Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » Bebas, Tapi Jangan Bablas

Bebas, Tapi Jangan Bablas

(1012 Views) Selasa, 25 Juni 2013 10:48 | Published by | No comment

islam-vs-sekuler-copy1Begitu banyak orang saat ini setuju dan mengagumi kebebasan dan menerapkannya untuk dirinya dan juga masyarakat serta negara. Bahkan dengan kebebasan yang mutlak. Tanpa aturan yang jelas, tanpa batasan. Sekilas kebebasan tanpa batas adalah ide yang menyelamatkan manusia, mengakomodir perasaan terdalam manusia, tetapi benarkah demikian?

Tidak! Saya berani mengatakan bahwa konsep kebebasan mutlak itu hanyalah ide konyol dari orang yang sinyal pengetahuan dan wawasannya nge-drop banget tentang kehidupan. Maaf lho, bukan nuduh, tapi fakta. Memangnya di dunia ini cuma mereka aja yang hidup? Kalau mereka mengkampanyekan konsep kebebasan mutlak secara terbuka, maka pasti akan berhadapan dengan banyak orang dengan segala konsep dirinya dan pandangan hidupnya. Ini berpotensi kuat terjadi bukan hanya gesekan, tapi juga benturan. Hal yang memang akan sulit dihindari.

Coba deh lihat faktanya, Dewan HAM PBB malah sudah mengesahkan resolusi homoseksual dengan melarang siapapun untuk melakukan diskriminasi terhadap pelaku LGBT alias Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Apakah memang tak dipikirin akibatnya? Padahal, pengesahan resolusi tersebut berpotensi terjadi benturan. Apalagi jika fase berikutnya disahkan pernikahan sesama jenis, siap-siap saja terjadi pergolakan. Bagi yang terwakili aspirasinya akan merasa senang bukan kepalang dan bisa menikmati kebebasan perilakunya karena dilindungi undang-undang HAM. Tetapi jangan lupa, akan banyak orang yang dirugikan atas pengesahan resolusi tersebut karena dinilai melecehkan norma masyarakat, dan terutama agama. Bukan tak mungkin jika pada akhirnya kebebasan mutlak tersebut akan berbuah kekacauan. Kecuali, mereka yang meyakini konsep kebebasan mutlak itu hidupnya di luar planet bumi yang tak ada manusia lainnya. Tapi apa mungkin?

Secara umum manusia memang senang ketika diberikan kebebasan. Saya juga senang. Namun tetap harus diingat dan dipahami, dalam hidup kita juga berhadapan dengan aturan-aturan. Silakan diperhatikan, di rumah ada aturan yang membatasi kita, di lingkungan sekitar juga ada aturan yang membatasi, di tempat kerja jelas ada, di dalam negara sudah pasti memiliki aturan-aturan yang membatasi, dan terutama dalam ajaran agama kita (Islam) sudah ditetapkan aturan dan sanksi. Artinya, konsep kebebasan mutlak hanya ilusi dari orang-orang yang menolak aturan mengikat dirinya.

Oya, setiap orang boleh memiliki rasa cinta dan bebas mengekspresikan rasa cintanya, tetapi bukan berarti bebas tanpa batas dan berpatokan pada hawa nafsunya. Misalnya, Anda tak dilarang untuk memiliki rasa cinta dan jatuh cinta. Tetapi, ada aturan yang diberlakukan dan Anda harus taati. Memiliki rasa cinta dalam pengertian birahi (sebagai penampakan dari naluri melestarikan jenis) yang dibolehkan adalah kepada lawan jenis, bukan kepada sesama jenis. Selain itu, juga cara mengekspresikan cinta ada tatatertibnya. Meskipun yang dicintai adalah lawan jenis (lelaki mencintai wanita), tetapi ada aturannya, yakni melalui pintu pernikahan. Jika diekspresikan melalui pacaran? Itu bukan cara Islam, Bro. Jadi ya tak boleh alias haram.

So, semua ada aturan mainnya. Tak bebas mutlak. Lalu apa yang akan membatasinya? Ajaran Islam. Ya, sebab bagi seorang muslim, ajaran agama atau syariat Islam adalah pedoman dalam berperilaku. Benar atau salahnya disesuaikan dengan aturan yang telah ditetapkan. Allah Swt. befirman (yang artinya): “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS al-Ahzab [33]: 36)

Ayat ini menjelaskan dengan tegas bahwa orang-orang beriman (baik laki maupun perempuan) wajib taat kepada aturan yang ditetapkan Allah Swt. dan RasulNya. Jika nekat membuat aturan sendiri untuk menyelasaikan problem kehidupannya, sembari menganggap aturan Allah Ta’ala dan RasulNya harus ditolak, itu artinya sudah mendurhakai Allah dan RasulNya dan tentu dicap sesat. Ih, naudzubillah min dzalik!

Hmm… cobalah Anda buktikan sekarang. Silakan saksikan, maraknya pacaran telah berpotensi memicu seks bebas. Di masa pubernya, remaja malah diarahkan untuk bebas mengekspresikan rasa cintanya di jalur menuju seks bebas. Padahal, membiarkan bebas tanpa batas adalah jebakan atas kebebasan itu sendiri. Mereka akan merasa tenang menikmatinya dengan tanpa rasa takut dan tanpa perlu khawatir ada yang melarang. Ditambah lagi dengan dalih atas nama HAM, mereka ‘dikipasin’ agar jangan peduli dengan orang-orang yang mempermasalahkan pergaulan bebasnya. Benar-benar sudah terjebak dan dijauhkan dari kebenaran. Menyedihkan!

Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini

No comment for Bebas, Tapi Jangan Bablas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *