Kesetiaan dan Kepasrahan

Tidak ada komentar 1496 views

Firman Allah Swt.: “Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS al-An’am [6]: 162-163)

Rangkaian kata-kata tersebut sering kita ucapkan langsung kepada Allah dalam setiap sholat kita. sebagai bukti kesetian dan kepasrahan diri kita seutuhnya kepada Allah. Setia dan rela hanya Allah lah Tuhan kita. Dengan begitu kita sudah menyatakan kepatuhan segalanya untuk Allah, sholat, ibadah, hidup, bahkan mati pun hanya untuk Allah semata. Betapa setianya kita setiap kali itu diucapkan dalam sholat. Kesetiaan yang sekaligus perwujudan kepasrahan kepada Allah. Hanya Allah lah yang berhak mengatur kita, hanya Allah lah yang berhak dan wajib disembah dan ditaati segala perintah dan larangan-Nya. Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk taat dan bertaqwa, kita senantiasa dituntut untuk berbuat yang benar dan baik dalam hidup ini. Jangan sampai ucapan kesetian dan kepasrahan kita kepada Allah dalam setiap sholat hanya sebatas lipstick alias penghias bibir saja. Sementara hati kita dan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari bertolak belakang dengan apa yang kita ucapkan dalam sholat. Semua untuk Allah, tapi dalam praktek kehidupan sehari-hari kita malah menantang Allah dengan melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Sholat kita sangatlah khusuk, tetapi kita pun aktif melakukan perbuatan maksiat. Tidak ada munasiban (kesesuaian) antara ucapan dengan perbuatan. Lain ketika sholat, lain pula ketika berbuat. Kontradiktif.

Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS ash-Shaff [61]: 2-3).

Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk menjadi yang terbaik, tentu saja tidak menginginkan kemurkaan Allah atas segala perbuatan yang kita lakukan. Namun pada faktanya, justru sebagian dari kita melakukannya. Memang kita tidak menutup mata dengan kenyataan yang terjadi daat ini, dimana ide fashluddin ‘anil hayah atau memisahkan perkara agama dari peraturan dalam kehidupan bermasyarakat tengah menggejala hebat. Ide yang lahir dari ideologi Kapitalisme yang memang memiliki akidah sekuler ini, telah jadi primadona rujukan masyarakat kita.

Tak bisa dipungkiri bahwa perilaku masyarakat kita yang amburadul adalah akibat mengadopsi nilai-nilai kapitalisme tersebut. Asas manfaat yang dijadikan sebagai tameng dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari kerap menghiasi berbagai kepentingan. Hanya dengan melihat suatu barang atau perbuatan itu bermanfaat, maka ia serta merta menggunakan barang tersebut atau melakukan perbuatan diyakininya mendatangkan manfaat, tanpa melihat halal atau haram barang dan perbuatan tersebut. Cuma karena melihat basahnya bisnis miras dan narkotika, ramai-ramai berusaha menjadi yang terdepan dalam bisnis tersebut. Begitu pun ketika bisnis pelacuran menjadi primadona devisa dengan untung miliaran rupiah, juga serta merta mengkoordinir usaha seks bebas tersebut.

Lalu, kalau begitu diletakkan di mana kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah? Setiap hari, paling tidak lima kali dalam sholat kita ucapkan kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah. Setia dan rela diatur oleh Sang Maha Pencipta. Pasrah dengan apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Kita manut saja. Karena hanya Allah lah yang wajib disembah, wajib ditaati segala perintah dan larangan-Nya, sekaligus mengakui, hanya Allah Ta’ala Pencipta kita.

Kondisi masyarakat yang amburadul seperti ini, adalah tantangan tersendiri bagi kita untuk berusaha menunjukkan arti kesetiaan dan kepasrahan kita kepada Allah. Kesetiaan dan kepasrahan yang sebenar-benarnya. Kita harus berusaha konsisten dengan apa yang kita ucapkan dalam sholat kita, lalu kita praktekkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Seharusnya bisa, karena kadang kala di hadapan manusia kita bisa menunjukkan kesetiaan dan kepasrahan. Kepada atasan, kita bisa setia dan pasrah, supaya atasan kita tidak mengusik posisi kita. Kemudian senantiasa kita memperlihatkan perilaku baik di hadapannya sebagai perwujudan kesetiaan dan kepasrahan yang sungguh-sungguh.

Hanya kepada Allah lah kita mempercayakan hidup kita, hanya kepada Allah lah kita memasrahkan seluruh jiwa kita. Karena sebaik-baik taat adalah kepada Allah dan Rasul-Nya yang tidak dan tidak akan pernah menyuruh berbuat jahat dan kehancuran.

“Barangsiapa ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. (QS an-Nisaa’ [4]: 13)

Salam,

O. Solihin

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kesetiaan dan Kepasrahan"