#5 Bersama dalam Taat

Tidak ada komentar 18 views

Ketika memutuskan untuk berpoligami, salah satu yang perlu juga dipertimbangkan adalah hubungan anak-anak kita dengan ‘ibu’ baru mereka dan saudara baru mereka. Tak mudah untuk mencairkan dinding es yang mungkin sudah dibangun sejak awal di hati mereka tentang persepsi mereka terhadap kehadiran orang lain. Kehadiran orang baru dalam kehidupan mereka bisa menjadi potensi konflik atau masalah baru. Lebih ruwet bila kehadiran jodoh kedua dari ayah mereka dipandang kurang atau tidak baik oleh anak-anak kita. Pun sebaliknya, anak-anak dari jodoh kedua kita terhadap ‘ibu’ baru mereka dan ‘ayah’ baru mereka.

Saya dan kedua jodoh saya insya Allah memiliki prinsip yang sama dalam mendidik anak-anak. Intinya memang mereka dididik dengan ajaran Islam, sementara seninya (uslub) dalam mendidik mungkin bisa berbeda walau tujuannya sama, yakni mengantarkan kami sekeluarga ke surga-Nya kelak. Nah, karena prinsip ini yang sejak awal dipilih, maka menjadikan kami lebih bersemangat untuk mengupayakan agar kami selalu bersama dalam taat.

Awalnya memang canggung, terutama komunikasi dengan anak-anak yang sudah remaja. Pemanggilan anak-anak dari jodoh kedua saya masih beragam. Ada yang memaggil saya, “Bapak”, ada juga yang “Pak Oleh”. Terdengar lucu juga ketika teman saya suatu saat tahu ihwal anak dari jodoh kedua saya memanggil saya “Pak Oleh”. Saya jelaskan bahwa saya memang bersahabat akrab dengan almarhum ayah mereka. Saat itu saya dipanggil, “Ustaz Oleh”, kadang “Om Oleh”. Sehingga ketika akhirnya bergabung dalam satu keluarga, tak mudah bagi mereka untuk memilih sapaan atau panggilan. Begitu pun bagi anak-anak saya, memanggil ‘ibu’ baru mereka dengan sebutan “Bu Shinta” kadang “Umi Shinta”. Anak-anak dari jodoh kedua saya juga memanggil jodoh pertama saya, “Bu Nur” kadang “Umi Nur”. Begitulah 

Oya, dari jodoh pertama saya memiliki 5 anak (3 laki-laki dan 2 perempuan). Jodoh kedua saya juga memiliki 5 anak (3 laki-laki dan 2 perempuan) dari suami sebelumnya. Digabung jadi rame. Banyak. Usianya juga tak jauh berbeda. Rata-rata hanya selisih setahun pada setiap anak. Tentu, makin variasi juga karakter mereka yang harus saya pelajari dan berusaha untuk menyatukan dalam sebuah tim demi kebersamaan. Bersama dalam taat.

Kuncinya ada pada peran suami dan kedua jodohnya untuk menyatukan anak-anak mereka. Kehadiran ‘warga baru’ dalam kehidupan keluarga mereka akan ikut berpengaruh pada pola komunikasi dan informasi, serta pergaulan di antara anak-anak. Alhamdulillah kami mengupayakan agar anak-anak tetap bisa saling menolong, saling membantu, bekerjasama, apalagi sudah menjadi satu keluarga, keluarga besar. Termasuk sempat menanyai anak-anak kami yang sudah beranjak dewasa, apakah sebelum ini ada di antara mereka yang saling suka (antar lawan jenis). Sebab, ketika ayah dan ibunya menikah, maka hubungan di antara mereka jadi mahram satu sama lain, termasuk dengan ‘ayah’ baru dan ‘ibu’ baru mereka.

Saat menulis sharing ini, anak pertama saya (laki-laki) dan kawan-kawan santri lainnya ikut jodoh kedua saya ke tempat mengajarnya untuk sekalian syuting bagi proyek film mereka. Anak pertama dari jodoh kedua saya (perempuan), ngaji (halaqah) dengan jodoh pertama saya di lingkungan pondok. Saya sendiri ngantor di tempat kerja lainnya (selain di pesantren). Oya, hari Jumat memang jadwal libur KBM bagi santri dan para gurunya di pesantren. Para krucil, alhamdulillah sudah terbiasa juga main bareng di halaman yang cukup luas di lingkungan pondok. Bergabung dengan anak-anak dari warga sekitar. Semoga selamanya bersama dalam taat. Mohon doanya juga dari teman-teman. Meski kami bukan yang terbaik, tetapi semoga bisa menginspirasi siapapun untuk lebih baik lagi. Insya Allah. Sampai jumpa di sharing berikutnya. Semoga bisa terus berbagi inspirasi.[]
#sharingpoligami #diarypoligami #bersamadalamtaat#poligamisyari

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "#5 Bersama dalam Taat"