Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Kekuatan cinta

Kekuatan cinta

(1191 Views) Senin, 31 Oktober 2011 13:06 | Published by | No comment

Dulu saya pernah menganggap bahwa cinta hampir selalu berhubungan dengan kelemahan, kelembutan, dan mungkin sifat melankolis. Seseorang yang jatuh cinta akan memposisikan dirinya sebagai seseorang yang romantis, lembut, menarik perhatian dan sangat menyenangkan. Tidak salah juga sih. Karena faktanya banyak juga yang demikian.

Namun, belakangan setelah banyak bergaul dengan orang dari berbagai kalangan, juga membaca beragam buku, saya menemukan kenyataan bahwa cinta itu luar biasa. Lebih dari sekadar kelembutan dan hubungannya dengan lawan jenis saja. Cinta begitu luas. Bahkan mampu menjangkau begitu banyak aspek. Hingga definisi tentang cinta itu sendiri jadi kian beragam.

Tapi yang jelas, cinta akan menggerakkan seseorang untuk melakukan apa saja demi sesuatu yang dicintainya. Untuk apa? Minimal untuk kesenangannya. Karena kata pepatah juga, “Seseorang yang jatuh cinta, sejatinya adalah karena cintanya kepada dirinya sendiri.” Ia akan mencari sesuatu yang mampu memuaskan rasa dirinya dengan mencintai seseorang atau benda. Bahkan rela untuk berkorban untuk meraih apa yang dicintainya.

Itu sebabnya, saya pernah mendengar ada selebritis kita yang rela mengoleksi pernak-pernik yang berhubungan dengan benda yang dicintainya. Bahkan sampe berburu ke luar negeri segala. Saking cintanya kepada benda-benda itu, ia rela mengeluarkan banyak uang. Seorang anak tetangga saya, bahkan sering tidur bersama kucing kesayangannya. Tentu, kalo bukan karena cintanya, nggak mungkin dong mau berbuat begitu. Ia menjadi orang-orang yang rela berbuat apa saja demi sebuah cinta.

Ketika anak pertama saya lahir, saya dan istri begitu bahagia. Dicarikan nama yang benar, baik, dan pas, karena nama adalah juga doa. Kami jelas menginginkan anak kami jadi orang yang shaleh di kemudian hari. Kecintaan kami terus dipupuk untuk merawat dan mengasuh buah hati kami. Bahkan istri saya paling besar pengorbanannya. Mulai dari mengandungnya, melahirkannya, merawat, dan mengasuhnya. Nyaris mengorbankan seluruh waktu dan tenaganya untuk mencintai anaknya. Seorang ibu memang akan demikian.

Sobat muda muslim, saya menilai bahwa kecintaan kepada benda atau kepada seseorang akan membuat kita rela melakukan apa saja untuk mewujudkannya. Untuk meraihnya dan juga untuk memberikan bukti bahwa kita sudah benar-benar mencintainya. Meski tentunya tingkatan cinta itu akan berbeda-beda pada tiap orang, dan sesuatu yang dicintanya. Ada yang lemah, biasa aja, tapi ada juga yang sangat tinggi. Maka, bukan hanya karena cintanya kepada sesuatu adalah untuk menyenangkan dirinya secara nyata, tapi justru menjadikan dirinya menderita, untuk mengharap kesenangan di suatu hari nanti, di akhirat kelak.

Benar, memang demikian adanya dan seharusnya. Suatu hari ketika saya mengisi acara di Unpad Bandung, teman saya yang juga sama-sama menjadi pembicara di acara itu, memberikan sebuah bacaan berupa majalah ukuran mini. Dan memang tertulis “minimagz” dengan huruf kecil di cover majalah itu. Kebetulan ia mengelola penerbitan “minimagz” itu.

Nah, yang menarik adalah tulisan pengantar di majalah edisi itu. Tentang cinta. Ya, tentang cinta, bahkan dalam tulisan itu dikutip tiga kalimat (entah puisi, entah nyanyian, karena saya kurang begitu paham) dari Lover Concerto, “Aku sedang jatuh cinta. Rasanya sakit sekali. Tapi aku ingin merasakan sakit selamanya.” Wah, bagus sekali bukan? Demi cinta ia rela untuk merasakan sakit selamanya, bahkan semakin sakit, semakin besar cintanya, dan semakin indah rasanya.

Setelah membaca lead tulisan di pengantar minimagz itu, saya langsung nggak sabar ingin membaca isi selanjutnya. Penjelasan tentang cinta. Di situ tertulis, “Mereka, para pejuang kebenaran adalah orang-orang paling romantis. Betapa tidak?! Hidupnya dikelambui cinta, cinta akan kebenaran. Tidak ada yang sanggup menandingi kesediaan mereka dalam berkorban demi cintanya akan kebenaran. Mereka sanggup menahan perih dalam mencinta. Dari telapak tangan mereka mengepul asap dan tercium bau hangus daging terbakar karena mengenggam bara kebenaran. Di dada mereka, mendidih magma cinta yang mengguncangkan sekelilingnya. Hatinya dibakar api rindu, rindu akan berkibarnya kebenaran bagi semesta alam. Dirasuki cinta akan kebenaran. Sakit. Tapi ingin merasakan sakit selamanya. openmind. Semoga dapat menjadi tanda cinta. Amin.”

Ya, begitu pengantar di minimagz bernama “openmind” yang dikelola teman saya itu. Bagus. pelajaran berharga dari bacaan itu mengingatkan kembali saya akan perjuangan para pecinta kebenaran di mana pun. Mereka memang paling romantis dalam hidupnya. Saya ingin menambahkan dan memperjelas bahwa kebenaran itu adalah Islam. Bukan yang lain. Itu sebabnya, para pejuang kebenaran Islam adalah orang-orang yang paling sakit dalam mencinta. Ia rela sakit menggenggam bara kebenaran Islam.

Tidak heran tentunya jika Umar bin Khaththab ra ingin memposisikan dirinya sebagai pejuang dan pembela kebenaran. Beliau pernah menyampaikan, “Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran, aku salah seorang di antaranya. Jika ada 100 orang yang membela kebenaran, aku tetap di antaranya. Jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, akulah orangnya”  Subhanallah.

Sobat muda muslim, membaca kisah perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya dalam menyampaikan dakwah Islam selalu memberikan keyakinan kepada saya, bahwa cinta memang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Kalo bukan karena cinta akan kebenaran Islam ini, mana mungkin Rasulullah dan para sahabat rela berkorban. Ketika saya menyaksikan film “ar-Risalah” besutan sutradara kondang, Musthafa Akkad. Visualisasinya sangat bagus ketika menggambarkan bagaimana perih dan pedihnya perjuangan membela kebenaran yang diperagakan para sahabat Rasulullah saw. Tapi, mereka rela merasakan perih dan pedihnya dalam waktu lama.

Perjuangan selama 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah, bukan perkara gampang. Rasulullah saw. dan para sahabat harus berjibaku mempertahankan kebenaran Islam ini. Mencintainya dengan sepenuh hati. Tak ingin melepaskannya. Mereka, adalah contoh para pecinta kebenaran yang paling romantis dunia. Rela sakit, demi cinta.

Sobat muda muslim, bagaimana dengan kita? Semoga kita menjadi para pecinta sejati dalam kebenaran. Rela merasakan sakit. Bahkan untuk selamanya. Inilah kekuatan cinta.

Salam,

O. Solihin

Tags: , ,
Categorised in: ,

No comment for Kekuatan cinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *