#3 Sepertinya Terbagi, Padahal Berlipat Ganda

Sekadar catatan kecil saja. Meneruskan tulisan sebelumnya. Di bagian #3 ini saya ingin memperjelas bahwa sebenarnya ‘berbagi’ cinta pada edisi #2 bermakna bukan dibagi-bagi seperti dalam hitungan matematika dengan logika kita sebagai manusia. Faktanya seperti “dibagikan”, namun hakikatnya bertambah, bahkan berlipat ganda. Harta yang kita sedekahkan, secara fakta berkurang. Namun, yakinlah bahwa ada yang berlipat ganda dari pahalanya, yakni berupa keberkahan. Insya Allah.

Nah, cinta juga sebenarnya tidak dibagi-bagi, tetapi kian bertambah. Jika ukuran maksimal persentase adalah 100%, maka bila dihitung berdasarkan matematika akan berkurang seiring dengan banyaknya yang dibagi. Padahal, ketika kita mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bukan berarti menjadi seperti hitungan matematika: masing-masing 50 persen atau salah satu lebih besar persentasenya. Tidak demikian. Tetapi cinta kepada Allah Ta’ala tumbuh terus seiring dengan keimanan kita, mungkin saja jadi tak berhingga. Dalam waktu yang bersamaan, cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga akan terus tumbuh lebih banyak memenuhi ruang hati kita dengan bilangan yang tak terhingga pula.

Maka, ketika kita juga mencintai orangtua, istri, anak-anak, saudara kandung, dan kaum muslimin, semua cinta sesuai peruntukannya akan sama-sama tumbuh. Ini sulit diukur dengan bilangan matematika seperti yang kita pahami selama ini. Sebab, ini hanya bisa diukur dengan keimanan kita kepada Sang Pemilik Cinta, sambil berharap agar hati kita dipenuhi dengan bilangan cinta-Nya yang tak terbatas, biar rasa kita pada-Nya tetap utuh.

Ketika saya memutuskan poligami, bukan sedang membagi cinta, tetapi justru menumbuhkan cinta baru. Cinta pada jodoh yang pertama tak akan berkurang, begitu pula pada jodoh yang kedua tumbuh tanpa mengurangi cinta kepada yang lainnya. Sama halnya ketika saya memiliki anak pertama, cinta kepada istri tidak berkurang hanya karena ada anak. Justru adanya anak, memunculkan cinta baru yang sama-sama terus bertumbuh. Ketika ada anak berikutnya dan seterusnya, tumbuh lagi cinta baru bagi masing-masing anak. Hakikatnya memang begitu. Bukan seperti anggapan banyak orang dengan menggunakan hitungan matematika bahwa cinta yang kita miliki akan terus dibagi. Sehingga akan muncul kekhawatiran tidak mampu memberi cinta sepenuhnya kepada masing-masing yang kita cintai. Jika demikian, mungkin saja akan ada istilah rugi, tekor, atau bangkrut. Padahal hakikatnya tidak demikian.

Jadi, mempraktekkan poligami bukan sedang berbagi cinta, tetapi sedang menumbuhkan cinta baru untuk semua orang yang terlibat di dalamnya. Tetapi memang ada yang terbagi, yakni perhatian. Namun demikian, selama bisa sama-sama diperhatikan walau harus menunggu antrian, tidak menjadi persoalan besar. Sama seperti ketika perhatian kita terbagi pada pekerjaan, dakwah, dan urusan rumah tangga. Sebab, tidak mungkin semuanya kita perhatikan dalam waktu yang bersamaan. Pasti ada gilirannya untuk diperhatikan, bukan? Kesabaran dalam memberi dan menunggu perhatian menjadi mutlak diperlukan. Ini juga berlaku pada pernikahan monogami.

Harta yang disedekahkan dengan tujuan menggapai ridho Allah, insya Allah akan berkah dan berlipat ganda pahalanya walau secara fisik tampaknya harta kita berkurang. Semoga kehidupan kita pun jika kita yakin dan berharap hanya kepada Allah Ta’ala dalam menjalaninya, insya Allah keberkahan akan kita rasakan. Maka, insya Allah, semoga saya dan keluarga dan siapapun yang memutuskan poligami, bisa bertambah berkah. Bukan sebaliknya. Sebab, dalam pernikahan monogami pun, sejatinya kita berharap keberkahan dari pernikahan kita. Bukan sebaliknya.

Insya Allah sharing seputar praktek poligami akan dilanjut di edisi berikutnya.

#sharingpoligami #praktekpoligami #berkahpoligami#berbagiinspirasi #diarypoligami

 

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "#3 Sepertinya Terbagi, Padahal Berlipat Ganda"