Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Kita yang belum juga mau mengerti

Kita yang belum juga mau mengerti

(930 Views) Sabtu, 5 November 2011 12:13 | Published by | No comment

Assalaamu’alaikum wr wb

Ada seorang ibu yang ditanya, “Kenapa sih mengenakan kerudungnya cuma sesederhana itu?” Jawabannya juga sesederhana yang dipahaminya, “Ini lagi mode. Lagian nggak usah fanatiklah. Jangan mempersulit diri. Bagi saya yang sudah tua ini, yang penting membedakan diri dengan ABG. Nggak perlu pake gamis-gamis segala. Ribet.”

Hmm… pernyataannya justru mengundang masalah. Kesalahan si Ibu tersebut tidak murni seratus persen akibat ketidaktahuannya. Tetapi juga dia melihat ke sekitarnya. Masih banyak yang mengenakan busana muslimah sebatas itu. Meski sebenarnya banyak juga yang sudah sempurna lengkap dengan jilbabnya. Tetapi si ibu sepertinya memilih fakta yang sesuai seleranya untuk dijadikan dalil pemuas nafsunya.

Kisah lainnya, seorang remaja pernah ditanya: “Kenapa sih main gim melulu setiap kali ke warnet?” Jawabannya, “Refreshing lah. Kan kita perlu rileks dalam hidup ini.” Ia lupa, bahwa saat saya tanya kepada petugas warnet ia mengatakan bahwa ada anak yang setiap harinya main gim online minimal 5 jam. Saya kemudian berpikir ulang, “rileks dari masalah apa jika setiap hari kerjaannya lebih banyak main gim online?”

Pada cerita lain ada seorang bapak, sudah tua, yang hampir setiap malam hobinya main gaple. Entah ini hobi atau pekerjaan. Yang pasti dia identik dengan kartu gaple. Dulu, masa-masa saya ikutan ngeronda, ada saja orang ini. Tentu dengan kartu gaple setianya. Saya dan beberapa orang bapak yang kebagian tugas memilih keliling kampung meronda ketimbang ngetem di pos kamling dan menyaksikan kebiasaan beberapa orang main gaple.

Sebenarnya mereka bukan tidak risih kebiasaan main gaplenya diketahui banyak orang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu gara-gara ada tugas ronda. Dia dan kawan-kawannya sadar betul. Maka begitu melihat saya dan beberapa orang bapak lainnya dia langsung memberikan pernyataan yang tak saya minta, “ini sekadar hiburan saja Pak.Tak pakai uang”. Lho kok?

Tetapi saya berkhusnudzan mungkin memang begitu adanya. Meski tetap saja kebiasan tersebut bukanlah ciri manusia produktif, apalagi sebagai muslim yang dituntut untuk setiap waktunya dimanfaatkan dengan benar dan baik. Jika tidak, akan rugi atau bahkan celaka. Ya, rugi jika hari ini sama dengan hari kemarin. Akan celaka jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan sewaktu lulus sekolah kejuruan analis kimia. Pernah ada orang yang berkomentar (dengan inti perkataannya kira-kira seperti ini: “ngapain sih harus belajar lagi, mengaji, dan mikirin orang lain? Kan sudah punya pekerjaan mapan. Capek mikirin orang lain mah!”) Saya menjawab dengan ringan, “karena saya masih butuh ilmu dan wawasan. Saya masih peduli dengan orang lain meski sebatas yang saya mampu.”

Sejak lama saya merasakan dan memperhatikan bahwa manusia memang cenderung susah diajak untuk memahami masalah kehidupannya. Tak heran jika dalam al-Quran Allah Swt. berkali-kali mengingatkan manusia dengan sejumlah himbauan: “afala ta’qilun”, “afala tatafakkarun”, “afala yatadabbarun”. Secara harfiah artinya berturut-turut adalah: apakah kalian tidak memakai akal, apakah kalian tidak berpikir, apakah kalian tak menelaah.

Allah Swt. mengajarkan kepada manusia untuk berpikir kritis, senang menelaah dan menganalisis. Itu artinya, berpikir dan menelaah memiliki kedudukan sangat penting dalam Islam. Dalam al-Quran juga mencela ‘taklid buta’. Misalnya mencela orang-orang Arab di masa Nabi yang hanya mau mengikuti pendapat dan tradisi yang diwarisi secara turun temurun dari nenek moyangnya. Bersamaan dengan itu tentu mereka tidak mau menelaah apa yang ada saat itu untuk hal-hal yang baru diketahuinya.

Kasus seorang ibu yang mengenakan kerudung sesukanya, remaja yang lebih mementingkan main gim online, seorang bapak yang senang main gaple dan seorang teman yang mempertanyakan aktivitas saya di luar pekerjaan kantor adalah bagian kecil dari persoalan yang marak di tengah masyarakat kita. Kemalasan berpikir atau menelaah atau mengkritisi dan kepedulian kepada hal-hal di luar kepentingan dirinya sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Sampai pada batas ini, masihkah kita belum juga mau mengerti?

Mengenakan busana muslimah tentu ada aturannya. Tidak bisa sesukanya menurut selera kita. Kadang, kita masih dikalahkan oleh pernyataan dokter yang membuat resep untuk kesembuhan penyakit yang kita derita. Kita begitu yakin bahwa apa yang disampaikan dokter akan menolong kita terbebas dari penyakit. Kita taat kepada aturannya. Namun, mengapa hal yang sama tidak kita terapkan untuk mentaati aturan Allah Swt. yang tentu saja bukan hanya selamat di dunia, tetapi juga di akhirat kelak?

Memilih rileks dengan main gim online atau main gaple bukanlah pilihan tepat. Apakah kita belum juga mau mengerti bahwa waktu terus meninggalkan kita, baik kita yang memanfaataknnya dengan benar maupun yang membuangnya percuma. Waktu tak mau peduli. Kitalah yang harusnya peduli dengan diri kita yang telah banyak membunuh waktu untuk kegiatan yang tak produktif, apalagi yang maksiat. Masihkah kita belum juga mau mengerti?

Belajar dan dakwah adalah bagian dari amal shalih. Dan, cukup bisa dikatakan sebagai orang yang tidak peduli manakala kita lebih mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Waktu yang diberikan kepada setiap orang sama jatahnya: 24 jam sehari. Tidak kurang tidak lebih. Bekerja dan mengurus keluarga memang penting dan wajib. Tetapi mencari ilmu, menambah wawasan, mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya  juga adalah penting dan wajib. Bukankah berbagi tak akan pernah rugi? Masihkah kita belum juga mau mengerti memahami hal ini?

Mengakhiri tulisan sederhana dan singkat ini, saya hanya ingin mengajak kepada sahabat semuanya, bahwa kita dituntut untuk berpikir, menelaah, menganalisis untuk memperbaiki kualitas hidup kita. Ya, agar kita tidak bertahan pada pendapat lama jika terbukti pendapat baru lebih kuat dalilnya, lebih kuat alasannya. Juga, agar mau lapang dada bahwa kita tidak akan bertahan pada pendapat yang sesuai selera kita, yang dengan hal itu kita bukan mencari kebenaran, tetapi meneguhkan pembenaran menurut persepsi kita sendiri. Sebaliknya, kita mulai untuk berpikir dengan benar dan baik, menelaah dan menganalisis setiap pendapat dan perbuatan yang kita jumpai (termasuk yang kita lakukan). Standarnya? Tentu saja aturan/syariat Islam. It’s a simple.

Salam,

O. Solihin

Tags: , ,
Categorised in: ,

No comment for Kita yang belum juga mau mengerti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *