• writing-articles
    Selasa, 26 November 2013

    Belajar Menulis dengan Menulis

    Banyak di antara murid saya yang merasa sudah kalah sebelum belajar dengan benar. Bahkan ada di antara mereka yang menjadikan rasa malas sebagai penye...
  • writing-diary
    Senin, 17 Juni 2013

    “Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?...

    Saya sering mendapat pertanyaan dari peserta workshop menulis atau siapapun yang kebetulan bertemu saya dan berbicara seputar menulis: “Bagaimana ca...
  • writing
    Senin, 29 April 2013

    Menulis Itu Menyenangkan

    Michael Crichton, penulis novel “Jurassic Park” memberikan motivasi tentang menulis dengan kalimat-kalimat ini: “Sebuah karya akan memicu inspir...
  • bukusaft10
    Sabtu, 26 November 2011

    Alirkan Saja Idemu!

    Ya, alirkan saja idemu dalam tulisan. Jangan berpikir tentang tulisan yang jelek atau bagus. Karena pikiran tersebut akan menghambat dan mengganggu pr...
Next
  • writing-articles
  • writing-diary
  • writing
  • bukusaft10
Previous

TEMPO, MUI, dan Label Halal

Butcher-selling-halal-mea-006Seperti biasa, setiap Senin saya selalu mengunjungi laman Majalah TEMPO. Berbekal akses masuk ke laman tersebut yang saya dapatkan dari seorang kenalan ‘orang dalam’ TEMPO, saya bisa ‘menguras’ isi majalah tersebut dalam versi digital. Sebenarnya tak begitu aneh dengan gaya Majalah TEMPO yang selalu menyerang Islam dalam beberapa terbitannya. Kali ini, majalah yang tak bisa dilepaskan dari pengaruh seorang tokoh liberal bernama Gunawan Mohamad menurunkan berita dengan headline: “Astaga! Label Halal” pada Senin, 24 Februari 2014. Saya penasaran, maka mulailah melahap edisi online-nya. Bahkan saya meng-copy artikel-artikel di laporan utama tersebut ke dalam format software pengolah kata.

Membaca laporan Majalah TEMPO edisi 24 Februari 2014 tersebut saya mendapat kesan bahwa label halal itu memiliki peluang untuk disalahgunakan. Namun, berita yang diturunkan TEMPO bernada melecehkan MUI sebagai satu-satunya lembaga yang mengurus sertifikat halal bagi produk-produk yang dikonsumsi kaum muslimin. TEMPO menuding ada oknum MUI yang menerima sejumlah uang dalam proses labelisasi halal di beberapa negara (khususnya di Australia dan beberapa negara di Eropa). Menyimak berita-berita dari media massa lainnya, malah mengarah kepada bagi-bagi jatah kepada lembaga lain dalam memberikan label halal agar tak dimonopoli MUI. Makin runyam. Selanjutnya… →


Mengapa Golput ‘Diharamkan’?

golputIni masalah yang sensitif bagi sebagian orang. Pro-kontra pasti selalu ada. Padahal, fenomena ini merupakan hal biasa. Mengapa biasa? Karena sebenarnya golput (golongan putih) adalah pilihan juga, cuma labelnya ‘memilih untuk tidak memilih’. Istilah golput di Indonesia disematkan kepada warga masyarakat yang tak ikut andil dalam proses atau mekanisme yang diatur sistem demokrasi dalam pemilu, yakni mengumpulkan suara sebagai bentuk nyata sebuah dukungan terhadap orang yang dipilih untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Mereka yang memilih untuk golput berarti tak menggunakan hak pilihnya. Ingat, hak. Bukan kewajiban.

Saya berharap Anda tak langsung curiga atau mencibir mereka yang memilih golput atau tak langsung naik darah dengan tulisan saya yang judulnya bernada mempertanyakan. Sebab., bagaimana pun juga hal ini adalah sebuah realita yang tak bisa begitu saja dipandang enteng atau juga dianggap masalah berat. Mungkin saja bagi yang berkepentingan dengan pengumpulan jumlah suara agar pemilu berjalan normal, maka golput adalah ancaman serius. Walau sebenarnya bisa jadi mereka gagal bukan karena andil yang golput, tetapi memang masyarakat tak memberikan suara untuknya. Selanjutnya… →


Malas Bisa Membunuh Kreativitas

010811-AJB-BISNIS-01-TIDURMengapa malas bisa membunuh kreativitas? Sebab, sifat malas adalah level tertentu dari ketidakberdayaan seseorang dalam melakukan aktivitas. Seseorang yang kreatif biasanya akan aktif dalam berpikir dan berbuat. Maka, ketika malas mendera dirinya, otomatis aktivitasnya berhenti, dan kreativitasnya ‘terbunuh’.

Malas ini membahayakan banyak hal. Ketika kita malas beribadah, maka kesempatan mengais amal shalih berkurang atau terhambat, bahkan lenyap. Padahal, ketika seseorang yang semangat dalam beribadah maka biasanya dia akan menjadi orang yang tamak dalam beramal shalih. Tak akan dilewatkan sedikitpun kesempatan yang didapat. Jika kebetulan hanya bisa melakukan shalat tahajud dua rakaat, maka ia pun akan melakukannya dengan senang hati meskipun jarak ke shalat Subuh tersisa 20 menit lagi. Dia akan giat memanfaatkan waktu yang bisa didapatkannya. Tetapi bagi mereka yang malas, waktu yang tersisa itu akan sekalian saja dihabiskan untuk melanjutkan tidur dengan alasan waktu untuk shalat sunnah tahajud sudah mepet ke waktu Subuh. Ah, dasar malas! Akhirnya tak mendapatkan pahala shalat tahajud di sisa waktu tersebut. Selanjutnya… →


Ustaz “Sumbu Pendek”

hariringamuk1Kemarin malam (Rabu, 12/02/2014) saat saya sedang anteng menunggu murid saya belajar di kelas menulis online, saya mengamati linimasa (timeline) Twitter. Mata saya tertuju pada satu tweet yang dikirim seorang kenalan saya. Isinya membuat saya penasaran. Kicauannya: “ini orang mabuk ceramah”. Waduh, saya penasaran. Tanpa ba-bi-bu langsung saya klik link video yang disertakan dalam tweet kenalan saya itu. Browser Mozilla Firefox versi 27.0 di laptop saya membawa ke halaman Youtube yang menayangkan seorang (berpakaian jubah di atas panggung) sedang berhadapan dengan seorang pria berjaket hitam (di bawah panggung). Dalam video yang diberi judul: Ustad Hariri Ngamuk Kepala Operator Sound Diinjak dengan Lutut”. Wow, pilihan judul yang membuat penasaran. Di video tersebut juga ‘kebanjiran’ lebih dari 5000 komentar. Beragam komentarnya, tetapi rata-rata menghujat sang ustaz. Selanjutnya… →


Jalan Berlubang dan Tanggung Jawab Pemimpin

IMG_20140211_082345Sejak Desember 2013 lalu, hingga hari kemarin (Senin 10 Februari 2014) di Bogor masih sering turun hujan. Adakalanya hanya gerimis, sisanya deras. Durasinya ada yang lama, ada pula yang sebentar. Air yang melimpah ini adakalanya berbuah musibah, di antaranya terjadi banjir atau jalanan yang rusak dan berlubang karena selain digerus air juga karena dilewati berbagai kendaraan. Di jalanan besar malah jumlah jalan yang rusak dan berlubang juga banyak karena kendaraan yang melewatinya ada juga yang ukurannya jumbo. Saya kadang ngeri, ketika macet lalu membayangkan bersebelahan dengan truk yang ukuran bannya saja melebihi tinggi sepeda motor.
Setidaknya sepekan tiga kali saya melakukan perjalanan PP dari Bogor ke Sawangan, Depok. Jalan Raya Parung itu kini banyak jalannya yang berlubang. Memasuki jalan alternatif lintasan Arco hingga Pengasinan, sudah tak terhitung lagi jumlahnya (karena saking banyaknya tak sempat dihitung sebetulnya hehehe…). Waktu tempuh dalam kondisi jalan normal (tak banyak lubang), paling cepat pernah memecahkan rekor 35 menit. Tetapi saat ini, paling cepat di kisaran 50 menit hingga 60 menit. Jarak tempuh dari rumah ke tempat mengajar itu sekitar 23 kilo meter. Selanjutnya… →

Tetap Nge-BLOG, Terus Nulis, Senantiasa Berdakwah

blogwp-os

Saya juga nge-blog di sini (www.osolihin.wordpress.com) | Isinya hampir sama dengan blog saya yang ini, namun blog yang www.osolihin.net lebih spesifik pada tulisan-tulisan saya sendiri. Berbeda dengan yang di wordpress, isinya bukan hanya tulisan saya.

Waduh, ini kesannya heroik banget ya? Nge-blog, nulis, dan berdakwah. Semoga saja niatnya memang demikian. Hehehe…(insya Allah). Blog, bagi saya adalah sarana di dunia maya untuk mengekspresikan pikiran dan pendapat kita (baik tertulis maupun dalam bentuk suara, gambar, foto, dan juga video). Blog adalah media online mirip catatan harian kita untuk menampilkan apa yang kita rasakan dan ingin kita tuangkan agar bisa dibaca oleh orang lain dan mereka bisa mengambil manfaat dari apa yang kita sampaikan. Ya, manfaat. Sebab, jika mafsadat atau kerusakan, ya percuma kita berbagi. Cuma bikin dosa dan memperbanyaknya saja karena disebarkan kepada khalayak.

Selain blog, sekarang sudah ada jejaring sosial semisal Facebook dan Twitter. Itu juga semacam catatan harian kita. Ditulis setiap kali kita ingin menyampaikan informasi, opini, perasaan hati, termasuk ada yang lupa diri dengan menjadikannya sebagai sarana menyebar fitnah, berbohong dan melawan orang-orang yang berbuat baik. Itu semua dikembalikan kepada penggunanya. Mau berbuat apa dengan sarana yang sudah disediakan itu. Apakah untuk kebaikan, atau ingin mengembang-biakkan keburukan. Tentu saja ada konsekuensinya atas pilihan-pilihan tersebut. Selanjutnya… →