#4 Meminimalkan Potensi Konflik

Tidak ada komentar 19 views

Konflik dalam kehidupan kita pasti selalu ada. Mustahil dihindari. Hadapi saja bila memang konflik hadir dalam kehidupan kita. Sebab, bukan soal kecil atau besar konflik itu, tetapi yang kita harus lakukan adalah seberapa serius kita mau mengatasi konflik, atau setidaknya meminimalkan konflik tersebut. Beragam potensi konflik dan konflik akan tetap hadir dalam berbagai aspek kehidupan kita sepanjang kita masih hidup. Namun, tetaplah tenang. Jangan panik.

Setiap dari kita yang memutuskan untuk melakukan suatu pilihan pendapat atau perbuatan, setidaknya sudah siap dengan potensi konflik yang kemungkinan akan hadir membersamai kita kelak. Bukankah ada istilah pencegahan dan juga pengobatan? Potensi konflik yang bakal hadir diupayakan dicegah, atau setidaknya diminimalkan potensinya. Begitu pula jika konflik sudah terjadi, maka upaya penyelesaian harus dilakukan.

Oya, bukan hanya dalam keluarga poligami, dalam keluarga monogami pun potensi konflik akan tetap ada. Salah paham, memudarnya kepercayaan dan perhatian, juga berkurangnya tanggung jawab bisa menjadi potensi konflik. Nah, dalam keluarga poligami akan lebih besar lagi tekanan dan gelombang konfliknya. Maka, perlu ada strategi, setidaknya yang dilakukan sebelum memutuskan poligami adalah merinci potensi konflik apa saja yang memungkinan hadir nanti. Setidaknya, bisa meminimalkannya. Lalu, berusaha untuk menghadapinya dengan sejumlah strategi.

Saya mencoba sharing, walau saya menyadari bahwa setiap orang punya kehidupan berbeda, cara pandang berbeda dan pengalaman hidup yang berbeda. Sehingga di sini, saya memang sekadar sharing saja. Semoga ada yang ‘senasib’ dengan saya bisa menjadi inspirasi. Bila pun belum, mungkin sekadar pengetahun saja. Toh, saya menuliskan ini juga adalah untuk bekal pengalaman saya berikutnya. Teorinya saya pelajari, dan prakteknya sedang saya jalani. Sharing saya harapannya bisa mengimbangi arus informasi yang terlanjur negatif tentang poligami. Andai tidak bisa mengimbangi, namun bisa memberikan informasi bahwa ada yang berpoligami dengan cara yang benar dan baik. Insya Allah. Semoga dimudahkan.

Sebelum memutuskan berpoligami, pertimbangkan empat hal ini:

Pertama, suami harus sayang kepada keluarga. Jika tidak, bagaimana bisa menyayangi dua keluarga atau lebih yang akan bertambah nanti. Potensi konflik akan lebih besar jika suami tidak sayang kepada keluarga lalu memutuskan untuk berpoligami.

Kedua, jodoh pertama ridho pada jodoh yang kedua. Ini penting. Keridhoan seperti apa? Ridho jika suaminya menikah lagi dengan jodoh kedua yang memiliki visi sama dalam membangun keluarga. Akan lebih baik jika calon jodoh kedua kita diketahui jodoh pertama kita.

Ketiga, jodoh kedua baik hatinya dan memiliki sifat penyayang. Sebagai ‘pendatang baru’ dalam keluarga suaminya yang telah memiliki jodoh pertama, tentu di awal-awal akan merasa asing. Namun, dengan niat yang ikhlas disertai baik hati dan penyayang, insya Allah akan bisa sinergi dengan jodoh pertama suaminya.

Keempat, perlu digaris bawahi (bila perlu di-bold), bahwa semua pihak ingin bertambah shalih dan shalihah. Suami ingin tambah shalih, jodoh pertama dan kedua niatnya juga ingin tambah shalihah. Semuanya ingin memperbanyak amalan-amalan kebaikan yang begitu banyak urusannya dalam keluarga poligami. Sebab, kalau tidak bertambah shalih dan shalihah dan lebih banyak amal shalihnya, lantas apa gunanya?

Insya Allah, empat hal itu yang kami sepakati. Baik saya maupun jodoh pertama saya dan jodoh kedua saya sudah saling kenal dalam waktu cukup lama. Sebab, suami pertama jodoh kedua saya adalah sahabat saya. Beliau meninggal dunia pada 2013. Saya menikahi jodoh kedua saya pada 2016, saat itu sudah ada lima anak dari pernikahan sebelumnya. Saya juga sudah punya lima anak dari pernikahan dengan jodoh pertama saya. Sebenarnya bukan hanya kedekatan secara psikologis dan kebersamaan dalam sebuah komunitas dakwah yang merekatkan jodoh pertama saya dengan jodoh kedua saya, tetapi visi islami yang sama untuk membangun “samara” dalam keluarga poligami ini ikut andil pula.

Alhamdulillah, meski potensi konflik (pasti) tetap ada, namun kami berusaha untuk meminimalkan dan bila sudah terjadi konflik tentu akan menyelesaikannya dengan benar dan baik sesuai tuntunan syariat sembari memohon pertolongan Allah Ta’ala agar memudahkan segala urusan kami dan memberkahi kehidupan kami.

Ya, intinya sih, tidak asal memutuskan, tetapi pikirkan lebih matang. Memutuskan untuk menikah pertama kali saja kita perlu mempertimbangkan banyak hal, apalagi untuk menikah yang kedua kalinya. Butuh strategi yang dilandasi iman dan ilmu serta senantiasa tawakal kepada Allah Ta’ala.

Sekadar sharing, insya Allah dilanjut pada edisi berikutnya.

#sharingpoligami #diarypoligami #inspirasi #konflikdalampoligami

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "#4 Meminimalkan Potensi Konflik"