Demi Sebuah Ilmu

Tidak ada komentar 1067 views

Di Bangil suatu siang. Awal April 2005. Cuacanya memang panas. Terasa menyengat ubun-ubun. Tapi alhamdulillah tak membuat niat saya ciut, apalagi malas untuk mendatangi acara. Kebetulan siang itu saya mengisi acara intern temen-temen panitia yang mengundang saya untuk roadshow dalam rangka bedah buku dari salah satu buku yang saya tulis. Rencananya selama tiga hari di Bangil dan Pasuruan.

Saya senang dan sekaligus bahagia bisa berbagi ilmu yang saya miliki, meski saya merasa bahwa ilmu saya masih belum banyak. Tapi karena kewajiban, akhirnya saya memenuhi janji yang telah disepakati, maka berangkat juga ke sebuah tempat yang saya sendiri belum tahu. Dengan sepeda motor yang dikemudikan seorang teman panitia, di tengah siang yang cukup terik, kami berdua menyusuri jalanan berdebu yang bercampur asap kendaraan yang menyesakkan.

Akhirnya, sekitar sepuluh menit kami sampai di sebuah tempat yang dijanjikan. Ternyata itu sebuah mushola. Kami disambut salam dan sapaan hangat teman-teman. Bahagia rasanya bisa bertemu dengan teman-teman, bahkan sebagian dari mereka ada yang biasa komunikasi via SMS dan e-mail saja. Saat itu, kami bisa bertemu langsung. Alhamdulillah.

Belum sempat ngobrol banyak dengan beberapa teman, acara langsung dimulai. Maklum, harus sesuai dengan skedul yang telah ditetapkan sehingga kudu taat kepada jadwal. Selama satu setengah jam saya berbagi ilmu tentang menulis. Ya, itu cuma berbagi pengalaman saja, karena untuk bisa menyerap keterampilan menulis, tentunya butuh waktu dan proses yang nggak singkat.

Hal seperti ini sudah sering dilakukan teman-temen. Sebelumnya di beberapa tempat biasanya saya suka “disandera” untuk sekadar berbagi ilmu menulis. Meski saya sendiri merasa belum ada apa-apanya bila dibanding teman-teman penulis lainnya. Ketika di Banjarmasin, setelah ngisi seminar di sebuah sekolah, sempat pula “diculik” teman-teman panitia dan dibawa ke sebuah tempat untuk diminta bercerita tentang menulis, dan juga bagaimana kiat dakwah via tulisan.

Kejadian serupa saya alami juga ketika diundang seorang teman yang bekerja sebagai penyiar di sebuah radio di Balikpapan. Acara launching radio sekaligus dalam rangka menyambut Ramadhan yang diisi dengan talkshow remaja. Setelah acara selesai, seorang teman yang saya kenal sejak di Bogor dan saat itu bekerja di sebuah perusahaan eksplorasi minyak, mendatangi saya dan meminta kepada panitia untuk “menculik” saya. Ternyata saya juga dibawa ke suatu tempat di mana temen-temen sudah banyak berkumpul di sebuah masjid. Akhirnya, saya pun didaulat untuk menyampaikan pengalaman saya dalam menulis dan berbagi tips-tips praktis dalam menulis, khususnya dakwah via tulisan.

Sobat muda muslim, demi sebuah ilmu teman-teman kita rela “jemput bola”. Nggak perlu nunggu saya menyampaikan. Tapi mereka bahkan meminta sendiri. Terharu juga sih. Karena sejujurnya saya juga masih harus banyak belajar. Cuma mungkin teman-teman saya melihatnya lain karena kebetulan saya sudah sering tertera namanya di beberapa majalah yang sempat saya masuk di dalamnya, juga di buku-buku remaja yang saya tulis. Wallahu’alam. Tapi yang jelas saya merasa ingin terus membagikan ilmu, meski sedikit, kepada siapa saja yang kebetulan membutuhkannya.

Nggak jarang juga saya harus meladeni pertanyaan-pertanyaan dari pembaca yang masuk via e-mail (dan kadang via SMS). Meski cukup lelah, tapi saya berusaha untuk membagikan apa yang saya miliki. Toh saya juga harus merasa malu dengan semangat teman-teman yang demi sebuah ilmu mereka rela untuk “menculik” saya atau mungkin bertanya kepada saya. Jujur saja, antusiasme teman-teman dalam mencari ilmu itu membuat saya juga terdorong untuk semangat berbagi ilmu meski tentunya sesuai dengan tingkat pemahaman saya.

Bahkan ketika di Bangil, ada seorang teman dengan “sepeda ontel” datang ke tempat acara. Awalnya saya pikir biasa. Karena toh banyak juga orang yang menggunakan sepeda di berbagai tempat. Tapi setelah teman panitia yang akan membawa saya ke Sekarjoho, suatu tempat di kawasan Pandaan, saya agak heran.

“Sepedamu naikin aja ke mobil. Capek nanti”

Sebelum saya bertanya karena agak heran, seorang panitia lain menyampaikan bahwa teman kita ini sudah menempuh perjalanan sekitar 13 kilometer dengan sepeda ontel untuk bisa ikut hadir di tempat itu. Deg, jujur saja saya terharu. Demi sebuah ilmu, ia rela menempuh perjalanan yang cukup jauh. Begitu berartikah saya baginya? Subhanallah.

Dalam perjalanan menuju tempat bedah buku di kawasan Pandaan itu, di sela-sela obrolan dengan teman yang membawa saya ke sana, saya sempat berpikir tentang semangat Imam Syafi’i dalam mencari ilmu. Saya juga membayangkan bagaimana getolnya para sahabat Rasulullah saw. dalam mencari ilmu. Lalu membandingkan dengan kaum muslimin saat ini secara umum, termasuk teman-teman remaja, dan juga saya sendiri. Wah, kayaknya jauh banget deh.

Semoga saja, kita bisa lebih semangat lagi dalam mencari ilmu. Seperti nasihat Imam Syafi’i, “Carilah ilmu sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anak perawannya.”. Untuk menyemangati para pemuda dalam mencari ilmu dan ketakwaan, nggak segan juga beliau memberi sindiran, “Seorang pemuda yang tidak memiliki ilmu dan ketakwaan, matinya lebih baik daripada hidupnya.”

Itu sebabnya, rasa-rasanya pantas banget jika kita buka al-Quran lalu membaca firman Allah: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah [58]: 11)

Yuk, mulai dari sekarang kita semangat mencari ilmu. Mumpung masih muda. Karena sejujurnya saya juga masih membutuhkan banyak ilmu. Belajar yuk!

Salam,

O. Solihin

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Demi Sebuah Ilmu"