#10 Di Sini Ada, di Sana Ada

Tidak ada komentar 672 views

[diary poligami]

Seorang teman pernah bertanya, “Pak Oleh, pakaiannya ada di dua tempat dong ya?” Ya, ada di dua tempat, saya menjawab singkat. Entah sekadar iseng bertanya atau memang bagi teman saya tersebut belum terbayang seperti apa kehidupan keluarga poligami. Kebetulan teman yang bertanya masih bujangan. Hehehe…

Peci saya ada dua. Satu disimpan di jodoh pertama, dan satu lagi di jodoh kedua. Bentuknya hampir sama, warnanya sama, hanya motifnya yang berbeda. Bagi santri atau guru di pondok yang sering memperhatikan, mungkin akan tahu bahwa peci yang saya kenakan menunjukkan di mana saya bermalam pada saat itu. Alhamdulillah peci saya belum pernah tertinggal di saung yang ada di kebun pesantren, misalnya. Sehingga orang menyangka bahwa saya malam itu menginap di saung. Opps…

Pakaian berupa baju, celana, atau sarung sih, biasanya bergiliran posisinya. Kadang ada di jodoh pertama, kadang ada di jodoh kedua. Tidak bisa diprediksi saya sedang ada di mana ketika mengenakan pakaian tertentu, seperti halnya pada peci. Eh, kadang peci juga suka tertukar atau tertinggal di salah satu jodoh saya, sih. Beberapa kali pernah. Cuma ya, tidak begitu prinsip sih, karena jadwal bermalam sudah ditetapkan dan disepakati. Oya, khusus untuk baju seragam kerja, ketika berada di jodoh pertama namun ternyata pagi itu harus pakai baju seragam, sementara bajunya ada di jodoh kedua, maka biasanya ya saya ambil. Jika tak sempat, ada jasa kurir dari salah satu krucils kami. Tinggal telepon ibunya, sampaikan model baju seragamnya, lalu kirim. Hehehe…

Lain lagi jika peralatan mandi. Ini sih spesial alias khusus. Ada di kedua jodoh saya tanpa berpindah-pindah tempat. Posisi Si Biru dan Si Melayu juga tidak berubah tempat. Tetap di situ. Si Biru diparkir di tempat jodoh pertama, dan Si Melayu diparkir di jodoh kedua. Oya, cerita Si Biru dan Si Melayu ada di sharing ke-6. Silakan dibaca bagi yang belum pernah baca kisahnya. Laptop dan ponsel sih ikut ke mana saya pergi dan bermalam. Sebab, benda ini tak bisa disimpan terpisah dari jangkauan saya. Tetap dibawa-bawa tersebab pekerjaan dan keperluan komunikasi saya memang di dua benda tersebut.

Oya, soal makanan. Biasanya ini yang sering membuat saya lupa jika sudah makan. Bagaimana tidak, saat di jodoh pertama, saya makan. Ketika mampir di jodoh kedua, eh ada makanan juga, sayang jika tidak dimakan. Walhasil, makanan ada di sana dan ada di sini yang membuat saya selalu tergoda untuk menyantapnya kalo nggak inget berat badan. Nah, cerita tentang bagaimana saya membagi waktu giliran di kedua jodoh saya, sudah ada di sharing yang pertama. Silakan dibaca bagi yang belum baca.

Selain itu, bagi saya yang tak kalah penting adalah buku. Buku-buku saya disimpan di dua tempat. Sebagian besar masih ada di jodoh pertama saya. Sebagian kecil ada di jodoh kedua saya. Tidak sama banyak jumlahnya. Tetapi intinya, ada buku yang disimpan di jodoh pertama, ada juga yang disimpan di jodoh kedua. Sewaktu-waktu bisa diambil bila perlu. Tetapi default-nya beberapa buku ada yang khusus disimpan di jodoh pertama dan ada yang khusus di jodoh kedua.

Ini memang teknis sekali. Tetapi jika tidak ada kesepakatan dengan kedua jodoh saya, tetap akan berpotensi ribet ngelolanya. Alhamdulillah sejauh ini tak begitu menghambat, bahkan sebaliknya memudahkan saya. Jika pun ada ribet-ribet dikit wajar lah, insya Allah bisa diatasi.

Eh, ini bukan dalam rangka ngomporin ya, tetapi sedang memberi edukasi walau secuil dari pengalaman kami. Dan, tentu saja, pengalaman setiap orang belum tentu bisa diterapkan pada semua orang atau pada orang tertentu. Begitu pun dengan pengalaman kami. Ini sekadar memberi gambaran, bahwa faktanya poligami itu realistis dijalankan dalam praktek kehidupan Islam. Poligami itu bisa adem, ayem dan tentrem jika dijalani dengan mengharap keridhoan Allah Ta’ala dan dilandasi dengan ilmu. Tidak semenakutkan seperti dalam gambaran kehidupan sekarang.

Sharing ini semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang berminat untuk menjadikan poligami sebagai solusi. Bagi yang tidak, cukup sekadar tahu saja dan menjadi tambahan informasi positif seputar poligami. Mohon doanya agar kami tetap bisa menjalaninya dengan benar dan baik sesuai tuntunan ajaran Islam. Sampai jumpa pada sharing berikutnya.

#sharingpoligami #diarypoligami #inspirasipoligami #giliranwaktudantempat#jejakkebaikan

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "#10 Di Sini Ada, di Sana Ada"