Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Memoar » Berubah cita-cita

Berubah cita-cita

(1077 Views) Sabtu, 10 September 2011 01:58 | Published by | No comment

Aku dan keempat adikku, di tahun 1985

Ternyata, Aku Jadi Penulis (episode 1)

Sejak kecil (sebelum masuk SD), sebagaimana umumnya anak-anak aku punya cita-cita. Waktu itu ingin jadi dokter. Sebenarnya cita-citaku itu karena ikut-ikutan aja dengan anak yang lain. Kebetulan profesi dokter sering aku lihat dan dengar. Selain itu, karena di kampung, informasi tentang beragam profesi itu sedikit yang aku tahu.

Ketika aku duduk di kelas 4 SD, keinginanku untuk membaca tambah kuat, apalagi ada perpustakaan di sekolah. Meski koleksinya nggak banyak, tapi aku suka bacanya. Setelah aku banyak membaca buku di perpustakaan sekolah dasar, aku jadi tahu tentang banyaknya profesi (dan aku sempet punya cita-cita ingin jadi insinyur!).

[cc_blockquote_left]Setelah aku banyak membaca buku di perpustakaan sekolah dasar, aku jadi tahu tentang banyaknya profesi (dan aku sempet punya cita-cita ingin jadi insinyur!). [/cc_blockquote_left]Terus mengenai kepenulisan, itu muncul ketika aku sering membaca buku dan sobekan koran bekas bungkus cabe, kacang, bawang dan lain-lain kalo ibu abis belanja. Nah, waktu itu aku sempat kepikiran, “Aku senang membaca buku cerita ini dan juga sobekan koran berisi informasi, berarti penulisnya pinter tuh, bisa menjelaskan dengan baik sehingga enak dibaca.” Ini terjadi ketika aku hendak lulus SD tahun 1986.

Keranjinganku dalam membaca membuatku ingin menuliskan apa saja yang ada dalam pikiranku waktu itu sebagai refleksi dari bacaan yang aku ‘lahap’. Maka, sejak SMP aku sering nulis di buku harian. Catatan-catatan harian itu aku tulis (meski nggak setiap hari dan setiap kejadian. Biasanya aku nulis kejadian yang berkesan aja). Puisi juga sering aku tulis. Meski aku nggak pede kalo harus ngasih ke orang lain. Cukup untuk konsumsi pribadi aja. Oya, selain itu, aku juga sering nulis surat. Terutama surat favorit untuk guru, yakni ijin nggak masuk sekolah karena sakit atau ada keperluan lainnya.

Ada kejadian unik waktu SMP, saat aku ingin menulis, yang biasanya malam hari. Aku sering melihat langit malam. Melihat bintang-bintang yang kerlap-kerlip di atas sana. Sempat kepikiran punya cita-cita jadi astronom aja (padahal waktu sebelum masuk SD cita-citaku pengen jadi dokter). Kebetulan aku memang menyukai ilmu alam, khususnya ketika pelajaran tentang sistem tatasurya. Tapi, akhirnya cita-cita itu harus tergerus perlahan ketika orangtuaku memintaku masuk ke sekolah kejuruan analis kimia di Bogor (SMAKBo). Dengan alasan, biar cepet dapet kerja.

Kebiasaan menulis waktu SMP itu memang belum terpikirkan bahwa aku harus menjadi penulis. Boro-boro kepikiran ingin jadi penulis, karena untuk sekadar mulai serius belajar menulis pun aku nggak kepikiran. Jalani apa adanya aja. Sampai ketika masuk sekolah kejuruan kimia di Bogor (1989), baru deh aku merasa lebih terbuka wawasan dalam hal kepenulisan. Kebetulan di sekolah ada majalah sekolah yang terbit bulanan. Meski aku nggak pernah nulis di situ, tapi aku belajar banyak dari para penulis yang juga adalah kakak-kakak kelasku dan beberapa guru dan alumni.

Selain majalah sekolah, ada juga mading. Di situlah aku memberanikan diri mengirim karya berupa puisi. Sering dimuat (mungkin karena kekurangan stok tulisan, jadinya yang kirim pasti dipajang di mading kali yee hihihihi..). Rasanya bangga banget tuh ngelihat tulisanku sendiri ditempel di mading, terus dibaca juga oleh banyak temenku. Aku juga ikut baca. Tapi kalem aja. Karena tulisan itu pake nama samaran (hehehe… takut terkenal. Eit… yang jelas sih, kalo tulisan tsb. dibilang jelek nggak bakalan malu ketahuan siapa penulisnya. Hahahaha…).

Kelas dua aku mulai mengenal Islam lebih dalam karena diperkenalkan dan diajak sama seorang teman untuk ikut pengajian. Meski awalnya aku nolak untuk ikut pengajian dengan cara malas-malasan. Tapi suatu ketika aku penasaran dan mau ikut ngaji. Ternyata, akhirnya aku malah jadi ‘kecanduan’ ikutan pengajian. Waktu terus berjalan. Kebiasaan menulis tetap aku lakukan, dan tetap dengan apa adanya dan sesuai mood-ku.

Itu sebabnya, meski kemudian temen-temen rohis bikin buletin, aku mah tetap aja jadi penikmatnya. Nggak pede kalo harus nulis di buletin itu. Apalagi harus nulis artikel. Ilmunya aja aku nggak banyak meski aku juga ikutan kegiatan di rohis. Cuma ikut wara-wiri dan belajarnya aja. Nggak aktif jadi pengurus teras. Jadi member biasa deh.

Suatu ketika aku berpikir bahwa kemampuan menulisku harus dikembangkan, itu setelah banyak ikutan pengajian dan banyak pula pemahaman dan ilmu yang aku dapatkan. Karena aku merasa bahwa komunikasi yang paling bisa aku lakukan dengan baik adalah melalui tulisan (sekadar “merasa” aja karena memang selama ini terbiasa menulis). Hingga akhirnya, ketika ada kesempatan untuk mempresentasikan pendapat di depan kelas, aku mulai menyusunnya dalam sebuah tulisan. Ternyata efektif juga jika kita menyusunnya dalam tulisan, jadi ketika menyampaikan itu udah terpola dan sistematis. Aku memang tak terlalu sulit mengalirkan kata-kata karena terbiasa menulis di buku harian, cuma bahannya aja yang kurang. Sejak saat itu aku mulai serius untuk menulis.

Setiap ada kesempatan nulis, aku nulis. Biasanya malam hari setelah belajar pelajaran sekolah. Terus dan terus. Aku menulis dengan tulisan tangan. Karena jangankan komputer, mesin tik aja nggak punya. Tulisan tangan yang, alhamdulillah berantakan itu, aku pindahkan ke komputer ketika jadwal praktik komputer di sebuah lembaga kursus komputer yang kebetulan bekerjasama dengan sekolah tempatku belajar. Nulisnya juga pake program WordStar. Hehehe.. kebayang nggak sih gimana lucunya. Udah gitu monitornya monocrhome pula. Tapi, seneng aja sih, karena merasa bahwa aku udah bisa nulis dan akan terus nulis.

Tekadku untuk serius menulis bertambah karena waktu itu bacaan islami buat remaja jarang banget (ini aku tekadkan pada tahun 1991. Waktu kelas 3 di sekolah kejuruan kimia itu). Maka, aku ingin agar ilmu agama yang aku dapetin saat ngaji bisa dituliskan dan disebarkan lagi ke teman-teman. Itu sebabnya, kenapa akhirnya aku memilih menulis tema-tema untuk remaja dan disampaikan dengan gaya remaja. [bersambung…]

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Berubah cita-cita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *