"