Kita tak sendiri

Tidak ada komentar 762 views

Assalaamu’alaikum wr wb

Sekadar membuka kisah lama. Hari itu ahad, 6 Februari 2005. Saya sampai rumah sekitar pukul 11-an. Lelah juga menempuh perjalanan menggunakan kereta api dari Madiun. Meski berangkat sekitar pukul 19.10 WIB dari Stasiun Madiun, tapi sampai di Stasiun Gambir di Jakarta ternyata molor hingga tiga jam dari jadwal yang tertera di tiket kelas eksekutif itu. Harusnya pukul 5 pagi. Karuan saja membuat saya terpaksa harus kehilangan banyak waktu. Padahal saya harus meneruskan perjalanan ke Bogor menggunakan KRL. Tiga jam bukan sebentar. Apalagi saya sudah merencanakan akan membuat tulisan untuk majalah SOBAT Muda, tempat saya bekerja waktu itu. Maklum, sudah menjelang deadline.

Saya tak bisa mengerjakan tugas penulisan itu di jalan sambil menikmati perjalanan, karena kebetulan waktu itu belum memiliki laptop. Sehingga saya harus menghemat banyak waktu, termasuk memaksakan diri untuk pulang malam itu juga setelah ngisi acara pelatihan jurnalistik di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Tujuannya, agar bisa memanfaatkan waktu sebaik dan seefektif mungkin.

Nah, begitu sampai di rumah, setelah istirahat sejenak, istri saya memberitahu saya, “Nggak usah kaget Kak. Komputernya kemarin ketika akan digunakan tiba-tiba nggak bisa ‘nyala’. Setelah sebelumnya seperti ada yang konslet di CPU-nya,” papar istri saya dengan nada cemas.

Gubrak! Rasanya saya kaget setengah hidup. Panik. Tentu saja. Karena udah kebayang gimana jadinya kalo komputer itu nggak bisa digunakan sama sekali. Padahal, hampir semua file belum saya pindahkan ke flashdisk (memory stick). Buru-buru saya beranjak ke ruang kerja saya, lalu menghidupkan komputer. Nggak bisa. Wah, udah langsung mikir yang nggak-nggak bahwa saya kudu ngungsi ke kantor dengan membawa harddisk itu.

Tapi sebelum pikiran buruk itu berlanjut, tiba-tiba saya ingat teman saya yang memang jagoan soal komputer. Baik software maupun hardware. Walhasil, dengan harap-harap cemas saya menghubungi dia. Ya, saya cemas karena saya khawatir kalo dia sedang di tempat lain, atau sedang ada acara. Maklum, hari libur. Karena pulsa ponsel saya pas sedang ‘sekarat’, maka saya cuma bisa kirim SMS. Setelah agak lama, SMS saya dijawabnya. Alhamdulillah, akhirnya dia bisa dateng ke rumah saya untuk ngecek komputer saya.

Sobat muda muslim, setelah diutak-atik, akhirnya komputer saya divonis power supply-nya jebol. Banyak penyebabnya yang saya sendiri nggak terlalu ngerti dengan penjelasan-penjelasan teman saya itu karena istilahnya terlalu teknis berkaitan dengan dunia komputer dan kelistrikan.

Setelah menjelaskan bahwa saya sedang dikejar deadline, akhirnya ia menawarkan untuk memakai power supply yang dimilikinya. Kebetulan ia memiliki dua, jadi bisa dipake sementara untuk komputer saya. Bahkan sampai beberapa waktu lamanya. Karena saya belum sempat menggantinya, sementara teman saya membebaskan saya untuk mengembalikan kapan saja karena memang barang itu ‘menganggur’ di rumahnya. Terima kasih teman.

Inilah salah satu ‘hikmah’ bahwa kita tak pernah sendiri dalam hidup ini. Selalu ada teman-teman dan orang-orang di sekeliling kita. Selalu ada orang lain yang mengingatkan kita di kala kita lupa. Akan ada orang lain yang selalu memberikan pertolongan di saat kita susah. Banyak orang lain yang akan menemani kita dalam hidup ini. Ya, kita tak pernah sendiri.

Kita bisa berbagi cerita, kita bisa berkumpul bersama, kita bisa saling mengisi hidup ini dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Keluarga dan teman adalah mereka yang dekat sekali dengan kita. Meski kadang dipisahkan jarak, tapi tak membuat kita kehilangan kontak batin. Komunikasi jalan terus dan hubungan itu tetap terjaga.

Ketika kita berada dalam lingkungan yang asing sekali pun, sejatinya tetap kita tak sendiri. Selama kita berada dalam komunitas manusia. Akan selalu ada uluran tangan dari pihak lain, meski kadang kita nggak saling kenal. Pernah ada seorang pengendara motor yang terjatuh ketika ia tak bisa menaikkan motornya karena kehilangan keseimbangan di sebuah tanjakan kecil di area parkir Masjid Raya Bogor. Serta merta orang-orang di sekitarnya segera menolong tanpa perlu menunggu lama. Ya, kita memang tak sendiri.

Suatu hari di lingkungan tempat tinggal saya dihebohkan oleh kabar tentang sebuah kebakaran. Tentu saja saya sendiri kaget, apalagi beberapa tetangga dari kalangan ibu-ibu ngasih tahu sambil diiringi tangisan. Kontan saja, saya segera menghambur keluar. Benar saja. Begitu saya sampe di TKP, sudah banyak warga lain yang berdatangan dan siap memberikan bantuan. Tanpa pikir panjang kami segera membantu memadamkan api yang berkobar di sebagian bangunan rumah itu.

Perhatian dan kepedulian dari orang lain kepada kita, adalah wujud nyata bahwa kita tak sendiri dalam hidup ini. Ketika ada sebagian dari saudara atau teman kita yang kebetulan berbuat maksiat, pasti akan ada sebagain yang lain mengingatkannya. Jangan dipandang sebagai bentuk kebencian ketika ada orang yang menurut kita sepertinya ‘ikut campur’ urusan kita. Anggap saja sebagai bentuk cintanya kepada kita. Sekaligus kian menegaskan bahwa karena kita tak sendiri dalam hidup ini, maka kita juga harus senantiasa interospeksi dengan apa yang telah kita lakukan. Bagaimana pun juga, yang kita lakukan pasti akan menarik perhatian orang lain di sekeliling kita. Mulai dari yang sekadar ingin tahu sampe mereka yang ingin menolong mengingatkan kita.

Dalam hidup ini kita selalu membutuhkan orang lain di sekitar kita. Sekecil apapun kontribusi mereka, adalah sebuah anugerah yang sangat bernilai bagi hidup kita. Bayangkan jika di dunia ini kita hidup masing-masing tanpa mengenal aturan bermasyarakat. Masing-masing individunya cuek semua. Kayaknya seperti tinggal di kota mati deh (atau malah di hutan sendirian?). Mengerikan bukan?

Beruntung sebagai seorang muslim, kita diajarkan oleh Allah Swt. dan RasulNya untuk senantiasa saling mengingatkan dengan saudara yang lain. Firman Allah Swt., “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Jelas, ayat ini mengajarkan kita untuk saling menasihati dengan sesama. Ini menunjukkan bahwa kita tak sendiri dalam hidup ini. Semoga keimanan dan amal sholeh kita dihiasi juga dengan memberikan perhatian berupa nasihat kepada orang lain. Sekali lagi, ini karena kita memang tak sendiri dalam hidup ini.

Salam,
O. Solihin

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kita tak sendiri"