Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Memoar » Memilih tidak jadi analis kimia

Memilih tidak jadi analis kimia

(1442 Views) Sabtu, 10 September 2011 02:19 | Published by | No comment

Ternyata, Aku Jadi Penulis (episode 2)

Bersama kawan-kawan semasa SMAKBo, saat Study Tour, tahun 1992

Ketika kelas 4 di Sekolah Menengah Analis Kimia di Bogor itu, tahun 1992, aku memang masih menulis, tapi karena banyaknya kesibukan urusan sekolah, keterampilan menulisku sempat terhambat dan nggak diasah. Soalnya emang jarang berlatih nulis lagi. Tapi, aktivitas membaca sih tetap jalan terus. Karena membaca membuatku lebih terbuka wawasan dan menjadi sarana untuk mengumpulkan banyak pengetahuan.

Nah, setelah lulus pada tahun 1993, akhirnya aku mulai bisa serius konsentrasi menulis. Wujud keseriusan itu aku buktikan dengan membeli mesin tik merek Brother dengan cara mencicil setiap bulan Rp 25 ribu ke pamanku. Sepuluh bulan lunas. Karena harganya Rp 250 ribu waktu itu.

[cc_blockquote_right]Bagaimana dengan aktivitas menulis? Aku masih tetap menulis. Menulis dan menulis. Mesin tik memang aku bawa, meski perannya mulai berkurang karena aku udah terbiasa menggunakan komputer punya temanku atau sekadar nge-rental yang banyak bertebaran di sekitar kampus IPB waktu itu. [/cc_blockquote_right]Tahun 1993 itu memang aku udah kerja di perusahaan mie instan di Karawang (PT ABC President). Kejenuhan bekerja sebagai analis kimia yang bergelut di laboratorium dengan berbagai alat dan bahan kimia, aku fresh-kan dengan menumpahkan segala gagasan di mesin tik yang aku bawa serta ke tempat kos. Memiliki mesin tik sendiri membuatku terus menulis apa saja, termasuk artikel. Kadang membaca berita dari koran yang aku baca di tempat kerja pas jam istirahat, lalu aku tulis inti beritanya di selembar kertas. Sorenya, begitu pulang kerja aku langsung ambil mesin tik dan menuliskan sebuah tulisan untuk menanggapi berita yang aku baca yang rangkumannya sudah aku tulis tersebut. Terus seperti itu. Karena dengan begitu, kebiasaanku menulis akan kembali terasah. Beberapa hasil tulisanku aku coba kirimkan ke media massa, tapi sepanjang tahun 1993 itu nggak ada yang dimuat. Tapi, aku terus menulis dan menulis.

Nggak nyampe setahun aku bekerja di perusahaan mie instan tersebut, akhirnya aku mengundurkan diri pada April 1994 dan balik ke Bogor dengan alasan ingin ngelanjutin studi. Meski di Bogor banyak famili tapi aku lebih memilih tinggal bersama teman-teman sekolah dulu. Pertengahan tahun 1994 aku memutuskan untuk ikut UMPTN. Tapi, belum sempat cita-citaku terwujud, ibuku di kampung memintaku untuk serius bekerja saja dulu. Karena adik-adikku membutuhkan biaya buat sekolah. Aku memang anak paling tua dengan lima adik yang semuanya masih sekolah waktu itu sementara orang tua sudah bercerai. Apa daya, akhirnya keinginanku untuk ikut UMPTN gagal sebelum bertarung. Padahal, aku udah ada rencana: aku ingin kuliah di Bandung atau paling nggak di Yogyakarta.

Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja lagi. Maka, ketika ditawari kerja di sebuah pabrik fruktosa dan glukosa di daerah Jakarta aku langsung mau. Bekerja dengan menggunakan sistem shift. Kerja pagi sampe sore sering aku lakukan, sore sampe malam juga udah biasa, bahkan malam sampai pagi juga aku anggap hal yang wajar.

Bagaimana dengan aktivitas menulis? Aku masih tetap menulis. Menulis dan menulis. Mesin tik memang aku bawa, meski perannya mulai berkurang karena aku udah terbiasa menggunakan komputer punya temanku atau sekadar nge-rental yang banyak bertebaran di sekitar kampus IPB waktu itu. Karena mesin tik makin jarang kusentuh, akhirnya aku kirim aja ke kampung buat adik-adikku belajar ngetik. Sayangnya, mesin tik kenangan itu akhirnya terlantar tak terurus.

Aku terus mengasah kemampuanku dalam menulis. Setiap ada kesempatan menulis aku sempatkan menulis. Bahkan tak jarang aku nekat nebeng sama teman yang kebetulan punya komputer atau kalo ada waktu senggang di sela-sela kerja, aku diperbolehkan menggunakan komputer punya atasanku. Asyik, jadi tetap bisa menulis. Menulis yang mungkin masih berantakan. Tapi intinya tetap nulis. Bahkan satu tulisan berhasil dimuat di rubrik opini Majalah Suara Hidayatullah pada edisi Mei 1994, judulnya “Kebebasan yang Kelewat Batas”. Wuih senengnya tulisan pertamaku dimuat di media massa yang cukup terkenal. Dapat honor lagi. Kayaknya ini pertama kali aku bisa menikmati rizki dari hasil menulis. Diam-diam dalam hati aku berpikir, “Mungkin di sini duniaku!”.

Sambil bekerja di situ, di tahun 1994 itu aku juga ikutan menjadi reporter di Majalah Remaja Islam PERMATA di Bogor. Meski nggak dapet honor dalam jumlah tertentu, tapi aku menikmatinya karena bisa mengembangkan keterampilan menulisku bersama temen-temen lainnya di majalah remaja tersebut.

Karena nggak tahan kerja dengan sistem shift, ditambah karena aku mulai menikmati pekerjaan yang ril yang dekat dengan dunia penulisan, maka aku memutuskan untuk berhenti pada awal tahun 1995. Tapi lucunya, majalah PERMATA tempatku belajar nulis dan jurnalistik malah berhenti di awal tahun 1995. Waduh. Aku bingung. Bingung karena penghasilan udah nggak ada, ditambah niatnya mau kerja serius di majalah malah media itu berhenti terbit.

Untung, aku diajak teman dalam bisnis kursus komputer. Demi mendengar kata komputer, aku girang, karena dengan begitu masih ada kesempatan untuk bisa melancarkan keterampilan menulisku. Benar saja, nggak lama, masih di awal tahun 1995 itu, lembaga kursus komputer punya temanku itu bekerjasama dengan sebuah pesantren di Sukabumi (PM Assalaam), maka aku ditempatkan di sana sebagai instruktur komputer. Berbekal ilmu komputer kecil-kecilan akhirnya aku mulai mengajar di sana. Asyik juga ngajar anak-anak santri. Nggak banyak tingkah dan sekalian aku belajar bahasa Arab di sana (meski nggak sampe mahir).

Bagaimana dengan menulisku? Aku masih tetap menulis. Terutama ketika malam hari di saat kosong dari jadwal praktik komputer anak-anak santri. Di sini aku bisa menuangkan segala gagasan dan ide. Menulis membuatku merasa tenang dan senang. Sayangnya, karena ada kesalahpahaman dalam MoU-nya antara pihak pesantren dengan lembaga kursus tempatku bekerja, maka kerjasama bimbingan kursus di sana berakhir. Aku di sana cuma bertahan sekitar 6 bulan. Aku balik ke Bogor dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, akhirnya aku mencoba kembali bekerja di sebuah perusahaan supplier bahan kimia dan instrumen laboratorium di Jakarta. Karena di sana secara terang-terangan menghalalkan segala cara, seperti menyuburkan tradisi suap-menyuap akhirnya aku hanya bertahan sebulan. Selama sebulan itu, aku tetap menulis dan punya harapan untuk terus bisa menulis meski waktu yang tersedia hanya sisa dari jadwal kerjaku dan di tengah himpitan kesulitan hidup.

Saat nganggur dan terlunta-lunta alias nggak tentu tempat tinggal itu aku ditawari kerja oleh guru ngajiku yang buka jasa setting komputer dan percetakan. Aku mau, selain karena terdesak kebutuhan ekonomi (apalagi adik lelakiku ikut denganku untuk melanjutkan sekolah di Bogor), aku juga berharap bisa mengasah kemampuan menulisku karena di sana tersedia komputer. Menjelang akhir tahun 1995, ada investor yang bersedia menghidupkan kembali majalah remaja PERMATA, aku pun diajak kembali bergabung secara freelance. Itu artinya, aku tetap bekerja penuh bersama guru ngajiku yang membuka usaha jasa setting komputer tersebut. Cukup lama juga aku di situ. Sekitar setahun.

Pada pertengahan tahun 1996, aku akhirnya diminta penuh menggarap majalah remaja PERMATA bersama teman dekatku sejak masih sekolah dulu, M. Iwan Januar dan juga kawan lainnya. Sejak saat itu dia memang akhirnya menjadi tandem menulisku yang solid. Kemampuan menulisku semakin terasah. Sayangnya, awal tahun 1998, majalah PERMATA benar-benar berhenti terbit. Aku sempat kepikiran untuk kerja lagi sebagai analis kimia bahkan aku dan Iwan Januar hendak kerja di perusahaan pertambangan di Papua, tapi niat itu dibatalkan karena ada nasihat dari guru ngajiku, “Kalo kalian kerja di tempat lain, siapa lagi nanti yang akan ngurus majalah ini”. Ya, akhirnya aku dan Iwan Januar bertahan di Bogor dengan kondisi kehidupan yang tak jelas. Hmm.. kebayang kan gimana jadinya keterampilan menulisku yang justru sedang dengan penuh semangat aku lakoni dan nikmati, jika media tempatku menuangkan gagasan malah berhenti? [bersambung…]

Tags: , ,
Categorised in:

No comment for Memilih tidak jadi analis kimia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *