#2 ‘Berbagi’ Cinta, Berbagi Banyak Hal

Tidak ada komentar 43 views

Jodoh sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala. Ada yang ditakdirkan mendapatkan jodoh segera, ada yang ditunda sekian lama, bahkan ada yang tak berjodoh hingga meninggal dunia. Selain itu, ada yang mendapatkan jodoh lebih dari satu, ada yang hanya cukup satu jodoh untuknya. Semua sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala, yang kemudian di antara kita ada yang menyebutnya takdir.

Sama seperti rezeki, ada yang Allah Ta’ala luaskan dan ada yang disempitkan. Keduanya ada konsekuensi bernama ujian. Harus bisa tetap bersyukur dan bersabar dalam segala kondisi, susah maupun senang. Jodoh juga demikian, ada ujiannya. Bersyukur dan bersabar menjadi penting dimiliki.

Sejak memiliki dua jodoh lebih dari setahun lalu, saya merasa harus lebih bersyukur dan bersabar. Tak semua orang diberi kesempatan ‘berbagi’ cinta dan banyak hal dalam ikatan pernikahan poligami. Saya pernah ngobrol tentang takdir poligami dengan seorang kawan yang juga menjadi pimpinan saya di sebuah lembaga.

Kawan saya ini mengatakan, “Ada suami yg meminta izin ke istri pertamanya untuk poligami tapi istrinya tidak mengizinkan. Ada juga istri yang meminta suaminya nikah lagi, tapi suaminya tidak mau. Nah, Kang Oleh ini istrinya menawarkan agar Kang Oleh menikah lagi dan bahkan dicarikan calonnya, Kang Oleh mau.”

Allah Ta’ala memang memberikan karunia kepada hamba-Nya yang dikehendaki dan Allah Ta’ala juga memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Maka, jika ada orang yang diberi rezeki lebih banyak dari kita, tak perlu iri dan dengki, apalagi kemudian menyalahkan Allah Ta’ala dengan anggapan pilih kasih. Subhanallah. Maha Suci Allah dari hal yang sedemikian.

Mencintai dua wanita sekaligus, awalnya merepotkan, bagi saya. Sebab bukan hanya ‘membagi’ cinta saja, tetapi membagi nafkah, tanggung jawab, waktu, tenaga, pikiran, perhatian, kepercayaan, kasih sayang, kepedulian dan banyak hal lainnya, termasuk masalah 

Tapi lazimnya berkeluarga, dalam pernikahan monogami saja selalu ada masalah yang harus diselesaikan. Cuma dalam poligami, ketika ada masalah, effort untuk menyelesaikannya jauh lebih besar. Tapi ya, jalani saja. Toh, ibarat pedagang kelas menengah dengan pengusaha papan atas juga sama-sama punya masalah, walau berbeda jenis masalah dan cara menyelesaikannya. Tapi yang terpenting konsistensi dalam menjalankan bisnis tersebut tetap menyala.

Kami juga punya cara berkomunikasi dan menyelesaikan masalah di antara kami. Nah, karena di antara kami juga punya beragam kegiatan di luar yang berbeda, maka untuk tetap terhubung satu sama lain, saya membuat grup di WhatsApp. Isinya ya cuma saya dan kedua jodoh saya. Tempat berkomunikasi di antara kami tentang banyak hal yang bila itu kaitannya dgn anak-anak, urusan santri, urusan dakwah, keluarga besar, dan banyak hal lainnya yang bersifat umum. Sementara untuk urusan pribadi dengan kedua jodoh saya, tentu saja melalui jalur pribadi masing-masing. Oya, komunikasi langsung tatap muka tentu lebih sering 

Jadi sebenarnya, tak ada yang mutlak sulit sehingga tdk bisa berubah jadi mudah. Ada prosesnya, awalnya sulit tapi karena berupaya menyelesaikan dengan benar dan baik sambil berharap pertolongan Allah Ta’ala, insya Allah jadi mudah.

Maka saya agak heran, mengapa ada orang yang membenci poligami dan pelakunya dicaci-maki. Padahal itu kebaikan. Ada saja kan orang yang membenci Ustaz Arifin Ilham yang baru-baru ini menikah lagi dengan wanita yang insya Allah shalihah dan menjadi istri ketiga beliau? Itu hak beliau. Kita tdk perlu iri apalagi dengki.

Tapi…ya sudahlah.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "#2 ‘Berbagi’ Cinta, Berbagi Banyak Hal"